4. EVALUASI ALTERNATIF SEBELUM PEMBELIAN

EVALUASI ALTERNATIF SEBELUM PEMBELIAN

 KRITERIA EVALUASI

Menurut Hasan (1988) evaluasi program semula merupakan evaluasi kurikulum. Karena itu cenderung tidak membedakan evaluasi program dengan evaluasi kurikulum.

Evaluasi harus berhubungan dengan kriteria. Dasar pemikiran tersebut, dengan criteria evaluator dapat memberikan pertimbangan nilai, harga, dan komponen-komponen program yang perlu penyempurnaan serta yang telah memenuhi persyaratan. Evaluator tanpa kriteria sama dengan bekerja dalam kegelapan. Tnpa adanya kriteria pertimbangan yang diberikan adalah tanpa dasar.

Empat kelompok pengembangan yang dapat dilakukan, yakni: “Pre-ordinate, Fidelity, Matual-adaptive, dan process”.

  1. Pendekatan “Pre-ordinate” memiliki dua karakteristik:
  • Kriteria ditetapkan sebelum pelaksanaan evaluasi. kriteria ini bersifat mengikat karena ditetapkan sebelum evaluator turun turun ke lapangan.
  • Karekteristik kedua, kriteria yang dikembangkan bersumber pada standar tertentu. Seperti yang bersumber pada pandangan teoritik atau kumpulan tradisi yang sudah dianggap baik.
  1. Pendekatan “Fidelity” pada dasarnya ada kesamaan prinsip dengan kedekatan “Pre-ordinate” yakni kriteria yang dikembangkan sebelum evaluator turun ke lapangan untuk mengumpulkan data.
  2. Pendekatan ke tiga dikenal dengan istilah pendekatan gabungan mutual-adaptive.Pendekatan ini merupakan perpaduan antara pendekatan “Pre-Ordinate, Fidently, Process“ kriteria yang di gunakan dikembangkan dari karakteristis program dari luar, seperti berdasarkan pandangan secara teori, dari para pelaksana, dan dari pemakai program.
  3. Pendekatan berikut ini dikenal dengan istilah pendekatan proses. Sesuai dengan namanya, pendekatan ini mengembangkan kriteria selama proses evaluasi berlangsung. Kriteria didapat melalui , wawancara, observasi, atau studi dokumentasi.

Kriteria dalam evaluasi ini mengacu pada :

  1. Pedoman – pedoman tentang program pendidikan jasmani yang berlaku.
  2. Persepsi para pengembang program yang teruji secara teoritis.
  3. Pertimbangan evaluator.

MENENTUKAN ALTERNATIF PILIHAN

Konsumen memproses informasi dari beberapa sumber dan membuat pertimbangan untuk memuaskan kebutuhan, konsumen mencari manfaat produk dan memandang produk sebagai suatu rangkaian atribut, atribut yang menonjol dianggap penting.

  • Sikap/ pendirian orang lain. Sikap atau pendirian seseorang yang akan menentukan pilihannya dalam menentukan sesuatu. Faktor ini sangat mempengaruhi hasil akhirnya.
  • Situasi yang tidak diantisipasi. Situasi ini menjelaskan hal-hal yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi (harus dipenuhi sekarang kebutuhannya).

Sejumlah besar penelitian dan strategi pemasaran telah mengasumsikan pembuat keputusan konsumen rasional dengan yang terdefinisi dengan baik, preferensi stabil. Konsumen juga dianggap memiliki kemampuan cukup untuk menghitung pilihan mana yang akan memaksimalkan nilainya, dan akan memilih atas dasar ini.

Pilihan afektif. Pilihan ini benar-benar yang terbaik dari berbagai informasi atau sumber yang didapatnya. Semakin efektif pilihan maka semakin terpenuhi kepuasan konsumen.

Atribut berbasis versus atribut proses pilihan. Dua proses yang mungkin terjadi:

  1. Melalui internet. Mencari informasi dari berbagai sumber untuk mengetahui klebihan dan kekurangan produk pilihan kita dan melihat lebih terperinci spesifikasinya.
  2. Membandingkan produk pilihan dengan produk pesaing yang hampir sama fungsi dan kinerjanya. Ini adalah sesuatu yang sanngat sulit dalam menentuka hasil akhir dari pilihan.

