Moralitas Koruptor

ETIKA BISNIS

Moralitas Koruptor

 Wanto

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

Wanto.wanti93@yahoo.com

ABSTRAK

KKN sebagai fenomena dalam praktek bisnis.

Prilaku KKN dalam sebagaimana dijelaskan dalam pengertian tentang KKN itu sendiri adalah perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral sehingga prilaku KKN itu merupakan suatu kejahatan. Berdasarkan pengertian dari KKN dapat disimpulkan bahwa perbuatan amoral dalam bentuk KKN itu berada dalam lingkup kekuasaan. Seorang pemegang kekuasaan atau aparat birokrasi atau pengawai negeri yang menyalah gunakan kewenangannya yang berakibat kerugian ekonomi atau keuangan yang ditanggung oleh negara, adalah orang yang melakukan perbuatan yang tidak dilandasi oleh integritas moral yang baik. Kekuasaan yang dipegang oleh seorang penguasa yang tidak didasarkan pada moralitas akan cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu yang berarti merugikan orang atau kelompok lain bahkan merugikan kelompok orang yang lebih banyak yaitu negara. Demikian juga dengan penegak hukum dalam menjalankan tugas penegakan hukum, diperlukan integritas moral terutama dalam rangka memberantas KKN, oleh karena tanpa intgritas moral yang tinggi maka aparat penegak hukum tersebut dimungkinkan justru ikut terlibat dalam praktek-prkatek KKN yang akan memberikan insentif ekonomis.

Kata Kunci: Moralitas Koruptor

PENDAHULUAN

Di era globalisasi ini, banyak penyimpangan dalam melaksanakan tugas dan menyalah gunakan kekuasaan yang dipercayakan oleh rakyat. Menjadi kepanjangan lidah rakyat seharusnya menjaga kepercayaan dan tanggung jawab akan beban yang dibawa, bukan menggunakan kepercayaan itu untuk kepentingan diri sendiri atau golongannya. Banyak pejabat – pejabat publik dari tingkat bawahan sampai tingkat atasan menyalah gunakan kekuasaan. Dengan berbagai alasan dan cara mereka menghalalkan tindak pidana korupsi. Korupsi tidak hanya mengambil uang bukan haknya tetapi segala sesuatu yang dapat menjurus ke arah korupsi dan yang dapat merugikan orang lain ke depannya. Sebagi contoh salah satunya ialah pemberian hadiah untuk pejabat, hal ini dilarang oleh hukum dikarenakan dapat dikategorikan sebagai menyuap pejabat dengan cara tidak langsung. Lebih baik melaporkan tindakan tersebut ke pihak yang berkepentingan untuk menjaga diri.

Pendidikan sejak dini dalam mengajarkan anti korupsi dilembaga  pendidikan sangat penting untuk menjaga generasi masa depan Indonesia. Banyak dari kasus koruptor itu merupakan orang – orang yang tidak biasa dalam pendidikan. Selain pendidikan umum, perkuat moralitas agama dalam melaksanakan dan memegang kepercayaan masyarkat yang ada pada kita.

LANDASAN TEORI

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) (selanjutnya disebut KKN) saat ini sudah menjadi masalah dunia, yang harus diberantas dan dijadikan agenda pemerintahan untuk ditanggulangi secara serius dan mendesak, sebagai bagian dari program untuk memulihkan kepercayaan rakyat dan dunia internasional dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan. Transparensy International menggunakan definisi korupsi sebagai: “menyalahgunakan kekuasaan dan kepercayaan publik untuk keuntungan pribadi” (Pope, 2003 :6).

Dalam definisi tersebut, terdapat tiga unsur dari pengertian kurupsi, yaitu :

  1. Menyalahgunakan kekuasaan ;
  2. Kekuasaan yang dipercayakan (yaitu baik di sektor publik maupun di sektor swasta), memiliki akses bisnis atau keuntungan materi;
  3. Keuntungan pribadi (tidak selalu berarti hanya untuk pribadi orang yang menyalahgunakan kekuasaan, tetapi juga anggota keluarganya dan teman-temannya).

Istilah korupsi berasal dari perkataan latin “coruptio” atau “corruptus” yang berarti kerusakan atau kebobrokan (Focus Andrea dalam Prodjohamidjojo, 2001 : 7). Pada mulanya pemahaman masyarakat tentang korupsi mempergunakan bahan kamus, yang berasal dari bahasa Yunani Latin “corruptio” yang berarti perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar normanorma agama materiil, mental dan hukum (Nurdjana, 1990 : 77). Pengertian tersebut merupakan pengertian yang sangat sederhana, yang tidak dapat dijadikan tolak ukur atau standart perbuatan KKN, sebagai tindak pidana korupsi oleh Lubis dan Scott ( 1993 : 19) dalam pandangannya tentang korupsi disebutkan “dalam arti hukum, korupsi adalah tingkah laku yang menguntungkan kepentingan diri sendiri dengan merugikan orang lain, oleh para pejabat pemerintah yang langsung melanggar batas-batas hukum atas tingkah laku tersebut, sedangkan menurut norma-norma pemerintah dapat dianggap korupsi apabila hukum dilanggar atau tidak dalam bisnis

tindakan tersebut adalah tercela”. Jadi pandangan tentang Korupsi masih ambivalen hanya disebut dapat dihukum apa tidak dan sebagai perbuatan tercela. Korupsi dalam kamus Ilmiah Populer mengandung pengertian kecurangan, penyelewengan/ penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan diri; pemalsuan (Partanto dan Al Barry 1994 : 375). Beberapa pengertian korupsi menurut John A. Gardiner dan David J. Olson sebagaimana yang dikutip oleh Martiman Prodjohamidjojo (2001 : 8-12) antara lain :

  1. Rumusan Korupsi dari sisi pandang teori pasar

Jacob Van Klaveren mengatakan bahwa seorang pengabdi negara (pegawai negeri) yang berjiwa korup menganggap kantor/instansinya sebagai perusahaan dagang, sehingga dalam pekerjaannya diusahakan pendapatannya akan diusahakan semaksimal mungkin.

  1. Rumusan yang menekankan titik berat jabatan pemerintahan
  2. Mc. Mullan mengatakan bahwa seorang pejabat pemerintahan dikatakan korup apabila menerima uang yang dirasakan sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam tugas dan jabatannya padahal seharusnya tidak boleh melakukan hal demikian selama menjalankan tugas. J.S. Nye berpendapat bahwa korupsi sebagai prilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu peran instansi pemerintah, karena kepentingan pribadi (keluarga, golongan, kawan, teman), demi mengejar status dan gensi, atau melanggar peraturan dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh bagi kepentingan pribadi.
  3. Rumusan korupsi dengan titik berat pada kepentingan umum.

Carl J. Friesrich, mengatakan bahwa pola korupsi dikatakan ada apabila seorang memegang kekuasaan yang berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu seperti seorang pejabat yang bertanggung jawab melalui uang atau semacam hadiah lainnya yang tidak dibolehkan oleh undangundang; membujuk untuk mengambil langkah yang menolong siapa saja yang menyediakan hadiah dan dengan demikian benar-benar membahayakan kepentingan umum.

  1. Rumusan korupsi dari sisi pandangan sosiologi

Makna korupsi secara sosiologis dikaji oleh Martiman Prodjohamiodjojo dengan mengemukakan pendapat Syeh Hussein Alatas yang mengatakan bahwa : “Terjadi korupsi adalah apabila seorang pengawai negeri menerima pemberian yang disororkan oleh seorang dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada kepentingan-kepentingan sipemberi. Kadang-kadang juga berupa perbuatan menawarkan pemberian uang hadiah lain yang dapat menggoda pejabat. Termasuk dalam pengertian ini juga pemerasan yakni permintaan pemberian atau hadiah seperti itu dalam pelaksanaan tugas-tugas publik yang mereka urus bagi keuntungan mereka sendiri (Prodjohamidjojo, 2001 : 11)

Unsur-unsur korupsi menurut Kurniawan et. al. (2003 : 15) adalah :

  1. Tindakan melawan hukum
  2. Menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.
  3. Merugikan negara baik secara langsung maupun tidak langsung.
  4. Dilakukan oleh pejabat publik/penyelenggara negara maupun masyarakat. 

Pengertian bisnis, hukum bisnis dan etika bisnis

Untuk mengkaji KKN sebagai fenomena sosial dam praktek bisnis, maka terlebih dahulu harus diketahui batasan tentang definisi bisni, hukum bisnis maupun etika dalam dunia bisnis itu sendiri. Bisnis menurut Abdurrachman sebagaimana yang dikutip oleh Fuady (2002 : 2) adalah suatu urusan atau kegiatan dagang, industri atau keuangan yang dihubungakan dengan produksi atau pertukaran barang atau jasa. Orientasi atau motif dari suatu kegiatan bisnis ini menurut Friedman (Fuady, 2002 :2) adalah untuk mendapatkan keuntungan dengan menempatkan uang dari para entrepreneur dalam risiko tertentu dengan usaha tertentu. Pengertian ini dapat disimpulkan bahwa bisnis adalah suatu kegiatan dalam bidang ekonomi dalam rangka peningkatan tarap hidup melalui pendapatan keuntungan dari kegiatan ekonomi itu.

Pengertian penegakan hukum

Hukum merupakan lembaga sosial yang diciptakan baik untuk mencapai tujuan-tujuan sosial atau untuk memenuhi kebutuhan kepentingan masyarakat maupun untuk melindungi kepentingan-kepentingan individu alam kehidupan bermasyarakat. Hukum merupakan sarana pengintegrasi dari berbagai aspek kehidupan sesial. Perbuatan KKN merupakan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan sosial karena KKN menciptakan kondisi yang diskriminatif sehingga mengganggu rasa keadilan masyarakat. Dengan demikian disinilah perlunya aturan hukum untuk menanggulangi KKN agar tujuan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan keadilan, kesejahteraan dan ketertiban masyarakat maka hukum harus ditegakkan yang akan memberikan kepastian hukum kepada setiap orang. Istilah Penegakan hukum dalam bahasa Indonesia dikenal beberapa istilah seperti “penerapan hukum, dan pelaksanaan hukum”. Dalam bahasan asing juga mengenal berbagai istilah seperti : rechstoepassing, rechshandhaving (Belanda), law enforcement, application (Amerika) (Rahardjo, 2000 : 181). Mertokusumo (1996 : 36) memberikan batasan tentang penegakan hukum yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan pelaksanaan hukum, yaitu bahwa : “Pelaksanaan hukum dapat berarti menjalankan hukum tanpa ada sengketa atau pelanggaran. Ini meliputi pelaksanaan hukum oleh setiap warga negara setiap hari yang tidak disadarinya dan juga oleh aparat negara, seperti misalnya polisi yang berdiri di perempatan jalan mengatur lalu lintas (Law enforcement). Di samping itu pelaksanaan hukum dapat terjadi kalau ada sengketa, yaitu yang dilaksanakan oleh hakim. Ini sekaligus merupakan penegakan hukum.”

Kekuasaan, integritas moral dan penegakan hukum terhadap KKN dalam praktek bisnis

  1. Pengertian Kekuasaan

Manusia adalah samping sebagai makhluk biologis juga merupakan makhluk sosial yang tidak bida hidup tanpa bekerja sama dengan manusia atau makhluk lainnya. Manusia selalu mempunyai insting untuk berhubungan dengan orang lain akan tetapi manusia juga memiliki hasrat untuk mempertahankan diri, dan meningkatkan kemampuan diri sendiri melebihi orang lain. Dalam diri manusia mengandung suatu kekuatan untuk menggerakkan perkembangan kehidupannya yang kemudian mengkristal dalam bentuk peradaban dan budaya.

Secara umum kekuasaan sering diartikan sebagai kekuatan atau kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi atau menggerakkan orang lain atau kelompok lain. Menurut Arif Sidarta (15-9-2003 : 4) bahwa kekuasaan adalah kemampuan manusia yang satu untuk menggerakkan manusia lainnya agar manusia lainnya tersebut melakukan prilaku tertentu. Lebih lanjut Sidarta mengatakan bahwa definisi tersebut tidak memperlihatkan perbedaan antara gerakan fisik dan cara yang khas dari seorang yang mempunyai kekuasaan atas orang lain untuk menggerakkan atau mempengaruhi orang lain. Dalam kekuasaan sesungguhnya kekuatan yang dipancarkan (dijalankan) oleh manusia yang satu terhadap manusia yang lainnya tidak hanya bersifat fisik murni., namun dalam hubungan itu terdapat juga aspek psikologisnya ; artinya, orang yang mempunyai kekuasaan itu memiliki kewibawaan tertentu.

Menurut Sidarta (15-9-2003 : 4) bahwa hal yang paling esensial dalam kekuasaan adalah bahwa kekuasaan itu mengekspresikan dan mewujudkan kemauan dari seorang pribadi dalam hubungannya dengan satu atau lebih pribadi lain dalam menjalankan kekuasaannya. Menurut pendapat Karl Marx dan Machiavelli (Suliantoro, 15-9-2003 : 1) bahwa dalam sejarah perkembangan kehidupan manusia selalu ada kelompok yang menguasai dan yang dikuasai. Beberapa konsep yang menjadi landasan untuk membangun kekuasaan yang dapat dikaji dari ajaranajaran tentang kekuasaan (Suliantoro, 15-9-2003 : 2) diantaranya adalah Plato yang berpendapat bahwa kekuasaan ditentukan oleh logos (kemanpuan berfikir) dan oleh nomos (aturan yang berlaku). Karena terpusat kepada basis bagi segala kekuasaan maka Plato menggambarka adanya “idea absolut” yang menjadio sumber kekuasaan. Penguasa yang ideal menurut Plato adalah yang dinamakan ”the philosopher king”.

Menurut Aristoteles (Suliantoro, 15-9-2003 : 2) bahwa kekuasaan memang berhubungan dengan logos , etika dan nomos (hukum) namun semua manusia itu merupakan produk dari proses empirik. Aristoteles membedakan bentuk kekuasaan menjadi demokrasi, aristokrasi, monarki dan oligarki. Menurut aliran Stoa dan Eudaimonisme (Suliantoro, 15-9-2003 : 2) bahwa kekuasaan merupakan bagian dari hidup dan kehidupan manusia dan sumber kekuasaan itu adalah kehendak (will power) dan kesenangan (eudaimonisme), walaupun amat menekankan virtue dan keseimbangan.

Fenomena KKN dalam praktek bisnis cenderung identik dengan analisa dari kaum Stoa atau aliran Eudaimonisme. Proses untuk memperoleh suatu kekuasaan didasarkan dengan kemampuan ekonomi yang pada akhirnya kekuasaan dalam jabatan berorientasi pada prinsipprinsip ekonomi, sehingga birokrasi seringkali menjadi ajang bisnis bagi para elit politik. Hal ini senada dengan analisa Karl Marx (Suliantoro, 15-9-2003 : 6) bahwa evolusi manusia menunjukkan adanya kecenderungan untuk saling menjatuhkan dalam kancah kekuasaan. Kekuasaan yang satu dijatuhkan oleh kekuasaan lain secara terus menerus. Menurut Marx bahwa faktor yang menentukan jatuh bangunnya kekuasaan adalah kekuatannya, dan kekuatan itu adalah kekuatan ekonomi. Oleh karena itu maka ekonomi merupakan basis kekuasaan.

Ada dua jenis kekuasaan menurut Socrates (Suliantoro, 15-9-2003: 2) yaitu kekuasaan yang baik dan kekuasaan yang tidak baik. Dengan demikian Socrates berpendapat bahwa kekuasaan itu harus bersumber kepada keutamaan (vertue), artinya bahwa kekuasaan itu basisnya adalah etika dan moralitas. Disinilah perlunya integritas moral yang baik dalam rangka menjalankan kekuasaan itu oleh karena dengan integritas moral yang baik maka kekuasaan itu terhindar dari perbuatan KKN.

