POTRET NASIONALISME BANGSA INDONESIA

POTRET NASIONALISME BANGSA INDONESIA MASA LALU DAN MASA KINI

Nasionalisme menurut Kohn 1961 adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Kemudian, pada masa Abad Pertengahan, kata nation digunakan sebagai nama kelompok pelajar asing di universitas-universitas. Selanjutnya, pada masa Revolusi Perancis, Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale (Dewan Nasional) yang menunjuk kepada semua kelas yang memiliki hak sama dalam berpolitik. Akhirnya, kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara (Amir, 2004).

Seperti apakah potret nasionalisme bangsa Indonesia dulu (pada waktu awal kelahirannya) dan bagaimana pula kondisinya kini? Untuk menjawabnya kita lihat saja perkembangan nasionalisme sejak dekade pertama abad ke-20.

Istilah “Kebangkitan Nasional”

Istilah ini dikemukakan oleh Perdana Menteri Hatta pada tahun 1948. Saat itu situasi politik di dalam negeri masih diwarnai perang kemerdekaan, di mana gejolak politik begitu hebat. Mantan Perdana Menteri Amir Sjarifudin pada bulan Februari 1948 membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR)  dan melakukan berbagai provokasi yang memancing reaksi dari partai lain seperti Masyumi, sehingga timbul konflik fisik. Selain itu, akibat perjanjian Renville, tentara Siliwangi dan pemerintahan di Jawa Barat harus hijrah ke Yogyakarta, ibukota Republik Indonesia.

Lahirnya Boedi Oetomo

Pada hari Minggu, tanggal 20 Mei 1908, bertempat di “Ruang Belajar Kelas Satu”, STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen = Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi), tepat pukul 9 pagi, berkumpullah beberapa pelajar STOVIA. Pemuda Soetomo membuka pembicaraan, menjelaskan maksud pertemuan, dan idenya disambut dengan tepuk tangan para hadirin. Maka diputuskanlah hari itu, didirikan perkumpulan Boedi Oetomo. Ketuanya adalah Soetomo, wakilnya Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soewarno sebagai penulis. Beberapa tokoh lain yang ikut dalam pendirian BO ini adalah Goembreng, Mohammad Saleh, Soelaeman, Soeradji, dan lain-lain (Djajadiningrat, 1936: 245; Nagazumi, 1989: 64).

Hal ini terefleksikan dalam tujuan berdirinya BO, yaitu: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya, (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan, (3) kemajuan teknik dan kerajinan, (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi, (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan, (6) hal-hal lain yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa (Nagazumi, 1989: 272).

Tokoh-Tokoh  Dibalik Berdirinya BO

Sebelum BO lahir, tidak dapat diabaikan peran dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. E.F.E. Douwes Dekker alias Danoe Dirdja Setiaboedhi dalam memberikan kesadaran nasional kepada para pendiri BO. Siapakah kedua tokoh ini dan bagaimana pula pengaruhnya?

Tokoh pertama yang erat hubungannya dengan kelahiran BO adalah dr. Wahidin Soedirohoesodo. Priyayi yang lahir 7 Januari 1852 itu adalah lulusan Sekolah Dokter Jawa (yang nantinya menjadi STOVIA). Dr. Wahidin sudah menyadari perlunya ditanamkan kesadaran nasional kepada anak Hindia, agar kelak menjadi bangsa yang terhormat. Ia menganggap bahwa yang paling mendasar diperlukan untuk itu adalah pendidikan.

Tokoh kedua yang juga berpengaruh besar dalam kelahiran BO adalah E.F.E Douwes Dekker. Tokoh yang dilahirkan pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan itu, memiliki riwayat hidup yang berliku dan selama 17 tahun dari 71 tahun masa hidupnya dihabiskan di berbagai penjara. E.F.E Douwes Dekker (selanjutnya disingkat DD) dilahirkan sebagai orang Indo Eropa yang hanya memiliki seperempat saja darah Jawa. DD masih memiliki hubungan keluarga dengan Edouard Douwes Dekker (Multatuli), Asisten Residen Lebak yang terkenal dengan “Max Havelaar”nya. Multatuli adalah adik kakek DD (Van der Veur, 2006).

