Iklan Dalam Etika dan Estetika

ETIKA BISNIS

Iklan Dalam Etika dan Estetika

Wanto

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

Wanto.wanti93@yahoo.com

ABSTRAK

Dalam dunia promosi produk untuk pasaran atau lebih spesifiknya yaitu mengiklankan produk harus mengaplikasikan etika dalam masyarakat guna menjaga kelangsungan bisnis agar tidak menjadi senjata makan tuan suatu hari nanti jika ada pesaing yang menggunakan slogan kata – kata dari iklan yang diterbitkan. Pengiklan harus melihat betul – betul karakteristik masyarakat luas dan juga melihat pesaing sekarang dan yang akan datang.  Untuk menghadapi semua itu pengiklan haruslah mengikuti apa yang ada di masyarakat.

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas. (K. Bertens:297)

Kata Kunci: Iklan dalam etika dan estetika

PENDAHULUAN

Periklanan atau reklame adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis modern. Kenyataan ini berkaitan erat dengan cara berproduksi industri modern yang menghasilkan produk – produk dalam kuantitas besar, sehingga harus mencari pembeli. Dan pasti ada kaitannya juga dengan sistem ekonomi pasar, di mana kompetisi dan persaingan merupakan unsur hakiki. Iklan justru dianggap cara ampuh untuk menonjol dalam persaingan. Dalam ekonomi subsistensi agraris dulu dan juga dalam ekonomi berencana komunistis dari abad ke-20 tidak dirasakan kebutuhan akan periklanan besar-besaran, walaupun dalam sistem ekonomi apa pun diperlukan metode untuk memperkenalkan produknya, sekurang – kurangnya memberitahukan tersedia tidaknya produk – produk. Dengan meningkatnya keramaian ekonomis, cakupan dan intensitas periklanan akan bertambah pula dan sebaliknya dalam keadaan resesi ekonomi kegiatan reklame akan berkurang. Dalam perkembangan periklanan, media komunikasi modern – media cetak maupun elektronis, tapi khususnya televisi – memegang peran dominan. Fenomenan periklanan ini menimbulkan berbagai masalah yang berbeda. Mungkin tidak ada kegiatan bisnis lain yang berhadapan dengan begitu banyak keritik dan tanda tanya seperti periklanan.

( K. Bertens:285)

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas. (K. Bertens:297)

LANDASAN TEORI

Fungsi Periklanan

Jika kita melihat sepintas dalam buku – buku tentang manajemen periklanan. Maka iklan dipandang di situ sebagai upaya komunikasi. Iklan dilukiskan sebagai komunikasi anatara produsen dengan pasaran, antara penjual dan calon pembeli. Dalam proses komunikasi itu iklan menyampaikan sebuah “pesan”. Dengan demikian kita mendapat kesan bahwa periklanan terutama bermaksud memberi informasi. Seolah – olah tujuannya yang terpenting adalah memperkenalkan sebuah produk atau jasa. Tetapi seluruh konteks buku – buku ini menunjukan bahwa proses komunikasi itu diadakan dalam rangka promosi. Dan kalau kita baca terus, akan kita lihat bahwa buku – buku manajemen periklanan itu secara eksplisit berbicara tentang usaha “mempengaruhi tingkah laku para konsumen” atau tema sejenis. Ternyata iklan diharapkan efektif,  sehingga produk atau jasa laris dipasaran. (K. Bertens:286)

Periklanan dan kebenaran

Pada umumnya periklanan tidak mempunyai reputasi baik sebagai pelindung atau pejuangan kebenaran. Sebaliknya, kerap kali iklan terkesan suka membohongi, menyesatkan, dan bahkan menipu publik. Periklanan hampir apriori disamakan sengan tidak bisa dipercaya. Tentu saja pembohongan, penyesatan, dan penipuan merupakan perbuatan yang – sekurang – kurangnya prima price – tidak etis. Karena itu dalam pembahsan moral ini harus kita selidiki secara khusus hubungan periklanan dengan kebenaran. Kita mulai dengan menyoroti masalah pembohongan. Apa itu pembohongan ? Belum diberi definisi lengkap, jika dikatakan pembohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar. (K. Bertens:287)