  1. Pengertian moralitas

Moral menurut Bruggink (alih bahasa Sidarta, 1999 : 223) adalah suatu istilah yang bermakna ganda. Arti pertama adalah keseluruhan kaidah dan nilai berkenaan dengan ihwal “baik” atau perbuatan baik manusia. Sedangkan pengertian “baik” menurut Bruggink (alih bahasa Sidarta, 1999 : 223) adalah : “istilah “baik” adalah juga suatu istilah bermakna ganda . “Baik” dapat memiliki muatan moral, dan dalam arti ini “baik” di sini dipergunakan. Namun “baik” juga dapat memiliki suatu muatan yang netral, misalnya dalam putusan “hitungan itu telah dikerjakan dengan baik” atau “cuaca hari ini baik”. Pengertian lain dari Moral adalah teori tentang moral sebagai keseluruhan kaidah dan nilai. Oleh karena itu dipergunakan juga istilah “etika” (Bruggink dengan alih bahasa Sidarta, 1999 : 224-225). Lebih lanjut bruggink mengatakan bahwa etika adalah teori tentang moral dalam arti yang pertama, adalah keseluruhan kaidah dan nilai.

Moralitas adalah kualitas dalam tindakan manusia, sehingga dapat dikatakan benar atau salah, baik atau jahat, artinya bahwa moralitas berhubungan dengan nilai (Rhiti, 17-9-2003 : 1).

  1. Hubungan antara kekuasaan, moralitas dan penegakan hukum dalam penanggulangan KKN sebagai fenomena dalam praktek bisnis.

Prilaku KKN dalam sebagaimana dijelaskan dalam pengertian tentang KKN itu sendiri adalah perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral sehingga prilaku KKN itu merupakan suatu kejahatan. Berdasarkan pengertian dari KKN dapat disimpulkan bahwa perbuatan amoral dalam bentuk KKN itu berada dalam lingkup kekuasaan. Seorang pemegang kekuasaan atau aparat birokrasi atau pengawai negeri yang menyalah gunakan kewenangannya yang berakibat kerugian ekonomi atau keuangan yang ditanggung oleh negara, adalah orang yang melakukan perbuatan yang tidak dilandasi oleh integritas moral yang baik.

Kekuasaan yang dipegang oleh seorang penguasa yang tidak didasarkan pada moralitas akan cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu yang berarti merugikan orang atau kelompok lain bahkan merugikan kelompok orang yang lebih banyak yaitu negara. Demikian juga dengan penegak hukum dalam menjalankan tugas penegakan hukum, diperlukan integritas moral terutama dalam rangka memberantas KKN, oleh karena tanpa intgritas moral yang tinggi maka aparat penegak hukum tersebut dimungkinkan justru ikut terlibat dalam praktek-prkatek KKN yang akan memberikan insentif ekonomis.

Melihat dari motif untuk mendapatkan keuntungan yang menjadi orientasi suatu kegiatan bisnis untuk ini sepintas memang tidak relevan dengan suatu konsep etika atau moral dalam manajemen usahanya. Dengan demikian tidak mengherankan jika dalam praktek-praktek bisnis, dunia usaha menganggap perbuatan menyuap adalah merupakan keputusan ekonomi. Menurut pendapat Basri (Kompas, 6-1-2004 : 11) bahwa keputusan dunia usaha untuk menyuap adalah keputusan ekonomi yang didasarkan pada perhitungan manfaat (benefit) dan biaya (cost) dari aktivitas penyuapan. Artinya bahwa jika suap dapat melancarkan urusan dengan birokrasi atau memungkinkan memperoleh proteksi yang memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan besarnya suap yang harus dibayar, maka ada insentif untuk menjadi pemasok suap.

Suatu studi yang dilakukan oleh Lui pada tahun 1985 (Basri, Kompas 6-1-2004 : 11) menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, korupsi justru dapat meningkatkan efisiensi. Argumen Lui ini didukung dengan alasan teoritisnya yang dikenal dengan efficient grease (pelumas yang efisien) yang menunjukkan bahwa besarnya suap mencerminkan perbedaan biaya oportunitas dari tiap perusahaan. Jika perusahaan tersebut efisien, maka perusahaan itu hanya bersedia membayar suap yang lebih rendah dengan kata lain suap dapat memperpendek waktu dalam berurusan dengan birokrasi.

Model Pembuktian Terbalik Atau Pembalikan Beban Pembuktian Dalam Pengembalian Aset Korupsi

Korupsi yang kini dikenal sebagai kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crimes) berawal dari perbuatan suap yang telah diatur di dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana, kemudian ditegaskan secara khusus perbuatan suap di dalam Undang – Undang Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap. Perbedaan yang signifikan bahwa di dalam ketentuan KUHP, perbuatan pemberi suap (bribe-giver) tidak diancam pidana, melainkan hanya penerima suap (bribe-taker) yang diancam pidana. Adapun di dalam Undang – Undang Nomor 11 Tahun 1980, baik pemberi suap maupun penerima suap diancam dengan pidana penjara dan denda.

Keberadaan undang – undang ini sampai saat ini (30 tahun) terbukti tidak efektif karena kesulitan dalam proses pembuktia; salah satu faktor penyebabnya ialah, tidak ada pihak yang mau melaporkan kecuali keberanian dari pemberi suap karena “tekanan” pejabat publik. Ancaman hukuman terhadap baik pihak pemberi suap maupun penerima suap, sulit diterima secara akal sehat karena pembuktian kasus suap hanya mudah dilakukan jika dalam keadaan “tertangkap tangan” (red-handed), selain daripada ini, mustahil ketentuan UU Nomor 11 tahunn 1980 dapat diterapkan dengan efektif. Seharusnya, kebijakan hukum pidana memberikan perlindungan terhadap saksi pelapor, lazimnya pemberi suap (pihak swasta) seperti dalam kasus proyek infrastruktur. Namun perlindungan terhadap seorang pelapor (saksi) yang turut melakukan tindak pidana tidak dapat diberikan jaminan sepenuhnya berdasarkan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Adapun penyebab terjadinya korupsi di Indonesia menurut Abdullah Hehamahua,

berdasarkan kajian dan pengalaman setidaknya ada delapan penyebab, yaitu sebagai berikut.

  1. Sistem Penyelenggaraan Negara yang Keliru

Sebagai Negara yang baru merdeka atau Negara yang baru berkembang, seharusnya prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Tetapi selama puluhan tahun, mulai dari orde lama, orde baru sampai orde reformasi ini, pembangunan difokuskan pada bidang ekonomi. Padahal setiap Negara yang baru merdeka, terbatas dalam memiliki SDM, uang, manajemen, dan teknologi. Konsekuensinya, semuanya didatangkan dari luar negeri yang pada gilirannya, menghasilkan penyebab korupsi yang kedua, yaitu :

  1. Kompensasi PNS yang Rendah

Wajar apabila Negara yang baru merdeka tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar kompensasi yang tinggi kepada pegawainya, tetapi disebabkan prioritas pembangunan dibidang ekonomi, sehingga secara fisik dan cultural melahirkan pola yang konsumerisme, sehingga 90 % PNS melakukan KKN. Baik berupa korupsi waktu, melakukan kegiatan pungli maupun mark up kecil-kecilan demi menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran pribadi/keluarga.

  1. Pejabat yang Serakah

Pola hidup konsumerisme yang dilahirkan oleh sistem pembangunan di atas mendorong pejabat untuk menjadi kaya secara instant . Lahirlah sikap serakah dimana pejabat menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, melakukan mark up proyek-proyek pembangunan, bahkan berbisnis dengan pengusaha, baik dalam bentuk menjadi komisaris maupun menjadi salah seorang share holder dari perusahaan tersebut.

  1. Law Enforcement

Tidak Berjalan Disebabkan para pejabat serakah dan PNS-nya KKN karena gaji yang tidak cukup, maka boleh dibilang penegakan hokum tidak berjalan hamper di seluruh lini kehidupan, baik di instansi pemerintahan maupun di lemmbaga kemasyarakatan karena segala sesuatu diukur dengan uang. Lahirlah kebiasaan plesetan kata-kata seperti KUHP (Kasih Uang Habis Perkara), Tin ( Ten persen ), Ketuhanan Yang Maha Esa (Keuangan Yang Maha Esa), dan sebagainya.

  1. Disebabkan law enforcement tidak berjalan dimana aparat penegak hokum bisa dibayar mulai dari polisi, jaksa, hakim, dan pengacara, maka hukuman yang dijatuhkan kepada para koruptor sangat ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi koruptor. Bahkan tidak menimbulkan rasa takut dalam masyarakat, sehingga pejabat dan pengusaha tetap melakukan proses KKN.
  2. Pengawasan yang Tidak Efektif

Dalam sistem manajemen yang modern selalu ada instrument yang internal control yang bersifat in build dalam setiap unit kerja, sehingga sekecil apapun penyimpangan akan terdeteksi sejak dini dan secara otomatis pula dilakukan perbaikan. Internal control di setiap unit tidak berfungsi karena pejabat atau pegawai terkait ber-KKN. Beberapa informasi dalam banyak media massa, untuk mengatasinya dibentuklah Irjen dan Bawasda yang bertugas melakukan internal audit.

  1. Tidak Ada Keteladanan Pemimpin

Ketika resesi ekonomi (1997), keadaan perekonomian Indonesia sedikit lebih baik dari Thailand. Namun pemimpin di tahailand memberi contoh kepada rakyatnya dalam pola hidup sederhana dan satunya kata dengan perbuatan, sehingga lahir dukungan moral dan material dari anggota masyarakat dan pengusaha. Dalam waktu relative singkat, Thailang telah mengalami recovery ekonominya. Di Indonesia tidak ada pemimpin yang bisa dijadikan teladan, maka bukan saja perekonomian Negara yang belum recovery bahkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara makin mendekati jurang kehancuran.

  1. Budaya Masyarakat yang Kondusif KKN

Dalam Negara agraris seperti Indonesia, masyarakat cenderung paternalistic. Dengan demikian, mereka turut melakukan KKN dalam urusan sehari-hari seperti mengurus KTP, SIM, STNK, PBB, SPP, pendaftaran anak ke sekolah atau universitas, melamar kerja, dan lain-lain, karena meniru apa yang dilakukan oleh pejabat, elit politik, tokoh masyarakat, pemuka agama, yang oleh masyarakat diyakini sebagai perbuatan yang tidak salah.(Ermansjah Djaja,2010:51)

METODOLOGI PENULISAN

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diungkapkan penulis dalam penelitian ilmiah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah tindak pidana membuat jera koruptor ?
  2. Apa pentingnya pendidikan dini anti korupsi ?

Batasan Masalah

Penulis membatasi pembahasan  masalah hanya mengenai satu kasus koruptor yang tidak disebutkan secara spesifik demi menjaga nama baik.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ilmiah ini antara lain:

  1. Untuk mengetahui apakah hukum pidana membuat jera koruptor.
  2. Untuk mengetahui pentingnya pendidikan dini anti korupsi untuk generasi yang akan datang.

Manfaat Akademis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengaplikasikan pendidikan dini anti korupsi agar tidak merugikan diri sendiri dan masyarakat luas.

Manfaat Praktis

Mengetahui korupsi merupakan tindakan yang salah, yang merugikan diri sendiri dan masyarakat luas.

Objek Penelitian

Salah satu kasus korupsi di Indonesia.

Studi Kepustakaan

  1. Mencari data sekunder yang diperlukan untuk mendapatkan teori yang dibutuhkan dan relevan dengan pembahasan penulisan.
  2. Bahan-bahan yang pernah diterima di bangku kuliah yang relevan dengan pembahasan.

PEMBAHASAN

Korupsi di Indonesia sudah begitu banyak kasus, salah satu yang menggelitik ialah iklan partai yang menyatakan anti korupsi dengan beberapa artis iklannya yang menggebor – geborkan anti korupsi dan ternyata beberapa dari mereka menjadi tersangka korupsi.

Masih ingat kasus ibu pejabat yang “akan” mendirikan dinasti kekuasaan keluarga ? Orang nomor satu di daerahnya yang banyak tidak percaya akan perbuatannya itu. Daerah dekat dengan ibu kota negara, banyak infrastruktur yang rusak, kemiskinan tidak dikatakan rendah, dan tidak sedikit kejanggalan yang ada di daerah tersebut.

Koruptor pajak yang digadang – gadang pernah keluar sel tahanan dengan menggunakan rambut palsu dan berkacamata. Siapa sangka tersangka ini keluaran lembaga yang ternama, tidak satu pun di dunia lembaga pendidikan yang mengajarkan untuk melakukan korupsi. Kembali lagi pada orangnya apakah bisa menjaga kepercayaan untuk tugas – tugas yang diberikan.

Di Indonesia hukuman untuk koruptor kurang membuat jera, dari hukuman penjara, membuat miskin koruptor, yang kurang ialah hukuman sosial. Saran: dibangun gedung yang khusus menjadi museum korupsi dengan menjelaskan betapa busuknya tersangka dalam melakukan tindak korupsi. Entah ini sudah ada atau belum direalisasikan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Moralitas adalah kualitas dalam tindakan manusia, sehingga dapat dikatakan benar atau salah, baik atau jahat, artinya bahwa moralitas berhubungan dengan nilai (Rhiti, 17-9-2003 : 1).

Saran

Penulis memberikan saran untuk membuat jera koruptor, dari hukuman penjara, membuat miskin koruptor, yang kurang ialah hukuman sosial. Saran: dibangun gedung yang khusus menjadi museum korupsi dengan menjelaskan betapa busuknya tersangka dalam melakukan tindak korupsi. Entah ini sudah ada atau belum direalisasikan.

 DAFTAR PUSTAKA

ejournal.unp.ac.id/index.php/jd/article/download/2561/2166

Prof. Dr. Atmasasmita, Romli S.H., LL.M. 2014. Hukum Kejahatan Bisnis Teori & Praktik di Era Globalisasi. Jakarta: Prenamedia Group

Drs. Maryanto, M.Si., dosen PPKn FPIPS IKIP PGRI Semarang, saat sedang menempuh studi doktoral Ilmu Hukum UMS Surakarta. Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012. Pemberantasan Korupsi Sebagai Upaya Penegakan Hukum

 Ermansjah Djaja, 2010, Memberantas Korupsi Bersama KPK, Jakarta, Sinar Grafika

Iklan Dalam Etika dan Estetika

ETIKA BISNIS

Iklan Dalam Etika dan Estetika

Wanto

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

Wanto.wanti93@yahoo.com

ABSTRAK

Dalam dunia promosi produk untuk pasaran atau lebih spesifiknya yaitu mengiklankan produk harus mengaplikasikan etika dalam masyarakat guna menjaga kelangsungan bisnis agar tidak menjadi senjata makan tuan suatu hari nanti jika ada pesaing yang menggunakan slogan kata – kata dari iklan yang diterbitkan. Pengiklan harus melihat betul – betul karakteristik masyarakat luas dan juga melihat pesaing sekarang dan yang akan datang.  Untuk menghadapi semua itu pengiklan haruslah mengikuti apa yang ada di masyarakat.

