RINGKASAN

RINGKASAN

 

Judul buku                : Rekam Jejak JK (Sebuah Kajian Kepemimpinan)

Penulis                       : Prof. W.I.M. Poli

Penerbit                     : PT Gramedia Pustaka Utama

Tempat terbit           : Makassar

Tahun terbit             : 17 Januari 2014

Jumlah bab              : 7

Jumlah halaman    : 184

 

Buku ini menceritakan tentang gaya kepemimpinan JK dan lingkungan kehidupan dimasa JK kecil yang dapat menciptakan JK sekarang ini.

Penulis Prof. W.I.M. Poli dalam “Rekam Jejak JK” menelusuri sumber kesaksian dari karir JK atau seseorang yang dulu pernah bekerja sama dengan JK. Seseorang itu ialah Hamid Awaludin.

Sebelum jauh meringkas buku Rekam Jejak JK (Sebuah Kajian Kepemimpinan) saya ucapkan terima kasih kepada Prof. W.I.M. Poli selaku penulis buku yang akan saya ringakas ini.

BAB I

Di bab ini hal yang sangat menarik ialah disaaat kata – kata JK tentang mengomentari gaya dari pemimpin bangsa ini “….. Di seluruh dunia ini, hanya bangsa kita yang presidennya tak saling sapa. Padahal, kita harus terus menyambung silaturahmi terus – menerus…..” (halaman 4-5).

Jadi menurut JK hanya ada di Indonesia yang pemimpin negara tak saling “sapa”. Mungkin tak saling sapa ini menjelaskan bahwa pemimpin kita tidak adanya kerja sama atau berdiskusi untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Dalam hal kepemimpinan kini, orang kian yakin bahwa pemimpin tidak dilahirkan, tetapi dibentuk oleh, dan kemudian membentuk, lingkungannya.

Pemimpin itu ada karena lingkungan terdahulu yang membentuk seseorang menjadi berjiwa kepemimpinan. Setelah lingkungan yang berhasil membentuk pemimpin dan kemudian lingkungan yang akan dbentuk oleh pemimpin itu sendiri. Berhasil atau tidaknya membentuk lingkungan tergantung oleh gaya kepemimpinan dan kebijakannya.

BAB II

Pembentukan diri JK berawal dari lingkungan keluarga. Dari keluarga ini yang dapat mempengaruhi kepribadain seseorang menjadi lebih baik. Athira sesosok ibu yang penuh kasih sayang dan perhatian. Memiliki kepribadian yang lembut dan sederhana yang memperlakukan semua menantu seperti anak-anaknya. Begitu sederhana dan rendah hati.

Dari sesosok Ibu yang begitu penyayang akan mampu mempengaruhi pikiran anak-anaknya dan menjadi suatu pembelajaran hidup kelak.

Selain dari lingkungan keluarga, ada dari lingkungan luar yakni pengaruh dari tokoh. Jenderal Mohammad Jusuf dan Jenderal Solihin G.P. keduanya adalah petinggi militer di Sulawesi Selatan, ketika JK terlibat dalam beberapa peristiwa unjuk rasa mahasiswa, dan harus berhubungan dengan keduanya.

JK yang sekarang menggeluti bidang bisnis dan politik tidak terlepas dari peran keluarga yang mendidik JK menjadi seseorang pemimpin yang bijaksana. Oleh ayahnya Haji Kalla, JK dididik sejak dini dalam dunia bisnis dan kata – kata dari Haji Kalla (ayah JK) menyerahkan kepemimpinan bisnis keluarga menurut ingtan JK: “Usup (panggilan akrab Jusuf), perusahaan ini saya serahkan dalam keadaan tidak ada utang satu sen pun” (halaman 34)

Dan ketika perusahaan berkembang, tanggapan ayah JK “Kita maju seperti sekarang bukanlah kamu sarjana ekonomi. Kalau itu benar, tentu dosenmu lebih kaya daripada kamu. Tetapi ternyata, ada juga dosenmu yang tidak punya mobil. Artinya, kekayaanmu itu dari Allah dan hasil kerja kerasmu” (halaman 34)

Ketika seorang Ibu bermimpi “Simpanlah songkok ini, kelak anak saya akan menjadi gubernur” (halaman 35)

Dan posisi yang pernah diraih oleh JK melebihi mimpi seorang ibu, yaitu JK menjadi wakil presiden RI.