Manipulasi dengan Periklanna

Masalah kebenaran terutama berkaitan dengan segi informatif dari iklan (tapi tidak secara eksklusif), sedangkan masalah manipulasi terutama berkaitan dengan segi persuatif dari iklan (tapi tidak terlepas juga dari segi informatifnya). Dengan “manipulasi” kita maksudkan: mempengaruhi kemauan orang lain sedemikian rupa, sehingga ia menghendaki atau menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak dipilih oleh orang itu sendiri. Karena dimanipulasi, seseorang mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dirinya sendiri, tapi “ditanamkan” dalam dirinya dari luar. Contoh yang lebih jelas adalah hipnotis tanpa izin dari objek yang bersangkutan. Hipnotis adalah tindakan seseorang yang memasukan orang lain dalam keadaan setengah tidur atau setengah sadar, dimana orang itu merasakan atau melakukan hal – hal yang tidak dirasakannya atau dilakukannya dalam keadaan biasa.

Sekitar tahun 1950-an bahaya terjadinya manipulasi melalui propaganda politik dan ideologis menjadi momok yang menakuti banyak orang di masyarakat Barat. Maklumlah pada saat itu berlangsung apa yang disebut “perang dingin” antar blok komunis dan blok bebas (Amerika Serikat dan Eropa Barat). (K. Bertens:292)

Pengontrolan tentang Iklan

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas.

Kontrol oleh pemerintah

Di sini terletak suatu tugas penting bagi pemerintah, yang harus melindungi masyarakat konsumen terhadap keganasan periklanan. Mungkin dalam hal ini bisa kita belajar dari Amerika Serikat. Tidak ada negara lain di mana praktek periklanan begitu maju dan begitu intensif, namun disitu pun ada intansi – intansi pemerintah yang mengawasi praktek periklanan dengan cukup efisien, antara lain melalui Food and Drug Administration dan terutama Federal Trade Commission. Komisi terakhir ini bisa memaksakan perusahaan untuk meralat iklan – iklan yang menyesatkan. Di Indonesia iklan tentang makanan dan obat diawasi oleh Direktorat

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dari Departemen Kesehatan. (K. Bertens:297)

Kontrol oleh para pengiklan

Cara paling ampuh untuk menanggulangi masalah etis tentang periklanan adalah pengaturan diri (self – regulation) oleh dunia periklanan. Biasanya hal itu dilakukan dengan menyusun sebuah kode etik, sejumlah norma dan pedoman yang disetujui oleh profesi periklanan itu sendiri, khususnya oleh asosiasi biro – biro periklanan. Di Indonesia kita memiliki Tata krama dan tata cara periklanan Indonesia yang disempurnakan (1996) yang dilakukan oleh AMLI (Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia), ASPINDO (Asosiasi Pemrakarsa Penyatuan Iklan Indonesia), GPBSI (Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia), PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia), SPS ( Serikat Penerbit Surat Kabar) dan yayasan TVRI (Yayasan Televisi Republik Indonesia). Versi pertama dari kode etik ini telah diberlakukan pada 1981. Jika suatu kode etik disetujui, tentunya pelaksanaan harus diawasi juga. Janganlah kode etik menjadi sebuah formalitas saja yang tidak berpengaruh atas praktek sehari – hari. (K. Bertens:297)

Kontrol oleh masyarakat

Masyarakat luas tentu haarus diikutsertakan dalam mengawasi mutu etis periklanan. Dalam hal ini suatu cara yang terbukti membawa banyak hasil dalam menetralisasi efek – efek negatif dari periklanan adalah mendukung dan menggalakkan lembaga – lembaga konsumen, yang sudah lama dikenal di negara – negara maju dan sejak tahun 1970-an berada juga di Indonesia (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia di Jakarta dan kemudian Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen di Semarang). Sebetulnya setiap kota besar pantas memiliki Lembaga Swadaya Masyarakat yang bertujuan advokasi konsumen seperti lembaga – lembaga ini. Laporan – laporan oleh lembaga – lembaga konsumen tentang suatu produk atau jasa sangat efektif sebagai kontrol atas kualitasnya dan serentak juga atas kebenaran periklanan. (K. Bertens:298)