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas. (K. Bertens:297)

Kata Kunci: Iklan dalam etika dan estetika

PENDAHULUAN

Periklanan atau reklame adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis modern. Kenyataan ini berkaitan erat dengan cara berproduksi industri modern yang menghasilkan produk – produk dalam kuantitas besar, sehingga harus mencari pembeli. Dan pasti ada kaitannya juga dengan sistem ekonomi pasar, di mana kompetisi dan persaingan merupakan unsur hakiki. Iklan justru dianggap cara ampuh untuk menonjol dalam persaingan. Dalam ekonomi subsistensi agraris dulu dan juga dalam ekonomi berencana komunistis dari abad ke-20 tidak dirasakan kebutuhan akan periklanan besar-besaran, walaupun dalam sistem ekonomi apa pun diperlukan metode untuk memperkenalkan produknya, sekurang – kurangnya memberitahukan tersedia tidaknya produk – produk. Dengan meningkatnya keramaian ekonomis, cakupan dan intensitas periklanan akan bertambah pula dan sebaliknya dalam keadaan resesi ekonomi kegiatan reklame akan berkurang. Dalam perkembangan periklanan, media komunikasi modern – media cetak maupun elektronis, tapi khususnya televisi – memegang peran dominan. Fenomenan periklanan ini menimbulkan berbagai masalah yang berbeda. Mungkin tidak ada kegiatan bisnis lain yang berhadapan dengan begitu banyak keritik dan tanda tanya seperti periklanan.

( K. Bertens:285)

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas. (K. Bertens:297)

LANDASAN TEORI

Fungsi Periklanan

Jika kita melihat sepintas dalam buku – buku tentang manajemen periklanan. Maka iklan dipandang di situ sebagai upaya komunikasi. Iklan dilukiskan sebagai komunikasi anatara produsen dengan pasaran, antara penjual dan calon pembeli. Dalam proses komunikasi itu iklan menyampaikan sebuah “pesan”. Dengan demikian kita mendapat kesan bahwa periklanan terutama bermaksud memberi informasi. Seolah – olah tujuannya yang terpenting adalah memperkenalkan sebuah produk atau jasa. Tetapi seluruh konteks buku – buku ini menunjukan bahwa proses komunikasi itu diadakan dalam rangka promosi. Dan kalau kita baca terus, akan kita lihat bahwa buku – buku manajemen periklanan itu secara eksplisit berbicara tentang usaha “mempengaruhi tingkah laku para konsumen” atau tema sejenis. Ternyata iklan diharapkan efektif,  sehingga produk atau jasa laris dipasaran. (K. Bertens:286)

Periklanan dan kebenaran

Pada umumnya periklanan tidak mempunyai reputasi baik sebagai pelindung atau pejuangan kebenaran. Sebaliknya, kerap kali iklan terkesan suka membohongi, menyesatkan, dan bahkan menipu publik. Periklanan hampir apriori disamakan sengan tidak bisa dipercaya. Tentu saja pembohongan, penyesatan, dan penipuan merupakan perbuatan yang – sekurang – kurangnya prima price – tidak etis. Karena itu dalam pembahsan moral ini harus kita selidiki secara khusus hubungan periklanan dengan kebenaran. Kita mulai dengan menyoroti masalah pembohongan. Apa itu pembohongan ? Belum diberi definisi lengkap, jika dikatakan pembohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar. (K. Bertens:287)

Manipulasi dengan Periklanna

Masalah kebenaran terutama berkaitan dengan segi informatif dari iklan (tapi tidak secara eksklusif), sedangkan masalah manipulasi terutama berkaitan dengan segi persuatif dari iklan (tapi tidak terlepas juga dari segi informatifnya). Dengan “manipulasi” kita maksudkan: mempengaruhi kemauan orang lain sedemikian rupa, sehingga ia menghendaki atau menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak dipilih oleh orang itu sendiri. Karena dimanipulasi, seseorang mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dirinya sendiri, tapi “ditanamkan” dalam dirinya dari luar. Contoh yang lebih jelas adalah hipnotis tanpa izin dari objek yang bersangkutan. Hipnotis adalah tindakan seseorang yang memasukan orang lain dalam keadaan setengah tidur atau setengah sadar, dimana orang itu merasakan atau melakukan hal – hal yang tidak dirasakannya atau dilakukannya dalam keadaan biasa.

Sekitar tahun 1950-an bahaya terjadinya manipulasi melalui propaganda politik dan ideologis menjadi momok yang menakuti banyak orang di masyarakat Barat. Maklumlah pada saat itu berlangsung apa yang disebut “perang dingin” antar blok komunis dan blok bebas (Amerika Serikat dan Eropa Barat). (K. Bertens:292)

Pengontrolan tentang Iklan

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas.

Kontrol oleh pemerintah

Di sini terletak suatu tugas penting bagi pemerintah, yang harus melindungi masyarakat konsumen terhadap keganasan periklanan. Mungkin dalam hal ini bisa kita belajar dari Amerika Serikat. Tidak ada negara lain di mana praktek periklanan begitu maju dan begitu intensif, namun disitu pun ada intansi – intansi pemerintah yang mengawasi praktek periklanan dengan cukup efisien, antara lain melalui Food and Drug Administration dan terutama Federal Trade Commission. Komisi terakhir ini bisa memaksakan perusahaan untuk meralat iklan – iklan yang menyesatkan. Di Indonesia iklan tentang makanan dan obat diawasi oleh Direktorat

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dari Departemen Kesehatan. (K. Bertens:297)

Kontrol oleh para pengiklan

Cara paling ampuh untuk menanggulangi masalah etis tentang periklanan adalah pengaturan diri (self – regulation) oleh dunia periklanan. Biasanya hal itu dilakukan dengan menyusun sebuah kode etik, sejumlah norma dan pedoman yang disetujui oleh profesi periklanan itu sendiri, khususnya oleh asosiasi biro – biro periklanan. Di Indonesia kita memiliki Tata krama dan tata cara periklanan Indonesia yang disempurnakan (1996) yang dilakukan oleh AMLI (Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia), ASPINDO (Asosiasi Pemrakarsa Penyatuan Iklan Indonesia), GPBSI (Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia), PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia), SPS ( Serikat Penerbit Surat Kabar) dan yayasan TVRI (Yayasan Televisi Republik Indonesia). Versi pertama dari kode etik ini telah diberlakukan pada 1981. Jika suatu kode etik disetujui, tentunya pelaksanaan harus diawasi juga. Janganlah kode etik menjadi sebuah formalitas saja yang tidak berpengaruh atas praktek sehari – hari. (K. Bertens:297)

Kontrol oleh masyarakat

Masyarakat luas tentu haarus diikutsertakan dalam mengawasi mutu etis periklanan. Dalam hal ini suatu cara yang terbukti membawa banyak hasil dalam menetralisasi efek – efek negatif dari periklanan adalah mendukung dan menggalakkan lembaga – lembaga konsumen, yang sudah lama dikenal di negara – negara maju dan sejak tahun 1970-an berada juga di Indonesia (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia di Jakarta dan kemudian Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen di Semarang). Sebetulnya setiap kota besar pantas memiliki Lembaga Swadaya Masyarakat yang bertujuan advokasi konsumen seperti lembaga – lembaga ini. Laporan – laporan oleh lembaga – lembaga konsumen tentang suatu produk atau jasa sangat efektif sebagai kontrol atas kualitasnya dan serentak juga atas kebenaran periklanan. (K. Bertens:298)

Penilaian Etis Terhadap Ikalan

Refleksi tentang masalah – masalah etis di sekitar praktek periklanan merupakan contoh bagus mengenai kompleksitas pemikiran moral. Di sini prinsip – prinsip etis memang penting, tapi tersedianya prinsip – prinsip etis ternyata tidak cukup untuk menilai moralitas sebuah iklan. Dalam penerapannya banyak faktor lain ikut berperan. Refleksi tentang etika periklanan ini mengingatkan kita bahwa penalaran moral selalu harus bernuansa dengan menyimak dan menilai situasi konkret. Prinsip – prinsip etis yang penting dalam konteks periklanan sudah dipelajari sebelumnya (tidak boleh berbohong; otonomi manusia harus dihormati). Dalam pasal terakhir ini kita memandang empat faktor berikut yang selalu harus dipertimbangkan dalam menerapkan prinsip – prinsip tersebut, jika kita ingin membentuk penilaian etis yang seimbang tentang iklan: maksud si pengiklan, isi iklan, keadaan publik yang tertuju, dan kebiasaan di bidang periklanan. Dua faktor tersebut terakhir menyangkut situasi yang berbeda – beda. (K. Bertens:298)

Industri Iklan: Penanda Hasrat Konsumsi

Kenneth A. Longman mendefinisikan iklan sebagai: “Advertising…attempts to inform and persuade a large number of people with a single line communication,” (Wilmshurst and Mackay, 2004: 23). Dari definisi tersebut tergambar dua proses kerja iklan: memberikan informasi sekaligus membujuk khalayak. Penekanan pada komunikasi satu arah yang digunakan senada pula dengan definisi advere. Ketiadaan interaktivitas ini pulalah yang membedakan iklan dengan salesperson. Definisi iklan yang diajukan Spriegel (dalam Liliweri,

1992: 18) yakni “setiap penyampaian informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan media nonpersonal yang dibayar”. Definisi ini memunculkan gagasan jenis media yang digunakan berupa media nonpersonal atau media massa. Sekaligus definisi ini menekankan pada cara penempatan iklan yang kemudian membedakannya dengan publisitas, yakni adanya harga yang harus dibayarkan oleh pihak perusahaan untuk beriklan.

Ditinjau dari segi pemasaran, jelaslah iklan telah banyak membantu dalam mendongkrak penjualan. Iklan merupakan bagian dari bauran promosi (promotional mix), yang terdiri dari pemasaran langsung (direct selling), public relations, promosi penjualan (sales promotion), dan penjualan personal (personal selling) (Lwin dan Aitchison, 2005: 5). Bauran promosi ini sebenarnya juga merupakan bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Jika iklan digunakan pemasar untuk melakukan penetrasi produk terhadap konsumen, lalu apa yang dialami konsumen? Bagaimana konsumen dapat mengingat terpaan produk yang dihadapinya setiap saat? Brand atau branding adalah jawabannya. “A name, term, sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identify the goods or services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of competitors” (De Chernatony and Riley 1997: 90) Branding sebagai kata dalam bahasa Inggris merupakan gerund dari kata ‘brand‘. Dengan demikian branding adalah kata benda dari sebuah kata kerja, menjadi suatu objek dari asalnya sebagai kegiatan. Kita biasa menyebutnya secara substitutif dengan merk. Namun dalam konteks pemasaran, istilah ‘brand‘ lebih populer digunakan karena tidak sekedar merujuk pada pemahaman merk sebagai identitas produk. Secara konseptual, branding dapat dipahami sebagai sebuah pemaknaan terhadap identitas dari apapun yang butuh ditampilkan pada publik. Tujuannya tentu saja agar mudah diidentifikasi sehingga mudah bersaing. Pada titik ini pemahaman mengenai branding dapat dimaknai tidak sekedar memberi nama pada suatu produk agar dikenal, lebih dari itu branding telah menjadi tanda yang akan dimaknai.

Apakah makna itu kemudian sebatas deskriptif mengenain fungsi benda atau lebih dari itu, maka problematisasi branding dapat mulai digagas sebagai sebuah pemikiran kritis terhadap relasi antara produksi dan konsumsi yang sedang menggejala di tengah masyarakat post-fordisme1 saat ini. Pemahaman mengenai branding dan produk secara  sederhana sebagaimana yang dijelaskan oleh Mark Batey dalam bukunya ‘Brand Meaning‘ dibawah ini: “A product becomes a brand when the physical product is augmented by something else—images, symbols, perceptions, feelings—to produce an integral idea greater than the sum of its parts. A brand might be composed of a single product, or it might be made up of multiple products that span many categories. But at its core there remains a soul, a distinctive identity and image that resonates with its consumers and transcends its physical representation in terms of product format”. (Mark Batey, 2008: 4)

Konsep tersebut merupakan konsep yang selama ini dipahami dan diyakini mengenai relasi antara branding dan suatu produk. Relasi antara branding dan produk adalah relasi imajiner yang berada dalam pikiran konsumen. Ia adalah persepsi yang dimiliki oleh konsumen yang nantinya diharapkan oleh pemasarnya akan mempengaruhi hasrat pembelian terhadap suatu produk. Maka branding memang soal pemaknaan yang sejatinya otonom dalam diri konsumen. Namun demikian, pemaknaan tidaklah selalu bebas. Ia akan tetap mengacu pada suatu konteks.

“Engrams are the transient or enduring changes in our brains that result from encoding an experience…. A typical incident in our everyday lives consists of numerous sights, sounds, actions, and words. Different areas of the brain analyze these varied aspects of an event. As a result, neurons in the different regions become more strongly connected to one another. The new pattern of connections constitutes the brain’s record of the event: the engram.” (Schachter , 1996: 59)

Secara alamiah otak manusia akan memproses pengetahuan yang nantinya akan berkembang menjadi pemaknaan dari pengalamannya. Pengalaman tentu mengacu pada realitas yang terindera, apakah terlihat, terdengar, ataupun terasa, baik secara langsung maupun termediasi.

Dalam kaitannya dengan branding, dapat dipahami bahwa sekalipun makna otonom ada pada pikiran konsumen, namun karena secara fisiologis otak manusia hanya akan memproses pengetahuan sesuai dengan acuan yang terindera, maka pemaknaan konsumen atas branding bisa direkayasa melalui penciptaan realitas yang akan dijadikan acuan oleh konsumen. Rekayasa disini jika kembali pada konsep mengenai branding dari Batey di atas, terkait dengan nilai tambah yang dilekatkan pada suatu produk sehingga memunculkan ketertarikan yang akan menjadi hasrat konsumsi. Apa sebenarnya nilai tambah itu? Penulis mengacu pada konsep Jean Baudrillard yang menyebut satu istilah yaitu ‘sign-value‘.

“In the age of mass media, exchange-value has in its turn morphed into the society-wide spread of signvalue. Heavily processed images have now become a defining social category. The mass media are no longer instruments of re-presentation, as mirrors of preexisting socio-political conditions, but, as McLuhan argues, they can be described as total environments. The media annexes and transforms its social and

cultural milieu, refashioning it in its own image. As such media come to dictate the structure and expression of everyday life, they permeate and determine all personal and collective relations, they construct and determine the wishes, desires and thoughts of the individual…”

(Taylor & Harris, 2008: 108).

Baudrillard melihat perkembangan media massa kemudian telah mengubah logika produk yang telah bergeser dari nilai guna menjadi nilai tanda. Media massa telah menampilkan produk-produk secara kompetitif sehingga audiens yang juga adalah konsumen tidak lagi melihat produk sebagai benda melainkan tanda yang bermakna. Sabun mandi bukan lagi alat pembersih kulit, melainkan tanda yang mendefinisikan kecantikan. Baju bukan lagi pelindung kulit, melainkan tanda status sosial. Konsep branding kemudian dapat dikaitkan dengan nilai tanda yang dibuat dan ditambahkan melebihi fungsi dan harga produk. Nilai tanda ini bisa berupa peningkatan status sosial, bagian dari gaya hidup populer, imajinasi atas idealitas, dan banyak lagi lainnya yang semuanya tidak lagi berkenaan dengan fungsi produk. Pada masyarakat post-fordisme, nilai tanda inilah yang kemudian mendominasi proses konsumsi yang dilakukan masyarakat.

Konsumsi pada kehidupan masyarakat urban, sebagaimana yang digagas oleh Thorstein Veblen dengan istilah ‘conspicuous consumption‘ bukan lagi soal belanja untuk memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan fungsi produk. Konsumsi telah bergeser menjadi apa yang ia sebut sebagai “…served to construct distinctive lifestyles and express status ” bagi masyarakat yang memiliki daya beli dan waktu luang. Seseorang kini membeli produk demi gaya hidup sehingga bisa jadi akan mengikuti apapun yang dianjurkan oleh pemasar produk.

