KONSEPSI IBD DALAM KESUSASTRAAN

KONSEPSI IBD DALAM KESUSASTRAAN

Manusia Dan Kesusastraan

Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Manusia dan kesusastraan merupakan sebuah ikatan antara manusia dengan emosional dalam diri manusia, karena manusia tidak hanya sanggup mengekspresikan diri hanya pada bentuk fisik saja, tetapi juga bisa melalui tulisan maupun ucapan. maka dari itulah tercipta yang di sebut “SASTRA”, dimana manusia membuat suatu ekspresi jiwa tetapi menjadi lebih berseni dan indah, bahkan sampai sekarang pun peninggalan karya-karya seniman pun masih di simpan rapi dan dengan umum digunakan sebagai saran pembelajaran bagi setiap golongan masyarakat. dengan adanya kesusastraan pun, manusia jadi lebih maju untuk berkarya dan berkreatifitas tidak hanya dalam bentuk tulisan, maupun ucapan, dalam gerak mimik tubuh, torehan cat pada lukisan, bahkan momen – momen yang terjadi dimanapun di rekam dalam kamera, manusia menjadi lebih bebas berekspresi. Manusia dan sastra.
2 kata yang saling berhubungan seperti halnya budaya.
Sastra ialah suatu pencermatan terhadap suatu hal untuk di berikan kepada orang lain dari orang lain agar apa yang di siratkan di dalamnya menjadi bermakna dan terpikirkan oleh orang tersebut.
manusia sangatlah rumit untuk di jelaskan. sastra yang banyak di ciptakan manusia tidaklah semua dapat di mengerti ketika seseorang merasa terdapat kebimbangan dalam dirinya.
sastra bisa di hasilkan manusia dari pemikiran, pengalaman, pertimbangan, pengetahuan, pengelihatan, dan nilai nilai kebenaran.
manusia hidup di dunia tidak lain untuk belajar. manusia melihat apa yang dia lihat kemudian di pertimbangkan apa itu terdapat nilai-nilai dan norma kebenaran dan itu dapat menjadikan suatu sastra yang dapat di buat dalam berbagai media.

Proses Penciptaan Kesusastraan

Seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ditemukan dalam masyarakat (realitas objektif). Realitas objektif itu dapat berbentuk peristiwa-peristiwa, norma-norma (tata nilai), pandangan hidup dan lain-lain bentuk-bentuk realitas objektif itu. Ia ingin memberontak dan memprotes. Sebelum pemberontakan tersebut dilakukan (ditulis) ia telah memiliki suatu sikap terhadap realitas objektif itu. Setelah ada suatu sikap maka ia mencoba menginginkan suatu “realitas” baru sebagai pengganti realitas objektif yang sekarang ia tolak. Hal inilah yang kemudian ia mengungkapkan di dalam cipta sastra yang diciptakannya. Ia mencoba mengutarakan sesuatu terhadap realitas objektif yang dia temukan. Ia ingin berpesan melalui cipta sastranya kepada orang lain tentang suatu yang ia anggap sebagai masalah manusia.

Ia berusaha merubah fakta-fakta yang faktual menjadi fakta-fakta yang imajinasi dan bahkan menjadi fakta-fakta yang artistik. Pesan-pesan justru disampaikan dalam nilai-nilai yang artistik tersebut. Ia tidak semata-mata pesan-pesan moral ataupun khotbah-khotbah tentang baik dan buruk akan tetapi menjadi pesan-pesan yang artistik. Pesan-pesan yang ditawarkan dalam terpesona dan senandung.

Sumber referensi:

http://nesaci.com/pengertian-kesusastraan-dan-jenis-jenis-kesusastraan

http://tionih.ngeblogs.com/2010/03/23/manusia-dan-kebudayaan/#comments

http://budutpuput.blogspot.com/2010/10/manusia-dan-kesusastraan.html

http://massofa.wordpress.com/2008/10/21/pengertian-tujuan-dan-ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s