BAB III

Di buku ini dituliskan bahwa JK mengikuti organisasi dan selalu menduduki puncak organisasi yang diikutinya. Pernah menjadi Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Lingkungan ini menjadi salah satu modal untuk terjun ke dunia politik Indonesia.

Dukungan fasilitas keluarga. Berkat dukungan fasilitas dari keluarga Haji Kalla, rumahnya menjadi tempat berkumpul dan persinggahan yang kian hari kian memperkuat jaringan hubungan sosial JK. Selain itu, ada juga dukungan keluarga Haji Kalla kepada para aktivis dalam bentuk ruangan sekretariat HMI dan kendaraan.

Kesimpulannya di BAB III ialah: JK kian percaya pada apa yang dilakukannya karena mandapat dukungan penuh dari keluarga, dan modal sosialnya kian menigkat, yang akan mendukung kegiatannya di kemudian hari.

BAB IV

“Tenaga dalam” JK. Dengan istilah tersebut, dimaksudkan motif seseorang untuk sepenuhnya mewujudkan potensi yang ada di dalam dirinya. Potensi yang ada di dalam diri JK, yang diperolehnya dari lingkungan keluarganya, dikembangkan kemudian di lingkungan organisasi dan bisnis keluarga, yang dilanjutkan kemudian di lingkungan pemerintahan.

JK, “saya langsung ke masalahnya dan juga pemecahannya. Saya tampilkan tawaran terbuka di atas meja. Untuk memecahkan masalah, Anda harus tahu apa yang melatarbelakanginya, apakah itu isu ekonomi, politik, atau kebudayaan. Saya membaca semua buku tentang sejatah Aceh, saya membuat penelitian sendiri selama satu bulan……”

Jadi JK dalam memecahkan masalah melihat dari akar atau penyebab utama masah itu terjadi dan solusi dalam memecahkannya tidak ada tujuan-tujuan yang tersembunya.

Saat menaganai masalah tsunami Aceh pada tahun 2004 silam, adanya perdebatan antara JK dengan gubernur Sumatera Utara mengenai bagaimana bantuan akan diberikan melihat tidak mungkin pesawat untuk mendarat ke lokasi bencana. JK menginginkan bantuan harus dilempar dari pesawat ke daerah Meulaboh. Tetapi gubernur mengatakan jika dijatuhkan di Meulaboh maka nanti akan jatuh ke tangan GAM. Tanggapan JK “Tidak apa – apa. GAM juga manusia. Perlu makan.” (halaman 90)

Melihat kejadian ini bahwa JK membantu korban yang terkena bencana tidak melihat itu siapa.

BAB V

Saya selalu mengatakan Indonesia hanya bisa maju dengan menggabungkan tiga hal: otal, otot, dan hati. Otot tanpa otak jadinya hanya berkelahi saja. Sebaliknya, otak tanpa otot akhirnya hanya kerja kantoran. Jadi konsultan atau makelar saja. Ini pun, jika dilakukan tanpa hati, bisa macam-macam akibatnya, korupsi misalnya. Untuk mengubah bangsa ini, yang dibutuhkan tidak hanya kemampuan dan kerja keras, tetapi juga hati nurani. Itu syarat pertamaagar kita dapat mengatasi persoalan ini… (halaman 118)

Di saat krisis mengguncang dunia, JK dengan kesaksian Hamid Awaluddin berbibcang dengan Joe Biden (Wakil Presiden Amerika Serikat) “…..apa yang bisa dilakukan Amerika Serikat untuk Indonesia? ……JK spontan menjawab, “Oh, sama sekali tidak ada yang kami butuhkan. Saya kesini bukan untuk meminta sesuatu dari Amerika Serikat. Saya justru ingin bertanya, apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk Amerika Serikat” (halaman 122)

Dengan ini tidak ada kesenjangan antara kedua negara yang berbeda. JK mengatakan: “Saya bertanya tentang ini, karena saya tahu, Amerika Serikat kini sedang mengalami berbagai soal., terutama soal ekonomi. Di tengah persoalan itu, barangkali ada sesuatu yang dimiliki Indonesia, yang bisa ditawarkan kepada sahabatnya, Amerika Serikat.” (halaman 122)

JK mengatakan seperti itu dengan dalil “Saya tidak mau bangsa yang begini besar, jadi bangsa peminta – minta. Kalau toh mereka membantu, pasti selalu ada ageda yang tersembunyi yang dimiliki. Belum lagi persyaratan – persyaratan yang membuat kita tidak otonom atas diri sendiri.” (halaman 123)