Sekalipun dalam logika pemasaran dikenal banyak upaya yang dilakukan produsen dan aparatnya untuk menarik perhatian konsumen, penulis masih meyakini keampuhan iklan. Iklan dapat dianggap sebagai strategi pemasaran yang efisien, karena melalui iklan satu pesan bisa secara serentak tersampaikan kepada sekian banyak orang karena termediasi melalui media massa. Selain efisien secara media, iklan juga memiliki kemampuan persuasi. Dalam amatan penulis, iklan di media apapun selalu memiliki daya tarik. Sebab iklan memiliki kemampuan untuk menghadirkan hiper-realitas2 yang lebih lanjut berkembang menjadi konsep mengenai simulasi. Konsep ini merupakan bentuk analogi dari kecanggihan teknologi media visual yang telah mengacaukan pemahaman mengenai relasi petanda dan penanda. Gagasan linearitas dan naturalitas dalam relasi imajiner penanda dan petanda telah dikacaukan dengan konsep simulasi ini.

“Simulation, on the contrary, stems from the Utopia of the principle of equivalence, from the radical negation of the sign as value, from the sign as the reversion and death sentence of every reference. Whereas representation attempts to absorb simulation by interpreting it as a false representation, simulation envelops the whole edifice of representation itself as a simulacrum. Such would be the successive phases of the image: it is the reflection of a profound reality; it masks and denatures a profound reality; it masks the absence of a profound reality; it has no relation to any reality whatsoever; it is its own pure simulacrum”. (Baudrillard, 1981: 6)

Baudrillard memang secara spesifik menunjuk entitas media massa sebagai simulakrum yang menampilkan tidak hanya representasi realitas, melainkan juga reproduksi atas realitas yang tidak lagi mengacu pada realitas empiris. Apa yang disebut kenyataan tidak lagi sederhana sekedar kepercayaan terhadap penginderaan.

Gagasan ini bukanlah ilusi atau kebohongan. Ini adalah sebuah simulasi. Sebuah reproduksi atas kerja intelektualitas manusia saat berbenturan antara indera dan utopia. Iklan, adalah simulasi tentang hasrat. Iklan membuat simulasi untuk menstimulasi dorongan-dorongan kebutuhan dalam diri manusia. Iklan mempermainkan apa yang ada dalam diri manusia yaitu kekurangan (lackness). Menurut Jacques Lacan, hasrat terkait dengan persepsi mengenai kekurangan yang tidak akan pernah terpuaskan, apakah kekurangan menjadi (lackness of being) ataupun kurang atas sesuatu (lackness of something). Iklan, dalam hal ini melakukan rayuan terus-menerus melalui simulasi tanda untuk membuat audiens terus merasa kurang. Dengan begitu aktivitas konsumsi akan terus berlangsung seolah-olah menjadi suatu kebutuhan.

METODOLOGI PENULISAN

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diungkapkan penulis dalam penelitian ilmiah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah masyarkat berperan penting dalam tayangan iklan sehari – hari ?
  2. Apa pentingnya etika dalam periklanan ?

Batasan Masalah

Penulis membatasi pembahasan  masalah hanya mengenai satu iklan yang tidak disebutkan secara spesifik demi menjaga nama baik dan kelangsungan bisnisnya.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ilmiah ini antara lain :

  1. Untuk mengetahui apakah pengiklan tersebut melanggar etika.
  2. Untuk mengetahui pentingnya etika dalam periklanan.

Manfaat Akademis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengaplikasikan etika periklanan dalam dunia kerja agar tidak merugikan diri sendiri dan masyarakat luas.

Manfaat Praktis

Mengetahui etika periklanan yang ada sangatlah penting dalam kelangsungan bisnis yang dijalani.

Objek Penelitian

Iklan salah satu produk jamu di Indonesia.

Studi Kepustakaan

  1. Mencari data sekunder yang diperlukan untuk mendapatkan teori yang dibutuhkan dan relevan dengan pembahasan penulisan.
  2. Bahan-bahan yang pernah diterima di bangku kuliah yang relevan dengan pembahasan.

PEMBAHASAN

Dalam dunia promosi produk untuk pasaran atau lebih spesifiknya yaitu mengiklankan produk harus mengaplikasikan etika dalam masyarakat guna menjaga kelangsungan bisnis agar tidak menjadi senjata makan tuan suatu hari nanti jika ada pesaing yang menggunakan slogan kata – kata dari iklan yang diterbitkan. Pengiklan harus melihat betul – betul karakteristik masyarakat luas dan juga melihat pesaing sekarang dan yang akan datang.  Untuk menghadapi semua itu pengiklan haruslah mengikuti apa yang ada di masyarakat.

Dalam bab pembahasan ini penulis akan membahas pengiklan salah satu produk jamu di Indonesia dengan slogan “***** Pintar Minum T***k A***n”. Kata pintar diartikar oleh masyarakat luas dan pesaing adalah benar – benar haru pintar dalam segala aspek. Bagi pesaing, hal ini adalah titik balik untuk menyerang produk tersebut dengan slogannya di periklanan. Dengan adanya pesaing yang menyerang dengan slogannya maka pengiklan menambahkan (dipersingkat) slogan dengan “Pil*h Y**g Benar” dengan menambhakan benar  peingiklan bermaksud dengan memilih produk dengan benar maka seseorang tersebut sudah dikatakan pintar.

Dengan adanya perang iklan tersebut, masyarakat harus lebih pintar dalam memilih produk jangan sampai termakan oleh iklan – iklan yang setiap hari tayang di media elektronik atau dalam media lain. Peingiklan harus bisa menyampaikan iklan ke masyarakat dengan etika yang berlaku serta harus meyakinkan masyarakat dengan logika sehat.

Di era sekarang sudah banyak lembaga – lembaga yang menjaga, mengawasi, dan menindak iklan yang benar – benar melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. Serta masyarakat pun diikut sertakan dalam hal ini demi tersampainya informasi yang sebenarnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dengan kesimpulan pengiklan harus melihat betul – betul karakteristik masyarakat luas dan juga melihat pesaing sekarang dan yang akan datang.  Untuk menghadapi semua itu pengiklan haruslah mengikuti apa yang ada di masyarakat.

Karena kemungkinan dipermainkannya kebenaran dan terjadinya manipulasi merupakan hal –  hal rawan dalam bisnis periklanan, perlunya adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Pada umumnya dikatakan bahwa pengontrolan seperti tiu terutama harus dijalankan dengan tiga cara berikut ini: oleh pemerintah, oleh pengiklan sendir, dan oleh masyarakat luas. . (K. Bertens:297)

Pada umumnya periklanan tidak mempunyai reputasi baik sebagai pelindung atau pejuangan kebenaran. Sebaliknya, kerap kali iklan terkesan suka membohongi, menyesatkan, dan bahkan menipu publik. Periklanan hampir apriori disamakan sengan tidak bisa dipercaya. Tentu saja pembohongan, penyesatan, dan penipuan merupakan perbuatan yang – sekurang – kurangnya prima price – tidak etis. Karena itu dalam pembahsan moral ini harus kita selidiki secara khusus hubungan periklanan dengan kebenaran. Kita mulai dengan menyoroti masalah pembohongan. Apa itu pembohongan ? Belum diberi definisi lengkap, jika dikatakan pembohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar. (K. Bertens:287)

Saran

Penulis memberikan saran yang dapat dipertimbangkan oleh pengiklan ialah dengan cara mereview semua slogan kata – kata dan sebagainya sebelum produk tersebut untuk siap diiklankan serta berkonsultasikan dengan para ahli bahasa untuk menyesuaikan dengan etika yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. 2013. Pengantar Etika Bisnis Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius.

Baudrillard, Jean, 1981, Simulacres et simulation, Paris: Galilée, Full translation, Simulacra and Simulation, trans, Sheila Faria Glaser, Ann Arbor: University of Michigan Press, 1994.

Endang Mirasari. Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya & Media, SPS-UGM. Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol.2, No.1, April 2012. ISSN: 2088-981X. Dekonstruksi Strategi Branding Iklan Fiesta: Perspektif Etika Islam Terhadap Industri Budaya

PENGARUH SITUASI

PENGARUH SITUASI

 Pengaruh Situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek (Engel, et.al ,1994) . Situasi Konsumen adalan faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi dimana perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu (Mowen dan Minor 1998)

Pengaruh situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek. Situasi konsumen adalah faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi dimana perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu.

Jenis Situasi Konsumen

Menurut Asseal ( 1998 ) , terdapat tiga jenis situasi berkaitan dengan pemasaran yaitu : situasi konsumsi , situasi pembelian , dan situasi komunikasi.

  1. Situasi Konsumsi / Pemakai

Jenis selebihnya dari situasi konsumen adalah situasi pemakaian dimana mengacu pada latar dimana konsumsi terjadi. Dalam banyak kejadian situasi pembelian dan pemakaian sebenarnya sama , tetapi konsumsi prosuk kerap kali terjadi didalam latar yang sangat jauh, baik secara fisik maupun temporal, dari latar dimana produk diperoleh.

  1. Situasi Pembelian

Situasi pembelian merupakan situasi yang mempengaruhi keputusan konsumen. Situasi ini dapat dipengaruhi oleh strategi pemasaran dengan mendesain lingkungan di dalam toko. Situasi ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: pertama, situasi di lingkungan toko berkaitan dengan tata letak barang di rak, suasana ramai di dalam toko, ketersediaan produk, perubahan harga, dan pelayanan pramuniaga (Rohman, 1994). Kedua, situasi pembelian yang berkaitan dengan tujuan. Situasi ini menyangkut tujuan konsumen dalam berbelanja barang-barang yang akan dikonsumsi, misal konsumen membeli barang untuk hadiah atau dirinya sendiri, berbelanja bersama keluarga dan teman atau berbelanja sendiri. Ketiga, situasi pembelian berkaitan dengan mood, misal perasaan gembira atau sedih. Situasi ini sulit diantisipasi oleh pemasar. Ketiga, situasi komunikasi merupakan setting dimana konsumen tidak menyembunyikan informasi terhadap orang lain. Situasi ini berkaitan dengan perspektif waktu, ditunjukkan oleh aktivitas yang dilakukan oleh konsumen. Situasi ini dapat terjadi dari orang ke orang atau impersonal misalnya dari iklan atau informasi di dalam toko.

Situasi pembelian mengacu pada latar dimana konsumen memperoleh produk dan jasa. Pengaruh situasi sangat lazim selama pembelian. Sebagai contoh yang sederhana, pertimbangan perubahan hebat dalam kepekaan konsumen akan harga dimana situasi pembelian. Penjual makanan akan merasa sangat sulit untuk membebankan harga yang dibayar konsumen untuk soda dan jajanan dibioskop atau stadion baseball. Pengaruh situasi dapat diwujudkan diri dalam bermacam jenis cala selam situasi pembelian, beberapa bentuk utama dideskripsikan berikut ini.

  • Lingkungan informasi mengacu pada keseluruhan jajaran data yang berkaitan dengan produk yang tersedia bagi konsumen. Sifat lingkungan informasi akan menjadi determinan penting dari perilaku pasar ketika konsumen terlibat didalam semacam bentuk pengambilan keputusan non kebiasaan. Sebagian dari karakteristik lingkungan yang utama mencakupi ketersediaan informasi, jumlah beban informasi, dan cara dimana informasi disajikan dan diorganisasikan.
  • Kesediaan informasi sangat penting. Tidak adanya informasi mengenai kinerja dari merek yang bersaing mengenai beberapa sifat akan menghalangi pemakaian informasi tersebut selama pengambilan keputusan. Ketersediaan informasi kadang akan bergantung kepada kemampuan konsumen mendapatkan kembali informasi dari ingatan.
  • Beban informasi dari lingkungan pilihan ditentukan oleh jumlah alternative pilihan dan jumlah sifat peralternatif, kenaikan dalam jumlah alternative pilihan mengubah jenis kaidah keputusan yang digunakan konsumen selama mengambil keputusan.
  • Format informasi yaitu cara dimana informasi disusun. Dapat pula memperngaruhi perilaku konsumen. Pemakaian informasi harga satuan ini oleh konsumen mungkin bergantung kepada bagaimana informasi itu disusun.
  • Bentuk informasi adalah penilaian produk numeris, memungkinkan konsumen mentaksir dengan lebih mudah perbedaan diatantara banyak produk. Sebagai akibatnya, konsumen lebih cenderung membandingkan merek atas dasar sifat demi sifat ketika informasi merek disajikan dalam bentuk numeris ketimbang semantic.
  • Lingkungan eceran adalah sifat fisik dari lingkungan eceran, kerap kali diacu sebagai store atmospherics, sangat menarik bagi para pemasar karena dua alasan mendasar.
  • Pertama, berbeda dengan banyak pengaruh situasi yang berbeda di luar kendali. Kedua, pengaruh ini dibidikan kepada konsumen tepat ditempat yang benar didalam toko.
  • Musik adalah konsumen akan merasa nyaman jika membeli dengan adanya musik karena membuat semangat para pembeli semakin meningkat. Dan banyak yang dating untuk kembalinlagi ke toko mereka.
  • Tata ruang dan lokasi didalam toko dapat digunakan untuk meningkatkan kemungkinan konsumen mengadakan kontak dengan produk.
  • Warna adalah sumber pengaruh yang potensial pada persepsi maupun perilaku konsumen. Warna yang hangat, seperti merah dan kuning, tampak lebih efektif pada orang yang menarik fisik, dibandingkan dengan warna yang lebih sejuk seperti hijau dan biru.
  • Bahan POP ( point-of-purchase ) atau bahan di tempat penjualan dapt berfungsi sebagai stimulus yang sangat kuat. Peragaan dan tanda dapat meningkatkan kemungkinan menarik perhatian konsumen.
  • Wiraniaga adalalah potensi untuk memperngaruhi konsumen selama berbelanja dapat dipengaruhi secara kuat oleh staf garis depan pengecer.
  • Kesesakan adalah aspek luar dari latar eceran yang mungkin memperngaruhi perilaku berbelanja adalah tingkat kesesakan yang dirasakan yang disebabkan oleh kepadatan orang yang berbelanja didalam toko.
  • Pengaruh waktu adalah dimana situasi ini berlaku pada permintaan akan banyak produk saat musim tiba.
  1. Situasi Komunikasi

Situasi konsumsi merupakan salah satu situasi yang mana konsumen menggunakan merek atau kelompok produk tertentu. Pemasar harus mengidentifikasikan situasi konsumsi yang relevan terhadap kategori produk. Situasi komunikasi dapat didefinisikan sebagai latar dimana konsumen dihadapkan kepada komunikasi pribadi atau non pribadi. Komunikasi pribadi akan mencakupi percakapan yang mungkin diadakan oleh konsumen dengan orang lain, seperti wiraniaga atau sesame konsumen. Komunikasi non pribadi akan dilibatkan sprektum luas stimulus, seperti iklan dan program serta publikasi yang berorientasi konsumen misalnya laporan konsumen.

Untuk mengilustrasikan dampak potensial dari situasi komunikasi, mari kita pertimbangkan bagaimana situasi komunikasi itu dapat mnentukan keefektifan iklan televise. Kita berfokus pada bentuk komunikasi tertentu karena dua alasan. Pertama, pengeluaran pada iklan TV kerap mendapat bagian yang bermakna dari anggaran promosi. Dalam kontes ini sejumlah karakteristik situasi mungkin muncul kepermukaan sebagai determinan yang potensial dari suatu keefektifan iklan.Pengaruh situasi mungkin pula timbul dari program tertentu dimana suatu iklan muncul.

Perkembangan Kelompok Sosial Dalam Masyarakat Multikultural

Pembentukan Kelompok Sosial

Manusia dilahirkan kedunia seorang diri, tetapi kemudian hidup berkelompok dengan keluarganya. Seperti kita ketahui, manusia pertama adam telah ditakdirkan untuk hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama hawa.
Mereka lalu beranak pinak, terbentuklah keluarga, kelompok social, kelompok kekerabatan, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Proses pembentukan kelompok sosial.

Didalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang paling penting ialah reaksi yang tinbul akibat hubungan-hubungan social tersebut. Reaksi yang timbul itu, menyebabkan tindakan dan tanggapan seseorang menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau seseorang mempunyai teman, dia memerlukan reaksi, entah yang berujut pujian atau celaan, yang mendorong munculnya tindakan-tindakn selanjutnya.

Persyaratan atau factor-faktor pembentukan kelompok social.

Perkembangan Kelompok Sosial

Kelompok social bukan merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok social selalu mengalami perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok social sifatnya lebih stabil daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami peubahan yang mencolok. Namun, adapula kelompok social yang mengalami perubahan yang cepat, walaupun tidak ada pengaruh dari luar.

Perubahan kelompok sosial.

Kelompok social umumnya mengalami perubahan akibat proses revolusi karena pengaruh dari luar. Keadaan tidak stabil pada kelompok social dapat terjadi sebagai akibat konplik antar kelompok karena kurangnya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam kelompok tersebut.

  1. ciri-ciri kelompok social.

Menurut sherif kelompok social memiliki ciri-ciri berikut ini.

  • Terdapat dorongan atau motif yang sama pada setiap anggota kelompok yang menyebabkan terjadinya interaksi kearah tujuan yang sama.
  • Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan dari individu-individu serta reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat didalamnya.
  • Pembentukan penegasan struktur kelompok yang jelas dan terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarki yang lambat laun berkembang dengan sendirinya dalam pencapaian tujuannya.
  • Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma sebagai pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.

Eksperimen Dinamika Kelompok Sosial

Floyd D.Ruch dalam bukunya, Psychologi and life, menegaskan bahwa dinamika kelompok atau (group dynamics) merupakan hasil interaksi yang dinamis diantara individu-individu dalam situasi social.

Pengaruh Situasi Yang Tak Terduga.

Pemasar kadang bertanya kepada konsumen target mengenai maksud pembelian mereka untuk meramalkan permintaan produk pada masa datang. Walaupun maksud pembelian dapat dalam kondisi yang tepat. Bersifat prediktif mengenai perilaku masa datang, satu ancaman besar terhadap daya prediktif mereka adalah gangguan yang disebabkan oleh pengaruh situasi yang tak terduga.

Contoh, seorang konsumen mungkin sepenuhnya mengantisipasikan pembelian merek kripik kentang tertentu selama kunjungan yang berikutnya ke took makanan. Namun, maksud pembelian ini mungkin tidak terpenuhi bila produk tersebut habis atau bila ada merek lain dengan kualitas sama dijual disana. Sebaliknya, seorang konsumen mungkin tidak berminat untuk membeli suatu produk sewaktu disurvai pada waktu tertentu. Namun, pembelian berikutnya mungkin terjadi karena semacam kejadian yang tidak diantisipasikan (misalnya, orang yang bukan peminum kopi membeli kopi untuk orangtuanya yang suka minum kopi).
Dari perspektif pemasaran, pokok penting di sini secara sederhana adalah bahwa orang harus mengenali potensi pengaruh situasi yang tak terduga yang dapat merusak keakuratan ramalan yang di dasarkan pada maksud pembelian. Walaupun kerap diharapkan bahwa efek seperti ini akan cenderung diseimbangkan (yaitu jumalah pelanggan yang hilang karena pengaruh situasi yang tak terduga akan diimbangi oleh jumlah yang didapat karena alasan yang sama), kenyataan mungkin tidak demikian.

Sumber:

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/11/%E2%80%9Cpengaruh-situasi-konsumen%E2%80%9D/

http://earldimara.blogspot.com/2011/10/pengaruh-situasi.html

http://prasetyoeko23.blogspot.com/2011/12/pengaruh-situasi-bagi-konsumen.html

http://cancer-pinky.blogspot.com/2009/12/interaksi-individu-dengan-situasi.html

PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA DALAM PERILAKU KONSUMEN

PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA DALAM PERILAKU KONSUMEN

 

Keluarga Dan Studi Perilaku Konsumen

Studi tentang keluarga dan hubungan mereka dengan pembelian dan konsumsi adalah penting, tetapi kerap diabaikan dalam analisis perilaku konsumen. Pentingnya keluarga timbul karena dua alasan.

Pertama, banyak produk yang dibeli oleh konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga. Rumah adalah contoh produk yang dibeli oleh kedua pasangan, barangkali dengan melibatkan anak, kakek-nenek, atau anggota lain dari keluarga besar. Mobil biasanya dibeli oleh keluarga,dengan kedua pasangan dan kerap anak remaja mereka terlibat dalam pelbagai tahap keputusan. Bentuk favorit dari kegiatan waktu senggang bagi banyak keluarga adalah berkunjung ke pusat perbelanjaan setempat. Kunjungan tersebut kerap melibatkan banyak anggota keluarga yang membeli pelbagai barang rumah tangga, busana, dan barangkali bahan makanan. Perjalanan tersebut mungkin pula melibatkan semua anggota dalam memutuskan di restoran fast-food mana untuk membelanjakan pendapatan keluarga yang dapat digunakan.

Kedua, bahkan ketika pembelian dibuat oleh individu, keputusan pembelian individu bersangkutan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota lain.dalam keluarganya. Anak-anak mungkin membeli pakaian yang dibiayai dan disetujui oleh orang tua. Pengaruh seorang remaja mungkin pula besar sekali pada pembelian pakaian orangtua. Pasangan hidup dan saudara kandung bersaing satu sama lain dalam keputusan tentang bagaimana pendapatan keluarga akan dialoksikan untuk keinginan individual mereka. Orang yang bertanggung jawab untuk pembelian dan persiapan makanan keluarga mungkin bertindak sebagai individu di pasar swlayan, tetapi dipengaruhi oleh preferensi dan kekuasaan anggota lain dalam keluarga. Konsumen tersebut mungkin menyukai makanan dan kegiatan waktu senggang yang sama, dan mengemudikan merek mobil yang sama dengan anggota yang lain dalam keluarga. Pengaruh keluarga dalam keputusan konsumen benar-benar meresap.

Studi tentang keputusan keluarga sebagai konsumen kurang lazim dibandingkan studi tentang individu sebagai konsumen. Alasan untuk pengabaian dalam studi pembelian keluarga adalah kesulitan dalam mempelajari tentang keluarga sebagai organisasi. Survey dan metodologi penelitian pemasaran lain lebih mudah dijalankan untuk individu daripada untuk keluarga. Pemberian kuesioner kepada seluruh keluarga membutuhkan akses ke semua anggota pada waktu yang lebih kurang sama, dengan menggunakan bahasa yang mempunyai makna sama bagi semua anggota keluarga, dan menafsirkan hasil ketika anggota dari keluarga yang sama melaporkan opini yang bertentangan mengenai apa yang dibeli oleh keluarga atau pengaruh relative dalam keputusan tersebut.

Pengaruh Keluarga dan Studi Perilaku Konsumen

Keluarga (family), merupakan suatu init masyarakat yang terkecil yang perilakunya sangat mempengaruhi dan menetukan dalam pengambilan keputusan membeli. dalam keluarga, terdapat perilaku-perilaku seperti:

  • Initiator (pemberi ide), yaitu inisiator keluarga mengenai pembelian produk dan pengumpul informasi untuk membantu pengambilan keputusan
  • Influnecer (pemberi pengaruh), yaitu individu yang dimintai pendapat sehubungan dengan kriteria yang harus digunakan dalam mengambil keputusan untuk membeli produk.
  • Decider (pengambilan keputusan), yaitu orang yang memiliki wewenang atau kekuasaan keuangan untuk memilih bagaimna uang keluarga akan dibelanjakan atau merek mana yang akan dipilih
  • Buyer (pembeli), yaitu orang yang bertindak sebagai agen pembelian yang mengujungi toko, menghubungi penyuplai, membawa produk ke rumah, dan lain sebagaimana.
  • User (pemakai), yaitu orang yang menggunakan produk.

Penentu Keputusan Pembelian Pada Suatu Keluarga

Keluarga memiliki pendapatan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga karena jumlah yang lebih banyak dari individu yang bekerja di dalam keluarga. Untuk keluarga maupun rumah tangga, keempat variabel structural yang paling memberi dampak pada keputusan pembelian dan yang demikian paling menarik bagi pemasar adalah usia kepala rumah tangga atau keluarga, ststus perkawinan, kehadiran anak, dan ststus pekerjaan.
Keluarga adalah sama dengan perusahaan; keluarga adalah organisasi yang terbentuk untuk mencapai fungsi tertentu yanmg lebih efektif dibandingkan individu yang hidup sendiri. Fungsi yang paling jelas bahwa dua oramg dapat mencapai lebih baik daripada satu orang adalah mempunyai anak. Walaupun analisis konsumen mungkin tidak mempunyai opini mengenai apakah keluarga harus mempunyai anak atau tidak. Konsekuensi ekonomi dengan hadirnya anak menciptakan struktur permintaan akan pakaian, makana, perbot, rumah, perawatan kesehatan, pendidikan dan produk.lain. anak di dalam keluarga dapat menyebabkan menurunnya permintaan akan produk lain, seperti perjalanan, restoran, pakaian orang dewasa, dan banyak barang yang bebas pilih.

Family Life Cycle ( Flc )

Konsep family life cycle merupakan alat untuk menggambarkan serangkaian tahap perkembangan kebanyakan keluarga. Untuk menggambarkan realitas berbagai macam tatanan keluarga dan gaya hidup sekaranag maka konsep family life cycle dapat dibagi dua :

Skema Family Life Cycle Tradisional

Tahap 1, masa lajang, orang muda lajang hidup terpisah dari orang tua.

Tahap 2, pasangan yang berbulan madu.

Tahap 3, orang tua, mempunyai satu anak dan tinggal serumah.

Tahap 4, pasca orang tua, suami istri yang sudah tua, anak-anak tidak tinggal serumah.

Tahap 5, disolusi, seorang suami atau istri yang masih hidup.

Tahap-tahap Family Life Cycle Alternatif

  • Rumah tangga keluarga terdiri dari, pasangan yang tidak punya anak, pasangan yang terlambat menikah, orang tua tunggal dan keluarga diperluas.
  • Rumah tangga bukan keluarga yaitu pasangan tidak menikah, pasangan bercerai tanpa anak, orang lajang, dan janda atau duda yang sudah tua.

Perubahan Struktur Keluarga Dan Rumah Tangga

Memahami perubahan struktur keluarga dan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan sebagai konsumen. Keputusan membeli dalam keluarga di pengaruhi oleh keadaan sudah menikah atau belum, ukuran jumlah anggota keluarga, hal tersebut mempengaruhi jumlah belanjaan yang akan dibeli maupun budget yang akan di siapkan untuk mengambil keputusan dalam hal membeli suatu barang. Banyak dari mereka benar-benar menghitung jumlah pengeluaran mereka sesuai dengan keadaan yang mereka hadapi dalam keluarga mereka sehari-hari, mana yang sekiranya menjadi keputusan yang utama mana yang belum menjadi prioritas saat itu.

Metode Riset untuk Mengetahui Pengambil Keputusan oleh Keluarga

Metode yang digunakan untuk bermusyawarah antar keluarga dengan menggunakan bahasa yang mempunyai makna  yang sama bagi semua anggota keluarga, dan dapat memberikan hasil ketika anggota keluarga yang sama mengeluarkan pendapat  yang bertentangan mengenai apa yangdituju oleh keluarga atau pengaruh relative dalam keputusan tersebut.

Sumber:

http://ririsyukriati.blogspot.com/2013/01/pengaruh-keluarga-dan-rumah-tangga.html

http://kacibi.blogspot.com/2012/12/12-pengaruh-keluarga-dan-rumah-tangga.html

https://bobby2pm.wordpress.com/2014/01/04/pengaruh-keluarga-dan-studi-perilaku-konsumen/

http://blapah-coklat.blogspot.com/2010/03/perilaku-konsumen.html

PENGARUH INDIVIDU

PENGARUH INDIVIDU

 Pengaruh Individu Terhadap Perilaku Konsumen

Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat. Dalam ilmusosial, individu juga berarti bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisahkan lagi menjadi bagian yang lebih kecil.

Pengaruh personal atau individu merupakan factor yang mempengaruhi perilaku konsumen yang berasal dari factor pada diri si konsumen, yang diantaranya :

Usia dan tahap daur hidup

Orang akan mengubah barang dan jasa yang mereka beli sepanjang kehidupan mereka. Kebutuhan dan selera seseorang akan berubah sesuai dengan usia. Pembelian dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga. Sehingga pemasar hendaknya memperhatikan perubahan minat pembelian yang terjadi yang berhubungan dengan daur hidup manusia.

Pekerjaan

Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Dengan demikian pemasar dapat mengidentifikasi kelompok yang berhubungan dengan jabatan yang mempunyai minat di atas rata-rata terhadap produk mereka.

Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi sangat mempengaruhi pilihan produk. Pemasar yang produknya peka terhadap pendapatan dapat dengan seksama memperhatikan kecenderungan dalam pendapatan pribadi, tabungan dan tingkat bunga. Jadi jika indicator-indikator ekonomi tersebut menunjukkan adanya reses, pemasar dapat mencari jalan untuk menetapkan posisi produknya.

Gaya Hidup

Orang yang berasal dari subkultur, kelas social dan pekerjaan yang sama dapat mempunyai gaya hidup yangberbeda. Gaya hidup seseorang menunjukkan pola kehidupan orang yang bersangkutan yang tercermin dalam kegiatan, minat dan pendapatnya. Konsep gaya hidup apabila gigunakan oleh pemasar secara cermat, dapat membantu untuk memahami nilai-nilai konsumen yang terus berubah dan bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi perilaku konsumen.

Kepribadian dan Konsep Diri

Tiap orang mempunyai kepribadian yang khas dan ini akan mempengaruhi perilaku pembeliannya. Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologis yang unik yang menimbulkan tanggapan relative konstan terhadap lingkungannya sendiri. Kepribadian sangat bermanfaat untuk menganalisis perilaku konsumen bagi beberapa pilihan produk atau merk, atau pemasar juga dapat menggunakan konsep diri atau citra diri seseorang. Untuk memahami perilaku konsumen, pemasar dapat melihat pada hubungan antara konsep diri dan harta milik konsumen. Konsep ini telah berbaur dalam tanggapan konsumen terhadap citra mereka.

Kelompok Referensi (Reference Group) atau Kelompok Rujukan atau Kelompok Acuan merupakan sekelompok orang yang dianggap memiliki pengaruh evaluasi, aspirasi, bahkan perilaku terhadap orang lain secara langsung ataupun tidak langsung, dan dianggap sebagai pembandingan bagi seseorang dalam membentuk nilai dan sikap umum/khusus atau pedomankhusus bagi perilaku.

Kelompok referensi memberikan standar (norma atau nilai) yang dapat menjadi perspektif penentu mengenai bagaimana seseorang berfikir atau berperilaku, dan kelompok ini berguna sebagai referensi seseorang dalam pengambilan keputusan.

Jenis-Jenis Kelompok Referensi

Kelompok referensi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

  • Kelompok Referensi Normatif
  • Kelompok Referensi Komparatif

Klasifikasi Kelompok Referensi

Berikut ini adalah pengklasifikasian kelompok referensi, yaitu:

Menurut Intensitas Interaksi dan Kedekatannya

  • Kelompok Primer (Primary)

Kelompok referensi primer melibatkan seringnya interaksi langsung dan tatap muka. Contohnya: keluarga dan sanak-saudara.

  • Kelompok Sekunder (Secondary)

Kelompok referensi sekunder, tidak terlalu sering berinteraksi dan tatap muka. Contohnya: tetangga.

Menurut Legalitas Keberadaannya

  • Kelompok Formal

Kelompok referensi formal memiliki struktur yang dirinci dengan jelas. Contohnya: kelompok kerja di kantor atau tim per divisi.