Penilaian Etis Terhadap Ikalan

Refleksi tentang masalah – masalah etis di sekitar praktek periklanan merupakan contoh bagus mengenai kompleksitas pemikiran moral. Di sini prinsip – prinsip etis memang penting, tapi tersedianya prinsip – prinsip etis ternyata tidak cukup untuk menilai moralitas sebuah iklan. Dalam penerapannya banyak faktor lain ikut berperan. Refleksi tentang etika periklanan ini mengingatkan kita bahwa penalaran moral selalu harus bernuansa dengan menyimak dan menilai situasi konkret. Prinsip – prinsip etis yang penting dalam konteks periklanan sudah dipelajari sebelumnya (tidak boleh berbohong; otonomi manusia harus dihormati). Dalam pasal terakhir ini kita memandang empat faktor berikut yang selalu harus dipertimbangkan dalam menerapkan prinsip – prinsip tersebut, jika kita ingin membentuk penilaian etis yang seimbang tentang iklan: maksud si pengiklan, isi iklan, keadaan publik yang tertuju, dan kebiasaan di bidang periklanan. Dua faktor tersebut terakhir menyangkut situasi yang berbeda – beda. (K. Bertens:298)

Industri Iklan: Penanda Hasrat Konsumsi

Kenneth A. Longman mendefinisikan iklan sebagai: “Advertising…attempts to inform and persuade a large number of people with a single line communication,” (Wilmshurst and Mackay, 2004: 23). Dari definisi tersebut tergambar dua proses kerja iklan: memberikan informasi sekaligus membujuk khalayak. Penekanan pada komunikasi satu arah yang digunakan senada pula dengan definisi advere. Ketiadaan interaktivitas ini pulalah yang membedakan iklan dengan salesperson. Definisi iklan yang diajukan Spriegel (dalam Liliweri,

1992: 18) yakni “setiap penyampaian informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan media nonpersonal yang dibayar”. Definisi ini memunculkan gagasan jenis media yang digunakan berupa media nonpersonal atau media massa. Sekaligus definisi ini menekankan pada cara penempatan iklan yang kemudian membedakannya dengan publisitas, yakni adanya harga yang harus dibayarkan oleh pihak perusahaan untuk beriklan.

Ditinjau dari segi pemasaran, jelaslah iklan telah banyak membantu dalam mendongkrak penjualan. Iklan merupakan bagian dari bauran promosi (promotional mix), yang terdiri dari pemasaran langsung (direct selling), public relations, promosi penjualan (sales promotion), dan penjualan personal (personal selling) (Lwin dan Aitchison, 2005: 5). Bauran promosi ini sebenarnya juga merupakan bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Jika iklan digunakan pemasar untuk melakukan penetrasi produk terhadap konsumen, lalu apa yang dialami konsumen? Bagaimana konsumen dapat mengingat terpaan produk yang dihadapinya setiap saat? Brand atau branding adalah jawabannya. “A name, term, sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identify the goods or services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of competitors” (De Chernatony and Riley 1997: 90) Branding sebagai kata dalam bahasa Inggris merupakan gerund dari kata ‘brand‘. Dengan demikian branding adalah kata benda dari sebuah kata kerja, menjadi suatu objek dari asalnya sebagai kegiatan. Kita biasa menyebutnya secara substitutif dengan merk. Namun dalam konteks pemasaran, istilah ‘brand‘ lebih populer digunakan karena tidak sekedar merujuk pada pemahaman merk sebagai identitas produk. Secara konseptual, branding dapat dipahami sebagai sebuah pemaknaan terhadap identitas dari apapun yang butuh ditampilkan pada publik. Tujuannya tentu saja agar mudah diidentifikasi sehingga mudah bersaing. Pada titik ini pemahaman mengenai branding dapat dimaknai tidak sekedar memberi nama pada suatu produk agar dikenal, lebih dari itu branding telah menjadi tanda yang akan dimaknai.