MENAKSIR ALTERNATIF PILIHAN

Kriteria yang telah di tentukan seperti diatas kemudian akan memunculkan beberapa alternatif produk,  alternatif ini lah yang digunakan konsumen dalam Menaksir alternatif pilihan. Dalam menaksir suatu alternatif dari pilihan yang ada maka konsumen harus memikirkan resiko yang akan diterima apabila konsumen memilih alternatif tersebut, dan meninggalkan alternatif  lain yang ada.

Ada tiga sudut pandang dalam menganalisis atau menaksir alternatif  pilihan keputusan konsumen :

  1. Sudut Pandang Ekonomis. Bahwa produk tersebut apakah lebih menguntungkan atau merugikan dalam penggunaannya.
  2. Sudut Pandang Kognitif. Konsumen sebagai kognitif man atau sebagai problem solver. Kosumen merupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi informasi tentang produk dan gerai. Pengolah informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, terjadi inisiatif untuk membeli atau menolak produk.
  3. Sudut Pandang Emosianal. Menekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen membeli suatu produk. Dalam membeli suatu produk harus sesuai dengan kebutuhan kita dan kemampuan kita dalam membeli dan merawatnya.
  4. MENYELEKSI ATURAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Proses pengambilan keputusan yang terdiri dari 5 tahap yaitu :

  1. Menganalisis keinginan dan kebutuhan. Mempelajari kembali mana kebutuhan dan keinginan. Sebaiknya lebih mengutamakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
  2. Pencarian informasi. Setelah menganalisis, carilah informasi dari berbagai sumber untuk mengetahui spesifikasi produk yang akan kita beli.
  3. Penilaian dan pemilihan alternative. Setelah informasi didapatkan maka tahap selanjutnya adalah penilaian terhadap produk tersebut serta mencari alternatif produk lain jika produk pilihan pertama tidak sesuai.
  4. Keputusan untuk membeli. Penilaian dan menentukan alternatif telah diputuskan maka selanjutnya adalah keputusan untuk membeli produk tersebut.
  5. Perilaku sesudah pembelian. Hasil akhir dari keputusan membeli produk adalah puas atau tidak puasnya konsumen terhadap produk tersebut.

Situasi pembelian berkaitan dengan:

  1. Lingkungan di dalam toko seperti ketersediaan produk, perubahan harga, dan kemudahan belanja dengan pilihan berbelanja.
  2. Situasi berkaitan dengan apakah produk yang di beli untuk hadiah atau untuk diri nya sendiri. Konsumen biasanya menggunakan criteria yang berbeda dan mungkin memilih merk yang berbeda dan mungkin memilih merk berbeda jika ia membeli untuk dirinya sendiri.
  3. Situasi pembelian berkaitan dengan keadaan mood konsumen ketika berbelanja. Keadaan senang atau keadaan susah mempengaruhi pemrosesan dan pencarian informasi tentang produk.

Menurut Howard dan Sheth ada 3 model dalam pengambilan keputusan :

  1. Pemecahan masalah yang luas yaitu pengambilan keputusan dimana pembeli belum mengembangkan criteria pemilihan.
  2. Pemecahan masalah terbatas yaitu situasi yang menunjukan bahwa pembeli telah memakai criteria pemilihan, tapi ia belum memutuskan merk apa yang terbaik.
  3. Pemecahan masalah berulang kali yaitu pemilih telah menggunakan criteria pemilhan dan telah pula menetap kan produknya.

Variabel Stimulus, merupakan variabel yang berada di luar diri individu (faktor eksternal) yang sangat berpengaruh dalam proses pembelian.

Variabel Respons, merupakan hasil aktivitas individu sebagaireaksi dari variabel stimulus. Variabel respons sangat bergantung pada faktor individu dan kekuatan stimulus.

REFERENSI:

http://sepriblog.blogspot.com/2011/05/kriteria-evaluasi.html

http://shinmull.wordpress.com/2012/10/19/18/

http://raniikhalida.blogspot.com/2012/10/menyeleksi-aturan-pengambilan-keputusan.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s