  • Kelompok Informal

Kelompok referensi informal tidak dirinci secara jelas. Contohnya: kelompok persahabatan, teman sekolah atau kuliah.

Menurut Status Keanggotaan dan Pengaruhnya

  • Kelompok Aspirasi (Aspirational)

Seorang bercita-cita untuk bergabung atau menandingi kelompok referensi aspirasi.

  • Kelompok Disosiasi (Dissociative)

Seseorang berupaya menghindari kelompok referensi disosiasi.

  • Kelompok Membership

Seseorang menjadi anggota formal dari suatu kelompok referensi. Contohnya: kelompok pecinta alam.

Faktor Yang Mempengaruhi Seseorang Menjadi Bagian Dari Kelompok Referensi

Kecenderungan orang untuk menjadi bagian dari kelompok acuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu:

  • Keakraban
  • Ekspos terhadap seseorang (Mere Exposure)
  • Kepaduan kelompok.

Kelompok Referensi Dalam Pemasaran

Kelompok referensi mempengaruhi perilaku seseorang  dalam pembelian dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku. Anggota kelompok referensi sering menjadi penyebar pengaruh dalam hal selera. Oleh karena itu konsumen selalu mengawasi kelompok tersebut baik prilaku fisik maupun mentalnya.

Kelompok referensi (yang paling berpengaruh terhadap konsumen) mempengaruhi orang lain melalui norma, informasi dan kebutuhan nilai ekspresif konsumen. Berikut ini penjelasan darimacam-macam pengaruh tersebut:

  • Pengaruh Normatif

Ketika seorang individu memenuhi harapan kelompok untuk mendapatkan hadiah langsung atau menghindari hukuman

  • Pengaruh Informasi

Perilaku dan pendapat kelompok referensi digunakan sebagai berguna potongan informasi yang berpotensi

  • Pengaruh Ekspresi Nilai

Ketika seorang individu kelompok menggunakan norma dan nilai-nilai dianggap sebagai panduan bagi sikap mereka sendiri atau nilai-nilai.

Para pemasar tertarik pada kemampuan kelompok referensi untuk mengubah sikap dan perilaku konsumen dengan mendorong timbulnya kesesuaian. Untuk dapat mempunyai pengaruh tersebut, kelompok referensi harus melakukan hal – hal berikut ini:

  • Memberitahukan  atau  mengusahakan agar orang menyadari adanya suatu produk menarik / merk khusus.
  • Memberikan  kesempatan pada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok.
  • Mempengaruhi  individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok.
  • Membenarkan  keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok.

Terdapat beberapa bentuk kelompok acuan yang dapat mempengaruhi konsumen dalam perilaku konsumsi, yaitu:

  • Kelompok pertemanan
  • Kelompok belanja
  • Kelompok kerja
  • Komunitas maya
  • Kelompok aksi konsumen.

Dalam strategi pemasaran, agar dapat diterima konsumen maka informasi disampaikan oleh opinion leader yang sesuai dengan karakteristik produk atau jasa yang ditawarkan. Seorang pemberi opini ini adalah orang yang sering kali mampu mempengaruhi sikap atau perilaku orang lain. Opinion leader memiliki sumber informasi yang berharga. Daya tarik kelompok referensi dalam pemasaran melalui:

  • Selebriti
  • Tenaga ahli / Pakar
  • Orang biasa
  • Juru bicara eksekutif dan karyawan
  • Karakter fiktif
  • Kelompok referensi lain

Pemasar harus dapat mengidentifikasi peran seseorang di dalam kelompoknya dalam pengambilan keputusan, dan harus menekankan pada si pengambil keputusan. Penyesuaian dilakukan hanya untuk sekadar menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok atau penyesuaian yang mengubah kepercayaan. Orang butuh untuk menilai opini dan kemampuan mereka dengan membandingkannya dengan opini dan kemampuan orang lain.

Pengaruh Kata-kata Positif

Kata-kata positif atau kalimat positif adalah ucapan-ucapan yang berkonotasi baik dan memberikan perasaan menyenangkan bagi yang mendengarnya. Kata-kata baik yang diucapkan dengan perasaan yang baik, mampu memancarkan aura positif yang dapat mempengaruhi suasana hati  menjadi positif pula.

Penelitian Dr. Masaru Emoto tentang pengaruh kata-kata positif terhadap benda-benda, seperti air, mampu mengubah kristal air menjadi sangat indah, dibandingkan ketika air yang sama diberi penguatan kata-kata negatif yang membuat kristal air tersebut rusak tak berbentuk. Bayangkan pengaruh kata-kata terhadap diri kita, manusia yang 70% tubuhnya terdiri dari cairan.

Pada dasarnya, kata-kata yang diucapkan oleh manusia memberikan getaran yang menyampaikan perasaan kita terhadap manusia yang lain. Demikian pula halnya saat kita menggunakan kata-kata positif terhadap anak, tersampaikan pulalah perasaan kita yang positif itu sehingga membekas di hati anak dan berperan dalam pemilihan kata yang akan digunakan oleh anak tersebut yang pada waktunya akan turut membentuk karakter dan kepribadiannya.

Sumber:

http://donprams.blogspot.com/2013/11/kelompok-referensi.html

http://ahmadmuhajirs.blogspot.com/2013/11/pengaruh-individu-terhadap-perilaku.html

http://ninnetar.blogspot.com/2013/06/pengaruh-kata-kata-positif-dalam.html

Keadilan Dalam Bisnis

ETIKA BISNIS

Keadilan Dalam Bisnis

 

Wanto

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

Wanto.wanti93@yahoo.com

ABSTRAK

Pertentangan kepentingan di dalam dunia bisnis seringakali dikaitkan dengan masalah keadilan dan kewajaran atau kesamaan. Bnayak pihak – pihak yang menyatakan, bahwa saat seseorang merasa dirinya menjadi korban atas tindakan diskriminasi yang dilakukan orang lain terhadap dirinya, maka dapat dikatakan dirinya tidak mendapatkan bentuk keadilan yang nyata. Begitu pula jika dirinya mendapatkan suatu bentuk tindakan yang tidak sama (berat sebelah), atau tidak mendapatkan bagian yang wajar atau sama dari beban yang ditanggungnya dalam suatu perjanjian kerjasama, maka dapat dikatakan tindakan tersebut tidak mencerminkan suatu nilai keadilan (Velasquez, 2005:99).

Dalam dunia kerja keadilan harus menjadi nomer satu untuk dijunjung tinggi hak dan kewajiban individu yang ada dalam pekerjaan. Jangan melihat keadilan dari salah satu sisi saja tetapi keadilan harus dilihat dari berbagai sisi dan sudut untuk menyeimbangkan semua hak dan kewajiban yang ada.

 

Kata Kunci: Keadilan Dalam Bisnis

PENDAHULUAN

Pertentangan kepentingan di dalam dunia bisnis seringakali dikaitkan dengan masalah keadilan dan kewajaran atau kesamaan. Bnayak pihak – pihak yang menyatakan, bahwa saat seseorang merasa dirinya menjadi korban atas tindakan diskriminasi yang dilakukan orang lain terhadap dirinya, maka dapat dikatakan dirinya tidak mendapatkan bentuk keadilan yang nyata. Begitu pula jika dirinya mendapatkan suatu bentuk tindakan yang tidak sama (berat sebelah), atau tidak mendapatkan bagian yang wajar atau sama dari beban yang ditanggungnya dalam suatu perjanjian kerjasama, maka dapat dikatakan tindakan tersebut tidak mencerminkan suatu nilai keadilan (Velasquez, 2005:99).

Dalam dunia kerja keadilan harus dijunjung tinggi untuk kelangsungan perusahaan serta kemajuan bersama. Keadilan tidak hanya hak dan kewajiban seseorang yang harus seimbang melainkan perlakuan yang sesuai dan adil antar sesama, tidak ada pembeda dengan yang lainnya. Adil dalam kompensasi karyawan serta adil dalam memberikan pekerjaan sesuai bidang masing – masing. Tidak sedikit karyawan maupun perusahaan yang tidak menjunjung nilai keadilan dalam dunia kerja. Hal ini mengakibatkan ada beberapa masalah yang akan muncul dikemudian hari seperti merasa dibedakan dengan yang lain serta merasa tertekan akan ketidakadilan. Tidak hanya atasan yang harus berlaku adil tetapi karyawan pun harus berlaku adil. Mulailah keadilan dengan hal yang sekecil mungkin, dari hal yang begitu diremehkan bisa jadi akan mengakibatkan maslah yang luar biasa dampaknya bagi perusahaan. Maka dari itu keadilan dalam dunia kerja sangat dibutuhkan. Kali ini penulis akan membahas keadilan dalam bisnis yang lebih spesifiknya keadilan dalam dunia kerja. Semoga tulisan ini dapat berguna serta bermanfaat bagi pembaca semua.

LANDASAN TEORI

Komitmen Organisasional (Organizational Commitment)

Komitmen pada organisasi merupakan salah satu aspek perilaku penting yang dapat dipakai untuk mengevaluasi kekuatan seorang manajer dan karyawan terhadap organisasi tempat bekerja. Menurut Meyer & Allen (1990; dalam Ridwan, 2009; dalam Gunawan, 2009) komitmen organisasi adalah kemauan atau keinginan yang kuat dari anggota organisasi untuk tetap berada, bekerja, dan memiliki rasa terhadap organisasi.

Komitmen organisasi menurut Gibson (1997; dalam Wahyuningsih, 2009; dalam Gunawan, 2009) adalah identifikasi rasa, keterlibatan, loyalitas yang ditampakkan oleh karyawan terhadap organisasi atau unit organisasi. Komitmen organisasi ditunjukkan dalam sikap penerimaan, keyakinan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi, dan adanya dorongan yang kuat untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi demi tercapainya tujuan organisasi. Modway, Steer, & Porter (1982; dalam Vandenberg & Lance, 1992; dalam Wahyuningsih, 2009; dalam Gunawan, 2009) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai seberapa besar seorang karyawan dalam mengidentifikasikan dirinya pada organisasi serta keterlibatannya didalam suatu organisasi. Jadi, dapat disimpulkan dari beberapa pengertian yang yang ada bahwa komitmen organisasi adalah suatu sikap memiliki, keterlibatan, tanggung jawab, loyalitas karyawan yang tinggi terhadap organisasi (perusahaan).

Komitmen nampak dalam bentuk sikap yang terpisah, tetapi tetap saling berhubungan erat, yaitu: identifikasi dengan misi organisasi, keterlibatan secara psikologis dengan tujuan-tujuan organisasi, dan loyalitas serta keterikatan dengan organisasi. Ada dua pendekatan dalam merumuskan definisi komitmen dalam berorganisasi. Yang pertama melibatkan usaha untuk mengilustrasikan bahwa komitmen dapat muncul dalam berbagai bentuk, maksudnya arti dari komitmen menjelaskan perbedaan hubungan antara anggota organisasi dan entitas lainnya (salah satunya organisasi itu sendiri). Yang kedua melibatkan usaha untuk memisahkan diantara berbagai entitas di mana individu berkembang menjadi memiliki komitmen. Kedua pendekatan ini tidak compatible namun dapat menjelaskan definisi dari komitmen, bagaimana proses perkembangannya dan bagaimana implikasinya terhadap individu dan organisasi (Meyer & Allen, 1997; dalam Buchanan & Steers, 2007).

Meyer & Allen (1990; dalam Wijaya, 2002) merumuskan tiga dimensi komitmen dalam berorganisasi, yaitu: affective, continuance, dan normative. Ketiga hal ini lebih tepat dinyatakan sebagai komponen atau dimensi dari komitmen berorganisasi, daripada jenis-jenis komitmen berorganisasi. Hal ini disebabkan hubungan anggota organisasi dengan organisasi mencerminkan perbedaan derajat ketiga dimensi tersebut, adalah (Meyer & Allen, 1997; dalam Gautam, dkk, 2004):

  1. Affective commitment (komitmen afektif)

Affective commitment berkaitan dengan hubungan emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi. Anggota organisasi dengan affective commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena memang memiliki keinginan untuk itu. Komitmen afektif adalah keinginan untuk tetap terikat dan loyal baik secara emosional maupun psikologis terhadap organisasi.

  1. Continuance commitment (komitmen kontinuen)

Continuance commitment berkaitan dengan kesadaran anggota organisasi akan mengalami kerugian jika meninggalkan organisasi. Anggota organisasi dengan continuance commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena mereka memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota organisasi tersebut. Komitmen kontinuen adalah keinginan untuk tetap menjadi bagian organisasi atas dasar pertimbangan untung rugi.

  1. Normative commitment (komitmen normatif)

Normative commitment menggambarkan perasaan keterikatan untuk terus berada dalam organisasi. Anggota organisasi dengan normative commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena merasa dirinya harus berada dalam organisasi tersebut. Komitmen normatif adalah refleksi perasaan akan tanggungjawab seseorang untuk tetap menjadi bagian organisasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi adalah keadaan psikologis individu yang berhubungan dengan keyakinan, kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi, kemauan yang kuat untuk bekerja demi organisasi dan keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.

Faktor-Faktor Kepuasan Kerja

Faktor-faktor yang menentukan kepuasan kerja menurut Yuwono dan Khajar (2005) antara lain:

  1. Pekerjaan itu sendiri

Pekerjaan yang dapat memuaskan karyawan adalah pekerjaan yang memberikan status pada karyawannya. Karyawan cenderung menyukai pekerjaan yang menawarkan bermacam tugas dan tantangan yang dapat mengembangkan potensi dirinya.

  1. Gaji atau insentif

Seseorang bekerja untuk mendapatkan imbalan yang bersifat finansial, atau untuk mendapatkan sumber pendapatan yang akan meningkatkan status sosialnya atau standar kehidupannya. Karyawan menginginkan sistem kompensasi dan kebijakan promosi yang adil yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan. Gaji atau kompensasi yang dipersepsikan adil menurut karyawan akan menyebabkan kepuasan kepuasan kerja pada karyawan tersebut.

  1. Kesempatan mendapat promosi, supervisi, kolega kerja

Kesempatan mendapat promosi, supervisi, kolega kerja yang bagus akan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Adanya kesempatan promosi jabatan yang adil, mutu pengawasan yang bagus dari atasan, dan hubungan antar karyawan yang harmonis dalam perusahaan akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan.

Persepsi karyawan dalam memandang kompensasinya dapat dipengaruhi oleh karyawan itu sendiri. Kebutuhan karyawan yang ingin dipenuhi dan harapanharapan karyawan tentang penghasilan atau kompensasi yang akan diterima dapat mempengaruhi persepsi karyawan terhadap kompensasi. Dalam penelitian ini, kompensasi yang diterima karyawan sesuai dengan harapannya, maka dapa menyebabkan karyawan memiliki persepsi yang positif terhadap kompensasi. Hubungan kompensasi dan kepuasan kerja menurut Igalens dan Roussel (1999) mengemukakan bahwa flexible pay dan benefits dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Interaksi antara kompensasi dan kepuasan kerja dibangun berdasarkan persepsi adanya kepuasan atas fixed pay level, flexible pay level, benefit level, dan administration of compensation yang diberikan oleh perusahaan terhadap karyawan.

Nilai keadilan

Pertentangan kepentingan di dalam dunia bisnis seringakali dikaitkan dengan masalah keadilan dan kewajaran atau kesamaan. Bnayak pihak – pihak yang menyatakan, bahwa saat seseorang merasa dirinya menjadi korban atas tindakan diskriminasi yang dilakukan orang lain terhadap dirinya, maka dapat dikatakan dirinya tidak mendapatkan bentuk keadilan yang nyata. Begitu pula jika dirinya mendapatkan suatu bentuk tindakan yang tidak sama (berat sebelah), atau tidak mendapatkan bagian yang wajar atau sama dari beban yang ditanggungnya dalam suatu perjanjian kerjasama, maka dapat dikatakan tindakan tersebut tidak mencerminkan suatu nilai keadilan (Velasquez, 2005:99).