BAB VI

Lingkungan global nasional di era globalisasi:

  1. Apa kekuatan saya?
  2. Apa yang dilakukan JK dalam penanggulangan konflik di Indonesia? JK selalu membawa nota kecil dan pupen. Mampu membuat keputusan yang cepat dan tepat, berdasarkan analisis pengalaman masa lalu yang panjang. (halaman 139)
  3. Bagaimana kerja saya?
  4. “Saya pakai naluri dan logika saya. Semua itu hanya karena pengalaman keseharian. Tidak ada yang macam-macam. Dan yang penting, kita harus ikhlas, tidak punya pretensi dan keinginan pribadi secara timbal balik. Hanya itu modal saya.” (halaman 141)
  5. Apa nilai yang saya anut?
  6. “ingat Hamid, dalam hidup ini ada tiga ajaran moral yang harus dipegang. Pertama, ikhlas, kedua sabar, dan ketiga syukur…..” (halaman 142)
  7. Apa lingkungan yang saya pilih?
  8. JK memilih lingkungan bisnis, kemudian lingkungan politik dan pemerintahan.
  9. Apa sumbangan saya?
  10. Sumbangan yang diberikan oleh JK adalah sumbangan pembangunan , khususnya di Indonesia bagian Timur melalui bisnis keluarga.

Sebuah harapan. Pemimpin Singapura Lee Kuan Lew, dengan nada menyesal mengatakan: “Sayang, bahwa JK hanyalah seorang Wakil Presiden” (halaman 158)

Mungkin harapan ini merupakan harapan yang tersembunyi dari pemimpin Singapura untuk JK dalam kepemimpinanya di Indonesia.

BAB VII

Penampilan JK dengan logikanya yang terbalik tidak masuk akal bagi orang lain sering berakhir dengan pengakuan orang terhadap gaya berpikirnya, yang mendasari kemampuannya memecahkan masalah lain dari yang lain. Pengetahuan seseorang tidak akan berkembang jika tindakan orang lain yang tampak tidak masuk akal, disingkirkan sebagai sampah yang mengganggu pikiran.

Hal yang menarik ialah ketika rencana pembangunan proyek jalan tol dan layang, JK pun menawarkan dan meminta para bankit bersedia mgnucurkan dana untuk pembangunan infrastruktur tersebut. “Daripada Anda semua berlomba memberi kredit kepada mereka yang hanya melakukan bisnis untuk kepentingan sendiri dan keluarga, lalu pergi meninggalkan kita semua setelah kaya dan kenyang, proyek yang saya tawarkan ini adalah untuk rakyat, termasuk Anda semua di sektor perbankan. Mari kita tunjukan komitmen keberpihakan kita kepada kehidupan rakyat” (halaman 170-171)

Salah satu ciri kepemimpinan JK ialah: melanggar atau mengubah aturan yang ada jika aturan tersebut menghambat pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan. (halaman 173)

KESIMPULAN

Walaupun tanggap dalam menangani berbagai masalah yang dihadapi Indonesia tetapi JK memiliki batasan – batasan kekuasaan ketika menjabat sebagai menteri maupun wakil presiden yang tidak melebihi kekuasaan menteri lain atau president. JK tetap memegang kode etik dalam berpolitik.

Jadi JK dalam memecahkan masalah melihat dari akar atau penyebab utama masah itu terjadi dan solusi dalam memecahkannya tidak ada tujuan-tujuan yang tersembunya.

Banyak pemikiran JK yang dianggap tidak rasional oleh orang lain. Penampilan JK dengan logikanya yang terbalik tidak masuk akal bagi orang lain sering berakhir dengan pengakuan orang terhadap gaya berpikirnya, yang mendasari kemampuannya memecahkan masalah lain dari yang lain. Pengetahuan seseorang tidak akan berkembang jika tindakan orang lain yang tampak tidak masuk akal, disingkirkan sebagai sampah yang mengganggu pikiran.

SARAN

Untuk lebih memahami isi buku belilah buku Rekam Jejak JK (Sebuah Kajian Kepemimpinan) karya Prof. W.I.M. Poli di toko buku terdekat.

Mohon maaf jika ada salah kata atau kalimat dalam meringkas buku Rekam Jejak JK (Sebuah Kajian Kepemimpinan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s