Apakah makna itu kemudian sebatas deskriptif mengenain fungsi benda atau lebih dari itu, maka problematisasi branding dapat mulai digagas sebagai sebuah pemikiran kritis terhadap relasi antara produksi dan konsumsi yang sedang menggejala di tengah masyarakat post-fordisme1 saat ini. Pemahaman mengenai branding dan produk secara  sederhana sebagaimana yang dijelaskan oleh Mark Batey dalam bukunya ‘Brand Meaning‘ dibawah ini: “A product becomes a brand when the physical product is augmented by something else—images, symbols, perceptions, feelings—to produce an integral idea greater than the sum of its parts. A brand might be composed of a single product, or it might be made up of multiple products that span many categories. But at its core there remains a soul, a distinctive identity and image that resonates with its consumers and transcends its physical representation in terms of product format”. (Mark Batey, 2008: 4)

Konsep tersebut merupakan konsep yang selama ini dipahami dan diyakini mengenai relasi antara branding dan suatu produk. Relasi antara branding dan produk adalah relasi imajiner yang berada dalam pikiran konsumen. Ia adalah persepsi yang dimiliki oleh konsumen yang nantinya diharapkan oleh pemasarnya akan mempengaruhi hasrat pembelian terhadap suatu produk. Maka branding memang soal pemaknaan yang sejatinya otonom dalam diri konsumen. Namun demikian, pemaknaan tidaklah selalu bebas. Ia akan tetap mengacu pada suatu konteks.

“Engrams are the transient or enduring changes in our brains that result from encoding an experience…. A typical incident in our everyday lives consists of numerous sights, sounds, actions, and words. Different areas of the brain analyze these varied aspects of an event. As a result, neurons in the different regions become more strongly connected to one another. The new pattern of connections constitutes the brain’s record of the event: the engram.” (Schachter , 1996: 59)

Secara alamiah otak manusia akan memproses pengetahuan yang nantinya akan berkembang menjadi pemaknaan dari pengalamannya. Pengalaman tentu mengacu pada realitas yang terindera, apakah terlihat, terdengar, ataupun terasa, baik secara langsung maupun termediasi.

Dalam kaitannya dengan branding, dapat dipahami bahwa sekalipun makna otonom ada pada pikiran konsumen, namun karena secara fisiologis otak manusia hanya akan memproses pengetahuan sesuai dengan acuan yang terindera, maka pemaknaan konsumen atas branding bisa direkayasa melalui penciptaan realitas yang akan dijadikan acuan oleh konsumen. Rekayasa disini jika kembali pada konsep mengenai branding dari Batey di atas, terkait dengan nilai tambah yang dilekatkan pada suatu produk sehingga memunculkan ketertarikan yang akan menjadi hasrat konsumsi. Apa sebenarnya nilai tambah itu? Penulis mengacu pada konsep Jean Baudrillard yang menyebut satu istilah yaitu ‘sign-value‘.

“In the age of mass media, exchange-value has in its turn morphed into the society-wide spread of signvalue. Heavily processed images have now become a defining social category. The mass media are no longer instruments of re-presentation, as mirrors of preexisting socio-political conditions, but, as McLuhan argues, they can be described as total environments. The media annexes and transforms its social and

cultural milieu, refashioning it in its own image. As such media come to dictate the structure and expression of everyday life, they permeate and determine all personal and collective relations, they construct and determine the wishes, desires and thoughts of the individual…”

(Taylor & Harris, 2008: 108).

Baudrillard melihat perkembangan media massa kemudian telah mengubah logika produk yang telah bergeser dari nilai guna menjadi nilai tanda. Media massa telah menampilkan produk-produk secara kompetitif sehingga audiens yang juga adalah konsumen tidak lagi melihat produk sebagai benda melainkan tanda yang bermakna. Sabun mandi bukan lagi alat pembersih kulit, melainkan tanda yang mendefinisikan kecantikan. Baju bukan lagi pelindung kulit, melainkan tanda status sosial. Konsep branding kemudian dapat dikaitkan dengan nilai tanda yang dibuat dan ditambahkan melebihi fungsi dan harga produk. Nilai tanda ini bisa berupa peningkatan status sosial, bagian dari gaya hidup populer, imajinasi atas idealitas, dan banyak lagi lainnya yang semuanya tidak lagi berkenaan dengan fungsi produk. Pada masyarakat post-fordisme, nilai tanda inilah yang kemudian mendominasi proses konsumsi yang dilakukan masyarakat.