Nilai keadilan dan kewajaran pada dasarnya bersifat kooperatif (Velasquez, 2005:99), karena keduanya saling terikat erat antara satu dengan yang lainnya. Masalah – masalah yang berkaitan dengan keadilan atau kewajaran dibagi dalam tiga kategori (Velasquez; 2005:100), yaitu: pertama, keadilan distributif; kedua, keadilan retributif; dan ketiga, kadilan kompensatif. Berikut diuraikan definisi ketiga kategori keadilan:

  1. Keadilan distributif

Keadilan distributif adalah keadilan yang berkaitan dengan distribusi yang adil atas keuntungan dan beban dalam masyarakat (Velasquez; 2005:100). Menurut Velasquez (2005:102), keadilan distributif dibagi menjadi lima bagian, yaitu: pertama, keadilan sebagai kesamaan; kedua, keadilan berdasarkan kontribusi; ketiga, keadilan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan; keempat, keadilan sebagai kebebasan; dan kelima, keadilan sebagai kewajaran.

  1. Pertama, keadilan sebagai kesamaan, diartikan sebagai keadilan dimana semua orang harus mendapatkan keuntungan dan beban masyarakat atau kelompok dalam jumlah yang sama. Artinya, bahwa semunya harus diberikan kepada semua orang dalam jumlah yang sama. Tidak hanya sama dalam hal politik, tetapi juga sama dalam hal ekonomi. Kesamaan politik mengacu pada partisipasi yang sama atau setara dalam cara – cara pengendalian dan penanganan sistem politik, dan mencangkup hak yang sama untuk memperoleh proses yang layak. Sedangkan kesamaan ekonomi mengacu pada kesamaan penghasilan dan kekayaan serta kesamaan dalam hal memperoleh kesamaan.
  2. Kedua, keadilan berdasarkan atas kontribusi, diartikan sebagai keadilan dimana keuntungan haruslah didisstribusikan sesuai dengan nilai sumbangan individu yang diberikan pada masyarakat, tugas, kelompok, atau pertukaran. Prinsip kontribusi atau sumbangan ini, banyak digunakan dalam menentukan gaji dan upah – upah di perusahaan – perusahaan di Amerika (Velasquez, 2005:104).
  3. Ketiga, keadilan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan. Keadilan ini diartikan sebagai keadilan dimana beban kerja haruslah didistribusiakan sesuai dengan kemampuan orang – orang, dan keuntungan harus didistribusikan sesuai dengan kebutuhan mereaka. Menurut Velasquez (2005:106), keadilan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan merupakan suatu keadilan yang cenderung tidak diakui dalam dunia bisnis. Hal ini disebabkan, karena diprinsip ini tidak terdapat kaitan antara jumlah usaha yang dilakukan seorang pekerja dengan jumlah penghargaan yang diterimanya (karena penghargaan ditentukan oleh kebutuhan bukan pada usaha yang dilakukan). Selain itu, dengan deberlakukanya prinsip ini, maka secara tidak langsung akan dapat mengahncurkan kebebasan individu (pekerjaan setiap orang akan ditentukan oleh kemampuannya bukan berdasarkan atas pilihan mereka sendiri).
  4. Keempat, keadilan sebagai kebebasan. Keadilan ini diartikan sebagai keadilan dimana setiap orang berhak melakukan apa yang telah mereka pilih, sesuai dengan apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri (dengan bantuan orang lain), dan apa yang dipilih oleh orang lain untuk dilakukan bagi dirinya dan mereka pilih untuk diberikan padanya atas apa yang telah mereka berikan sebelumnya dan belum diperbanyak atau dialihkan (Velasquez, 2005:108). Secara umum hal ini diartikan, bahwa setiap orang berhak untuk memiliki segala sesuatu yang telah mereka hasilkan atau yang mereka peroleh sebagai pemberian.
  5. Kelima, keadilan sebagai kewajaran. Keadilan ini memiliki dua arti (Rawls dalam Velasquez (2005:110), yaitu pertama, keadilan dimana setiap orang memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar paling ekspresif yang dalam hal ini mirip dengan kebebasan untuk semua orang. Kedua, keadilan dimana didalamnya terdapat suatu ketidakadilan sosial dan ekonomi yang telah diatur sedemikian rupa, sehingga keduanya memiliki manfaat, yaitu memberikan keuntungan sebesar – besarnya bagi orang – orang yang kurang beruntung, dan ditangani dalam lembaga dan memperoleh kesempatan (Velasquez, 2005:110).
  1. Keadilan retributif

Keadilan retributif adalah keadilan yang berkaitan dengan pemberlakuan hukuman yang adil pada pihak – pihak yang melakukan kesalahan. Hukuman yang adil, adalah: pertama, hukuman yang layak diterima oleh pihak – pihak yang melakukan kesalahan (Velasquez, 2005:100); kedua, hukuman tersebut diberikan kepada orang – orang benar –benat melakukan apa yang dituduhkan; ketiga, hukuman tersebut haruaslah konsisten dan proporsional dengan kesalahan yang sama. Sedangkan hukuman dianggap proporsional dengan kesalahan tersebut, jika hukuman tersebut tidak lebih besar jika dibandingkan dengan kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan.

  1. Keadilan kompensatif

Keadilan kompensatif adalah keadilan yang berkaitan dengan pemberian kompensasi pada seseorang atas kerugaian yang mereka alami akibat perbuatan orang lain. Kompensasi yang adil adalah kompensasi yang proporsional dengan nilai kerugian yang diterima (Velasquez, 2005:101). Seseorang dapat dikatakan telah memiliki kewajiban moral untuk memberikan kompensasi pada pihak yang dirugikan, jika telah memenuhi syarat – syarat, sebagai berikut: pertama, tindakan yang mengakibatkan kerugian adalah kesalahan dan kelalaian. Kedua, tindakan tesebut merupakan penyebab kerugian yang sebenarnya. Ketiga, pelaku mengakibatkan kerugian secara sengaja (Velasquez, 2005:114).

Berbagai macam prinsip GCG yang dibuat oleh para ahli tersebut, pada dasarnya memiliki satu tujuan. Tujuan tersebut adalah untuk menciptakan suatu tata kelola korporasi yang baik menuju praktek  bisnis yang sehat dan profesional (Indrayani, 2001:33). Dengan mengacu pada prinsip GCG versi OECD, yang meliputi lima prinsip tersebut:

  1. Prinsip Perlindungan Terhadap Hak – Hak Para Pemegang Saham

Prinsip pertama ini menekankan pada perlindungan terhadap hak – hak para pemegang saham, dimana perlindungan tersebut meliputi; pertama, hak – hak para pemegang saham. Kedua, hak pemegang saham untuk berpartisipasi aktif dalam perusahaan dan hak mendapatkan informasi tentang keputusan yang berkaitan dengan perubahan perubahan yang fundamental. Ketiga, hak pemegang saham untuk mempunyai kesempatan yang sama dan berpartisipasi secara efektif dan mempunyai hak untuk memberikan suara dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan harus memberi informasi tentang aturan – aturan, mencakup prosedur pemberikan suara, yang mempengaruhi RUPS pemegang saham. Keempat, hak untuk mengungkap kemungkinan tidak sepadan atau tidak seimbangnya truktur modal yang mengakibatkan para pemegang saham tertentu memperoleh tingkat pengendalian yang tidak seimbang atau sepadan dengan kepemilikan ekuitas mereka. Kelima, hak untuk mendapatkan market of corporate control, dimana harus berfungsi secara efisien secara transparan, misalnya untuk aturan – aturan dan prosedur – prosedur yang mempengaruhi akuisisi tentang pengendalian korporat dalam pasar modal, dan transaksi – transaksi yang luar biasa seperti merger, dan lain – lain. Keenam, hak para pemegang saham termasuk investor kelembagaan, dalam mempertimbangkan biaya dan manfaat untuk melaksanakan pemberian suara.

  1. Prinsip Persamaan Perlakuan Terhadap Seluruh Pemegang Saham

Prinsip ini menekankan pada persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham baik mayoritas maupun minoritas dan pemegang saham asing terhadap hak – hak mereka atas: hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dan adil, hak untuk mendapatkan perlindungan dalam penyalahgunaan praktik – praktik insider trading dan self trading serta hak pemegang saham baik mayoritas maupun minoritas untuk mengungkapkan kepentingan material dalam transaksi – transaksi atau hal –hal yang mempengaruhi keputusan perusahaan.

  1. Prinsip Peranan Stakeholders yang Terkait dengan Perusahaan

Prinsip ini mengakui peran dan kerjasama dari berbagai pihak yang berkepentingan dalam perusahaan untuk membuat perusahaan tetap eksis.

  1. Prinsip Keterbukaan dan Transparansi

Prinsip ini mengandung arti, bahwa keterbukaan dan transparansi merupakan prinsip yang sangat mendasar bagi suatu perusahaan.

  1. Prinsip Akuntabilitas Dewan Komisaris

Prinsip ini mengharuskan perusahaan untuk melakukan pengungkapan atas keputusan yang dibuat oleh dewan direksi dan manajemen sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka.

Perempuan di Tempat Kerja: Kebebasan Memilih atau Kebebasan dari Pilihan ?

Keragaman ditempat kerja, khususnya keragaman gender, menimbulkan berbagai tantangan. Selama puluhan tahun dunia bisnis telah berupaya keras mengatasi pelecehan seksual dan diskriminasi gender serta membuat kebijakan untuk mengatasi hal – hal ini. Namun, isu – isu ini hanyalah sebagian kecil dari masalah yang dihadapi perempuan di tempat kerja. Memperkerjakan perempuan hanyalah langkah awal. Bagaimana setelah dipekerjakan ? Bagaimana kita dapat menjamin bahwa tempat kerja tidak semata – mata memperoleh perempuan bekerja tetapi juga mengakomodasi dan mendukung perempuan?

Masalah yang sering terabaikan namun sangat mengganggu melibatkan kebijakan perusahaan yang ada yang dapat menghalangi kemajuan profesional perempuan. Hal ini menjadi masalah baik bagi perempuan yang ingin berkarier maupun bagi perusahaan yang berisiko kehilangan  sumber daya yang berbakat sebagai hasil dari sistem yang sudah ketinggalan zaman  yang tidak dapat mengatasi kebutuhan yang semakin beragam dan kondisi tenaga kerja saat ini. (Hartman, Desjardins : 246)

METODOLOGI PENULISAN

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diungkapkan penulis dalam penelitian ilmiah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah karyawan restaurant cepat saji tersebut adil dalam melaksanakan pekerjaanya?
  2. Apa pentingnya keadilan bisnis bagi restaurant cepat saji ?

Batasan Masalah

Penulis membatasi pembahasan  masalah hanya mengenai satu restaurant cepat saji yaang tidak disebutkan secara spesifik demi menjaga nama baik dan kelangsungan bisnisnya.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ilmiah ini antara lain :

  1. Untuk mengetahui apakah restaurant cepat saji tersebut melanggar keadilan dalam bisnis.
  2. Untuk mengetahui arti keadilan dalam bisnis bagi restaurant.

Manfaat Akademis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengaplikasikan keadilan dalam bisnsi ke dalam dunia kerja agar tidak merugikan diri sendiri dan perusahaan yang menjadi mitra kerja.

Manfaat Praktis

Mengetahui keadilan dalam bisnis yang ada sangatlah penting dalam kelangsungan bisnis yang dijalani.

 Objek Penelitian

Perusahaan restaurant cepat saji yang ada di Kota Bekasi.

Studi Kepustakaan

  1. Mencari data sekunder yang diperlukan untuk mendapatkan teori yang dibutuhkan dan relevan dengan pembahasan penulisan.
  2. Bahan-bahan yang pernah diterima di bangku kuliah yang relevan dengan pembahasan.

PEMBAHASAN

Keadilan dalam dunia bisnis sangat diperlukan untuk berjalannya bisnis dengan baik. Tanpa keadilan akan mengakibatkan masalah internal maupun eksternal bisnis itu sendiri. Masalah internal yaitu terjadinya perbedaan antara karyawan satu dengan keryawan lainnya dalam berbagai hal misalnya honor, perhatian yang berbeda, dan sebagainya. Untuk masalah eksternal misalnya permasalahan internal yang dibawa ke luar ruang lingkup perusahaan. Menceritakan masalah pribadi dengan atasan perusahaan ke keluarga atau teman – teman yang lebih luas. Hal ini akan menambah buruk citra perusahaan di dunia luar sana.

Apa yang dimaksud keadilan ?

Keadilan itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Atasan sebut saja manager harus mengetahui apa yang terjadi pada karyawannya. Semisalnya telat masuk kerja, over time pada jam istirahat atau sebagainya. Sengaja atau tidak dilihat dari kebiasaan atau karakter karyawan itu sendiri. Penulis mengambil salah satu contoh yaitu masalah karyawan restaurant cepat saji yang telat. Ketika karyawan telat maka manager dengan nalurinya akan memberi peringatan, teguran atau sebagainya kepada karyawan yang telat. Tetapi manager harus ingat apakah karyawan tersebut berkarakter sering masuk telat atau tidak. Jika tidak, maka tanya apa yang menyebabkan karyawan tersebut telat masuk. Dalam masalah over time istirahat juga seperti itu dilihat dari karakter karyawan tersebut. Apakah sudah menjadi kebiasaanya atau tidak. Jika karyawan yang tidak sengaja telat karena macet atau ada keperluan lain maka hal ini mungkin bisa ditoleransi dan apabila manager menegur atau memberi peringatan yang cukup keras karena jam telat masuk tetapi ketika karyawan kerja sudah over time tidak ada “penghargaan” sama sekali ini merupakan tidak ada keadilan yang nyata.

Merebut hak individu merupakan pelanggaran dalam keadilan yang ada. Jum’at merupakan hari dimana kaum adam muslim harus menunaikan sholat jum’at berjamaah. Tetapi jika manager melarang sholat dengan alasan tidak ada karyawan laki – laki lagi di station kerja maka ini sudah melanggar hak individu untuk beribadah. Tidak semua manager seperti itu tergantung pada individu yang bertindak.

Dalam dunia kerja keadilan harus menjadi nomer satu untuk dijunjung tinggi hak dan kewajiban individu yang ada dalam pekerjaan. Jangan melihat keadilan dari salah satu sisi saja tetapi keadilan harus dilihat dari berbagai sisi dan sudut untuk menyeimbangkan semua hak dan kewajiban yang ada.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Keadilan dalam dunia bisnis sangat diperlukan untuk berjalannya bisnis dengan baik. Keadilan itu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

  1. Tidak semua karyawan melakukan pelanggaran dalam keadilan di dunia bisnis. Tetapi dilihat dari karakter karyawan itu sendiri apakah sering melanggar atau tidak.
  2. Dalam dunia kerja keadilan harus dijunjung tinggi untuk kelangsungan perusahaan serta kemajuan bersama. Keadilan tidak hanya hak dan kewajiban seseorang yang harus seimbang melainkan perlakuan yang sesuai dan adil antar sesama, tidak ada pembeda dengan yang lainnya.