Saat itu, DD memiliki perpustakaan di rumahnya di Kramat. Kebetulan rumahnya ini dekat STOVIA yang berlokasi di Gang Menjangan. Siswa-siswa STOVIA seperti Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, sering menggunakan perpustakaan DD dan berdiskusi dengan DD tentang politik. Di sinilah DD memompakan semangat nasionalisme kepada para pemuda itu. Pengaruh pribadi DD terhadap para pemuda itu begitu besar, oleh murid-murid STOVIA dia disebut sebagai “Kawan Orang Jawa Nomor Satu”. Beberapa buku antara lain karya Multatuli disumbangkan DD ke STOVIA. Itulah sebabnya DD dijuluki sebagai opruier (penghasut) oleh pemerintah Hindia Belanda (Van der Veur, 2006).

Semangat nasionalisme yang dipompakan DD kepada para pemuda STOVIA ternyata berperan besar dalam melahirkan BO. Rapat persiapan BO pun antara lain dilakukan di rumah DD. Ketika Kongres BO yang pertama dilangsungkan di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908, DD hadir dan menganjurkan agar BO memiliki corong berupa surat kabar. Sementara BO belum memiliki sendiri, DD menawarkan agar BN dijadikan alat propaganda BO. Mengingat hubungan yang erat antara DD dengan para siswa STOVIA yang melahirkan BO, bisa dikatakan bahwa “Jiwa BO sesungguhnya lahir di rumah DD di Kramat” (Nagazumi, 1989: 56; Van der Veur, 2006).

Interpretasi Tentang Awal Kebangkitan Nasional

Dalam perkembangannya kemudian, Boedi Oetomo lebih didominasi kaum priyayi tua dan tidak menjadi organisasi politik seperti yang diharapkan kaum muda seperti Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan lain-lain. Akibatnya mereka yang tidak puas, lari ke organisasi lain atau mendirikan organisasi baru. Gaung nasionalisme berkembang terus sehingga lahirlah organisasi-organisasi pergerakan lainnya, baik yang bergerak di bidang pendidikan sosial budaya, maupun sebagai organisasi politik: seperti Sarekat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), Indische Partij (1912), Putri Mardika (1912), Paguyuban Pasundan (1913), Jong Java (1915), Jong Sumatra (1917), Jong Minahasa, Jong Ambon, dan Jong Celebes (1918), Indonesische Vereneging/Perhimpunan Indonesia (1908/1922/1924), PNI (1927), NU (1926), Istri Sedar (1930), Putri Budi Sejati, Pasundan Isteri (1930), Partindo (1931), Gerindo (1937), dan lain-lain (Pringgodigdo, 1994).

Akira Nagazumi dalam karyanya yang berjudul Bangkitnya Nasionalisme Indonesia; Budi Utomo 1908-1918 (terj.) menyebutkan bahwa BO adalah organisasi nasional pertama yang tampil di Indonesia, meski pun tidak pernah menjadi organisasi politik namun jangan diartikan bahwa anggota-anggota BO menginginkan tetap di bawah kekuasaan Belanda selama-lamanya (1989: 256-257).

Jangan lupa pula bahwa pernah terjadi perdebatan, yang menyatakan bahwa awal kebangkitan nasional seharusnya dimulai dengan berdirinya Sarekat Dagang Islamiyah yang didirikan pada tahun 1905. Namun pendapat-pendapat yang tidak setuju menyatakan bahwa Sarekat Dagang Islam lebih merupakan organisasi dagang yang berbasis agama daripada sebuah organisasi politik (Korver, 1985, Noer, 1973). Selain itu, ide-ide tentang nasionalisme, memang bukan hanya dihidupkan oleh BO saja, peranan para mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda, melalui Indische Vereniging, yang didirikan pada tahun yang sama dengan BO,  tidak dapat diabaikan (Djoyoadisuryo, 1977).