Konsumsi pada kehidupan masyarakat urban, sebagaimana yang digagas oleh Thorstein Veblen dengan istilah ‘conspicuous consumption‘ bukan lagi soal belanja untuk memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan fungsi produk. Konsumsi telah bergeser menjadi apa yang ia sebut sebagai “…served to construct distinctive lifestyles and express status ” bagi masyarakat yang memiliki daya beli dan waktu luang. Seseorang kini membeli produk demi gaya hidup sehingga bisa jadi akan mengikuti apapun yang dianjurkan oleh pemasar produk.

Sekalipun dalam logika pemasaran dikenal banyak upaya yang dilakukan produsen dan aparatnya untuk menarik perhatian konsumen, penulis masih meyakini keampuhan iklan. Iklan dapat dianggap sebagai strategi pemasaran yang efisien, karena melalui iklan satu pesan bisa secara serentak tersampaikan kepada sekian banyak orang karena termediasi melalui media massa. Selain efisien secara media, iklan juga memiliki kemampuan persuasi. Dalam amatan penulis, iklan di media apapun selalu memiliki daya tarik. Sebab iklan memiliki kemampuan untuk menghadirkan hiper-realitas2 yang lebih lanjut berkembang menjadi konsep mengenai simulasi. Konsep ini merupakan bentuk analogi dari kecanggihan teknologi media visual yang telah mengacaukan pemahaman mengenai relasi petanda dan penanda. Gagasan linearitas dan naturalitas dalam relasi imajiner penanda dan petanda telah dikacaukan dengan konsep simulasi ini.

“Simulation, on the contrary, stems from the Utopia of the principle of equivalence, from the radical negation of the sign as value, from the sign as the reversion and death sentence of every reference. Whereas representation attempts to absorb simulation by interpreting it as a false representation, simulation envelops the whole edifice of representation itself as a simulacrum. Such would be the successive phases of the image: it is the reflection of a profound reality; it masks and denatures a profound reality; it masks the absence of a profound reality; it has no relation to any reality whatsoever; it is its own pure simulacrum”. (Baudrillard, 1981: 6)

Baudrillard memang secara spesifik menunjuk entitas media massa sebagai simulakrum yang menampilkan tidak hanya representasi realitas, melainkan juga reproduksi atas realitas yang tidak lagi mengacu pada realitas empiris. Apa yang disebut kenyataan tidak lagi sederhana sekedar kepercayaan terhadap penginderaan.

Gagasan ini bukanlah ilusi atau kebohongan. Ini adalah sebuah simulasi. Sebuah reproduksi atas kerja intelektualitas manusia saat berbenturan antara indera dan utopia. Iklan, adalah simulasi tentang hasrat. Iklan membuat simulasi untuk menstimulasi dorongan-dorongan kebutuhan dalam diri manusia. Iklan mempermainkan apa yang ada dalam diri manusia yaitu kekurangan (lackness). Menurut Jacques Lacan, hasrat terkait dengan persepsi mengenai kekurangan yang tidak akan pernah terpuaskan, apakah kekurangan menjadi (lackness of being) ataupun kurang atas sesuatu (lackness of something). Iklan, dalam hal ini melakukan rayuan terus-menerus melalui simulasi tanda untuk membuat audiens terus merasa kurang. Dengan begitu aktivitas konsumsi akan terus berlangsung seolah-olah menjadi suatu kebutuhan.

METODOLOGI PENULISAN

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diungkapkan penulis dalam penelitian ilmiah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah masyarkat berperan penting dalam tayangan iklan sehari – hari ?
  2. Apa pentingnya etika dalam periklanan ?

Batasan Masalah

Penulis membatasi pembahasan  masalah hanya mengenai satu iklan yang tidak disebutkan secara spesifik demi menjaga nama baik dan kelangsungan bisnisnya.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ilmiah ini antara lain :

  1. Untuk mengetahui apakah pengiklan tersebut melanggar etika.
  2. Untuk mengetahui pentingnya etika dalam periklanan.

Manfaat Akademis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengaplikasikan etika periklanan dalam dunia kerja agar tidak merugikan diri sendiri dan masyarakat luas.

Manfaat Praktis

Mengetahui etika periklanan yang ada sangatlah penting dalam kelangsungan bisnis yang dijalani.