Kita dapat mengatakan bahwa potret nasionalisme Indonesia pada masa awal kebangkitan nasional awal abad ke-20 memiliki ciri khas, yaitu bermula dari suatu kelompok sosial yang diikat oleh atribut kultural meliputi memori kolektif, nilai, mitos, dan simbolisme. Inilah yang disebut sebagai “nasionalisme kultural”,  yang emansipatoris, dan mencari landasan identitas pada keutuhan kultural (Abdullah, 2001: 30-41). Jadi dalam hal ini, nasionalisme lebih merupakan sebuah fenomena budaya daripada fenomena politik karena dia berakar pada etnisitas dan budaya pramodern kemudian bertransformasi menjadi sebuah gerakan politik sebagai sarana mendapatkan kembali harga diri etnik sebagai modal dasar dalam membangun sebuah negara berdasarkan kesamaan budaya (Amir, 2004).

Potret Nasionalisme Masa Kini

Ketika negara yang bernama Indonesia akhirnya terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan penghuninya yang disebut bangsa Indonesia, persoalan ternyata belum selesai. Bangsa Indonesia masih harus berjuang dalam perang kemerdekaan antara tahun 1945-1949, tatkala penjajah menginginkan kembali jajahannya. Nasionalisme kita saat itu betul-betul diuji di tengah gejolak politik dan politik divide et impera Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, nasionalisme bangsa masih terus diuji dengan munculnya gerakan separatis di berbagai wilayah tanah air hingga akhirnya pada masa Demokrasi Terpimpin,  masalah nasionalisme diambil alih oleh negara. Nasionalisme politik pun digeser kembali ke nasionalisme politik sekaligus kultural. Dan, berakhir pula situasi ini dengan terjadinya tragedi nasional 30 September 1965.

Pada masa Orde Baru, wacana nasionalisme pun perlahan-lahan tergeser dengan persoalan-persoalan modernisasi dan industrialisasi (pembangunan). Maka “nasionalisme ekonomi” pun muncul ke permukaan. Sementara arus globalisasi, seakan memudarkan pula batas-batas “kebangsaan”, kecuali dalam soal batas wilayah dan kedaulatan negara. Kita pun seakan menjadi warga dunia. Di samping itu, negara mengambil alih urusan nasionalisme, atas nama “kepentingan nasional” dan “demi stabilitas nasional” sehingga terjadilah apa yang disebut greedy state, negara betul-betul menguasai rakyat hingga memori kolektif masyarakat pun dicampuri negara. Maka inilah yang disebut “nasionalisme negara” (Abdullah, 2001: 37-39).

Tahun 1998 terjadi Reformasi yang memporakporandak-an stabilitas semu yang dibangun Orde Baru. Masa ini pun diikuti dengan masa krisis berkepanjangan hingga berganti empat orang presiden. Potret nasionalisme itu pun kemudian memudar. Banyak yang beranggapan bahwa nasionalisme sekarang ini semakin merosot, di tengah isu globalisasi, demokratisasi, dan liberalisasi yang semakin menggila.

Pada akhirnya kita harus memutuskan rasa kebangsaan kita harus dibangkitkan kembali. Namun bukan nasionalisme dalam bentuk awalnya se-abad yang lalu.  Nasionalisme yang harus dibangkitkan kembali adalah nasionalisme yang diarahkan untuk mengatasi semua permasalahan di atas, bagaimana bisa bersikap jujur, adil, disiplin, berani melawan kesewenang-wenangan, tidak korup, toleran, dan lain-lain. Bila tidak bisa, artinya kita tidak bisa lagi mempertahankan eksistensi bangsa dan negara dari kehancuran total.

http://www.setneg.go.id/index.php?Itemid=219&id=2257&option=com_content&task=view

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s