Objek Penelitian

Iklan salah satu produk jamu di Indonesia.

Studi Kepustakaan

  1. Mencari data sekunder yang diperlukan untuk mendapatkan teori yang dibutuhkan dan relevan dengan pembahasan penulisan.
  2. Bahan-bahan yang pernah diterima di bangku kuliah yang relevan dengan pembahasan.

PEMBAHASAN

Dalam dunia promosi produk untuk pasaran atau lebih spesifiknya yaitu mengiklankan produk harus mengaplikasikan etika dalam masyarakat guna menjaga kelangsungan bisnis agar tidak menjadi senjata makan tuan suatu hari nanti jika ada pesaing yang menggunakan slogan kata – kata dari iklan yang diterbitkan. Pengiklan harus melihat betul – betul karakteristik masyarakat luas dan juga melihat pesaing sekarang dan yang akan datang.  Untuk menghadapi semua itu pengiklan haruslah mengikuti apa yang ada di masyarakat.

Dalam bab pembahasan ini penulis akan membahas pengiklan salah satu produk jamu di Indonesia dengan slogan “***** Pintar Minum T***k A***n”. Kata pintar diartikar oleh masyarakat luas dan pesaing adalah benar – benar haru pintar dalam segala aspek. Bagi pesaing, hal ini adalah titik balik untuk menyerang produk tersebut dengan slogannya di periklanan. Dengan adanya pesaing yang menyerang dengan slogannya maka pengiklan menambahkan (dipersingkat) slogan dengan “Pil*h Y**g Benar” dengan menambhakan benar  peingiklan bermaksud dengan memilih produk dengan benar maka seseorang tersebut sudah dikatakan pintar.

Dengan adanya perang iklan tersebut, masyarakat harus lebih pintar dalam memilih produk jangan sampai termakan oleh iklan – iklan yang setiap hari tayang di media elektronik atau dalam media lain. Peingiklan harus bisa menyampaikan iklan ke masyarakat dengan etika yang berlaku serta harus meyakinkan masyarakat dengan logika sehat.

Di era sekarang sudah banyak lembaga – lembaga yang menjaga, mengawasi, dan menindak iklan yang benar – benar melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. Serta masyarakat pun diikut sertakan dalam hal ini demi tersampainya informasi yang sebenarnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dengan kesimpulan pengiklan harus melihat betul – betul karakteristik masyarakat luas dan juga melihat pesaing sekarang dan yang akan datang.  Untuk menghadapi semua itu pengiklan haruslah mengikuti apa yang ada di masyarakat.

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas. . (K. Bertens:297)

Pada umumnya periklanan tidak mempunyai reputasi baik sebagai pelindung atau pejuangan kebenaran. Sebaliknya, kerap kali iklan terkesan suka membohongi, menyesatkan, dan bahkan menipu publik. Periklanan hampir apriori disamakan sengan tidak bisa dipercaya. Tentu saja pembohongan, penyesatan, dan penipuan merupakan perbuatan yang – sekurang – kurangnya prima price – tidak etis. Karena itu dalam pembahsan moral ini harus kita selidiki secara khusus hubungan periklanan dengan kebenaran. Kita mulai dengan menyoroti masalah pembohongan. Apa itu pembohongan ? Belum diberi definisi lengkap, jika dikatakan pembohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar. (K. Bertens:287)

Saran

Penulis memberikan saran yang dapat dipertimbangkan oleh pengiklan ialah dengan cara mereview semua slogan kata – kata dan sebagainya sebelum produk tersebut untuk siap diiklankan serta berkonsultasikan dengan para ahli bahasa untuk menyesuaikan dengan etika yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. 2013. Pengantar Etika Bisnis Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius.

Baudrillard, Jean, 1981, Simulacres et simulation, Paris: Galilée, Full translation, Simulacra and Simulation, trans, Sheila Faria Glaser, Ann Arbor: University of Michigan Press, 1994.

Endang Mirasari. Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya & Media, SPS-UGM. Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol.2, No.1, April 2012. ISSN: 2088-981X. Dekonstruksi Strategi Branding Iklan Fiesta: Perspektif Etika Islam Terhadap Industri Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s