Saran

Saran untuk restuarant cepat saji adalah dalam dunia kerja keadilan harus menjadi nomer satu untuk dijunjung tinggi hak dan kewajiban individu yang ada dalam pekerjaan. Jangan melihat keadilan dari salah satu sisi saja tetapi keadilan harus dilihat dari berbagai sisi dan sudut untuk menyeimbangkan semua hak dan kewajiban yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

JURNAL DINAMIKA EKONOMI & BISNIS Vol. 9 No. 2 Oktober 2012. She Hwei dan T. Elisabeth Cintya Santosa. Email: cintyasantosa@yahoo.com

HUBUNGAN PERSEPSI KEADILAN KOMPENSASI DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN PT. AGUS JAYA MOJOKERTO. Pradnya Dahniar Ardini. Email: pradnya.dahniar@yahoo.com

MENYINGKAP NILAI KEADILAN (DALAM PERSPEKTIF SYARI’AH ISLAM) YANG TERKANDUNG DI DALAM GOOD CORPORATE GOVERNANCE. Anis Wulandari. Universitas Trunojoyo. Email: Aniswulandari78@yahoo.com

Indrayani, M dan Nurkholis. 2001. Persepsi Manajemen Perusahaan Terhadap Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance (Studi pada 36 Perusahaan), TEMA, II (2): 136-157.

Hartman, Desjardins. 2011. Etika Bisnis: Pengambilan Keputusan Untuk Integritas Pribadi & Tanggung Jawab Sosial. Jakarta: Erlangga

PENGARUH KELAS SOSIAL DAN STATUS

PENGARUH KELAS SOSIAL DAN STATUS

Jenjang Sosial

  • Jenjang sosial merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat di kota maupun di desa. Hal ini di karenakan setiap manusia memiliki keinginan untuk dihargai maupun di hormati lebih dari manusia manapun, sehingga akan terbentuk jenjang sosial yang akan mengakibatkan adanya pembedaan sosial di dalam masyarakat.
  • Jenjang sosial selalu menjadi masalah sebuah negara, baik negara maju maupun bagi negara yang sedang berkembang. Masalah jenjang sosial sampai saat ini belum mendapatkan jalan keluar, mengingat masih banyak pengangguran dan juga penghasilan masyarakat yang belum mampu menutupi kebutuhannya sehari-hari. Karena itu, pemerintah mengharapkan adanya kerjasama dengan berbagai kegiatan sosial, agar jenjang sosial ini dapat diminimalisir.

Pengertian Jenjang Sosial

Jenjang sosial adalah kondisi dimana seseorang berada pada posisi yang mencerminkan status sosialnya di masyarakat yang memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan kelas sosial di masyarakat yang sedang di raihnya. Sehingga jenjang sosial akan senantiasa berubah seiring dengan pencapaian dan keberhasilan seseorang dalam merubah kelas sosialnya. Contoh: Seorang anak yang kurang mampu dari desa setelah lulus sekolah kemudian ia bekerja di jakarta, di jakarta ia sukses sehingga ia telah meningkatkan kelas sosialnya setelah kembali kekampung halamannya.

Faktor Penentu Kelas Sosial

Kelas sosial ada yang tercipta sejak lahir namun ada juga yang harus dengan susash payah untuk mendapatkannya, baik itu dengan sekolah maupun lembaga tinggi lainnya. Menurut Engel, Blackwell dan miniard (1995) mengemukakan pendapat Gilbert dan Kahl yang menyebutkan bahwa ada sembilan variabel yang menentukan status atau kelas sosial seseorang, kesembilan variabel tersebut digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut :

Variabel Ekonomi

  • Status pekerjaan
  • Pendapatan
  • Harta benda

Variabel Interaksi

  • Prestis individu
  • Asosiasi
  • Sosialisasi

Variabel Politik

  • Kekuasaan
  • Kesadaran kelas
  • Mobilitas

Pengukuran Kelas Sosial

Ada Tiga faktor yang biasa mempengaruhi atau digunakan  untuk menilai statifikasi atau mengukur kelas  sosial yang ada di masyarakat, antara lain adalah:

  • Kekayaan relative
  • Kekuasaan atau pengaruh
  • Martabat

Pengukuran kelas sosial dapat juga dilakukan melalui beberapa pengukuran yang bersifat objektif:

  • Ukuran subjektif dimana orang diminta menentukan sendiri posisi kelas sosialnya. (kelas sossial di tentukan secara pribadi)
  • Ukuran reputasi ditentukan oleh orang lain dari luar lingkungannya. (kelas sosial ditentukan menurut reputasinya)
  • Ukuran objektif didasarkan atas variable sosioekonomi seperti pekerjaan, basar pendapatan, dan pendidikan. (kelas sosial dikarenakan kekayaan dan pekerjaan)

Menurut Talcott Persons, menyebutkan ada lima menentukan tinggi rendahnya status seseorang, yaitu:

  • Kriteria kelahiran (ras, kebangsawanan, jenis keCamin,
  • Kualitas atau mutu pribadi (umur, kearifan atau kebijaksanaan)
  • Prestasi (kesuksesan usaha, pangkat,
  • Pemilikan atau kekayaan (kekayaan harta benda)
  • Otoritas (kekuasaan dan wewenang: kemampuan-untuk menguasai/ mempengaruhi orang lain sehingga orang itu mau bertindak sesuai dengan yang diinginkan tanpa perlawanan)

Beberapa indikator lain yang berpengaruh terhadap pembentukan kelas sosial, yaitu:

Kekayaan

Untuk memahami peran uang dalam menentukan strata sosiai/kelas sosial, kita harus menyadari bahwa pada dasamya kelas sosial merupakan suatu cara hidup. Artinya bahwa pada kelas-kelas sosial tertentu, memiliki cara hidup atau pola hidup tertentu pula, dan untuk menopang cara hidup tersebut diperlukan biaya dalam hal ini uang memiliki peran untuk menopang cara hidup kelas sosial tertentu.

Pekerjaan

Dengan semakin beragamnya pekerjaan yang terspesialisasi kedalam jenis-jenis pekerjaan tertentu, kita secara sadar atau tidak bahwa beberapa jenis pekerjaan tertentu lebih terhormat daripada jenis pekerjaan lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada masyarakat Cina klasik, dimana mereka lebih menghormati ilmuwan dan memandang rendah serdadu; Sedangkan orang-orang Nazi Jerman bersikap sebaliknya.

Pendidikan

Kelas sosial dan pendidikan saling mempengaruhi sekurang-­kurangnya dalam dua hal. Pertama, pendidikan yang tinggi memerlukan uang dan motivasi. Kedua, jenis dan tinggi rendahnya pendidikan mempengaruhi jenjang kelas sosia. Pendidikan tidak hanya sekedar memberikan ketrampilan kerja, tetapi juga melahirkan perubahan mental, selera, minat, tujuan, etiket, cara berbicara – perubahan dalam keseluruhan cara hidup seseorang.

Apakah Kelas Sosial Berubah ?

Kelas sosial akan pasti berubah, sama halnya seperti roda kehidupan yang selalu berputar. Kadang seseorang berada dalam status sosial yang tinggi atau berada saat mapan atau di hormati, tetapi terkadang lambat laun akan berada di posisi bawah, yaitu ketika mereka tidak lagi berjaya, kaya, atau di hormati seperti sebelum – sebelumnya. Ketika kelas sosial berubah perubahan itu juga akan mempengaruhi perilaku dan selera konsumen terhadap suatu barang. Misalnya seorang yang biasa mengkonsumsi nasi dari beras yang mempunyai kualitas yang rendah, tetapi apabila ia menjadi kaya atau memperoleh rezeki yang berlebih maka ia akan merubah beras yang di konsumsi dari yang berkualitas rendah ke kualitas yang lebih tinggi. Dan ini juga bisa mempengaruhi berbagai permintaan produksi suatu barang maupun jasa.

Pemasaran Pada Segmen Pasar Berdasar Klas Sosial

Pemasaran pada segmen pasar berdasarkan kelas sosial berbeda – beda sesuai dengan kelas sosial yang ingin di tuju. Bisa dilihat apabila ingin memasarkan suatu produk yang mempunyai kelas sosial yang tinggi biasanya menggunakan iklan yang premium atau bisa di bilang lebih eksklusif karena dapat diketahui bahwa orang – orang yang berada di kelas sosial atau memiliki status sosial yang tertinggi, mereka lebih memilih produk yang higienis, terbaru, bermerk, dan kualitas yang sangat bagus. Berbeda apabila pemasaran dilakukan untuk orang – orang yang berada pada kelas sosial terendah. Penggunaan iklan pun kurang di gencarkan dan biasanya malah lebih menggunakan promosi yang lebih kuat, karena kelas sosial yang rendah lebih banyak mementingkan sebuah kuantitas suatu produk dengan harga yang murah. Jadi berbeda sekali pemasaran yang dilakukan apabila melihat dari posisi kelas sosial yang ada.

Referensi:

http://sheilynurfajriah.blogspot.com/2013/01/faktor-faktor-penentu-kelas-sosial.html

http://nairnania.blogspot.com/2013/01/pengaruh-kelas-sosial-dan-status.html

http://maydaafifah18.blogspot.com/2014/10/pengaruh-kelas-sosial-dan-status_8.html

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP PEMBELIAN DAN KONSUMESI

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP PEMBELIAN DAN KONSUMESI

Kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Dimanakah Seseorang Menemukan Nilai-Nilai Yang Dianutnya?

Individu tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini diperoleh dan berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya sepanjang perjalanan hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan menentukan tentang nilai-nilai mana yang benar dan mana yang salah. Untuk memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi dimana mereka tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai tersebut diambil dengan berbagai cara antara lain:

  • Model atau contoh, dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau buruk melalui observasi perilaku keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul;
  • Moralitas, diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya bekerja dan memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk mempertimbangkan nilai-nilai yang berbeda.
  • Sesuka hati adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai ini kurang terarah dan sangat tergantung kepada nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang dan memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut kemauan mereka sendiri. Hal ini lebih sering disebabkan karena kurangnya pendekatan, atau tidak adanya bimbingan atau pembinaan sehingga dapat menimbulkan kebingungan, dan konflik internal bagi individu tersebut.
  • Penghargaan dan Sanksi : Perlakuan yang biasa diterima seperti: mendapatkan penghargaan bila menunjukkan perilaku yang baik, dan sebaliknya akan mendapat sanksi atau hukuman bila menunjukkan perilaku yang tidak baik.
  • Tanggung jawab untuk memilih : adanya dorongan internal untuk menggali nilai-nilai tertentu dan mempertimbangkan konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan bimbingan dari seseorang yang akan menyempurnakan perkembangan sistem nilai dirinya sendiri.

Pengaruh Keudayaan Terhadap Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.

Menurut Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.

Struktur Konsumsi

Secara matematis struktur konsumsi yaitu menjelaskan bagaimana harga beragam sebagai hasil dari keseimbangan antara ketersediaan produk pada tiap harga (penawaran) dengan kebijakan distribusi dan keinginan dari mereka dengan kekuatan pembelian pada tiap harga (permintaan). Grafik ini memperlihatkan sebuah pergeseran ke kanan dalam permintaan dari D1 ke D2 bersama dengan peningkatan harga dan jumlah yang diperlukan untuk mencapai sebuah titik keseimbangan (equibilirium) dalam kurva penawaran (S).

Dampak Nilai-Nilai Inti Terhadap Pemasar

Keinginan
Bentuk kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh budaza dan kepribadian individual dinamakan keinginan. Keinginan digambarkan dalam bentuk obyek yang akan memuaskan kebutuhan mereka atau keinginan adalah hasrat akan penawar kebutuhan yang spesifik. Masyarakat yang semakin berkembang, keinginannya juga semakin luas, tetapi ada keterbatasan dana, waktu, tenaga dan ruang, sehingga dibutuhkan perusahaan yang bisa memuaskan keinginan sekaligus memenuhi kebutuhan manusia dengan menenbus keterbatasan tersebut, paling tidak meminimalisasi keterbatasan sumber daya. Contoh : manusia butuh makan, tetapi keinginan untuk memuaskan lapar tersebut terhgantung dari budayanya dan lingkungan tumbuhnya. Orang Yogya akan memenuhi kebutuhan makannya dengan gudeg, orang Jepang akan memuaskan keinginannya dengan makanan sukayaki dll.

Kebutuhan
Konsep dasar yang melandasi pemasaran adalah kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia adalah pernyataan dari rasa kahilangan, dan manusia mempunyai banyak kebutuhan yang kompleks. Kebutuhan manusia yang kompleks tersebut karena ukan hanya fisik (makanan, pakaian, perumahan dll), tetapi juga rasa aman, aktualisasi diri, sosialisasi, penghargaan, kepemilikan. Semua kebutuhan berasal dari masyarakat konsumen, bila tidak puas consumen akan mencari produk atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan tersebut.

Permintaan
Dengan keinginan dan kebutuhan serta keterbatasan sumber daya tersebut, akhirnya manusia menciptakan permintaan akan produk atau jasa dengan manfaat yang paling memuaskan. Sehingga muncullah istilah permintaan, yaitu keinginan menusia akan produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan ketersediaan untuk membelinya.

Perubahan Nilai

Budaya juga perlu mengalami perubahan nilai. Ada beberapa aspek dari perlunya perluasan perubahan budaya yaitu :

  • Budaya merupakan konsep yang meliputi banyak hal atau luas. Hal tersebut termasuk segala sesuatu dari pengaruh proses pemikiran individu dan perilakunya. Ketika budaya tidak menentukan sifat dasar dari frekuensi pada dorongan biologis seperti lapar, hal tersebut berpengaruh jika waktu dan cara dari dorongan ini akan memberi kepuasan.
  • Budaya adalah hal yang diperoleh. Namun tidak memaksudkan mewarisi respon dan kecenderungan. Bagaimanapun juga, bermula dari perilaku manusia tersebut.
  • Kerumitan dari masyarakat modern yang merupakan kebenaran budaya yang jarang memberikan ketentuan yang terperinci.

Perubahan Institusi

Nilai budaya memberikan dampak yang lebih pada perilaku konsumen dimana dalam hal ini dimasukkan kedalam kategori-kategori umum yaitu berupa orientasi nilai-nilai lainnya yaitu merefleksi gambaran masyarakat dari hubungan yang tepat antara individu dan kelompok dalam masyarakat. Hubungan ini mempunyai pengaruh yang utama dalam praktek pemasaran. Sebagai contoh, jika masyarakat menilai aktifitas kolektif, konsumen akan melihat kearah lain pada pedoman dalam keputusan pembelanjaan dan tidak akan merespon keuntungan pada seruan promosi untuk “menjadi seorang individual”. Dan begitu juga pada budaya yang individualistik. Sifat dasar dari nilai yang terkait ini termasuk individual/kolektif, kaum muda/tua, meluas/batas keluarga, maskulin/feminim, persaingan/kerjasama, dan perbedaan/keseragaman.

Referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

http://ririsyukriati.blogspot.com/2013/01/pengaruh-kebudayaan-terhadap-pembelian.html

MEMPENGARUHI SIKAP DAN PERILAKU

MEMPENGARUHI SIKAP DAN PERILAKU

Dari Bujukan Hingga Komunikasi

Berawal dari Stimulan yang merupakan masukan proses perilaku dibedakan atas rangsangan pemasaran dari pemasar dan rangsangan dari lingkungan konsumen itu sendiri. Sedangkan proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh faktor personal maupun sosial konsumen. Respons perilaku konsumen dapat dijadikan faktor yang dapat membentuk keputusan pembelian (yaitu pembelian selanjutnya) atau tidak melakukan pembelian (menolak produk yang ditawarkan).

Rangsangan pemasaran dari pemasar yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen yaitu seluruh kegiatan pemasaran yang meliputi bujukan hingga komunikasi mengenai produk tertentu yang ditawarkan. Para pemasar dapat melakukan kegiatan yang dapat dijadikan teknik modifikasi perilaku konsumen. Berbagai teknik modifikasi yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen adalah melalui beberapa aspek pemasaran yang meliputi aspek produk, aspek harga, dan aspek promosi.

Modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai: (1) upaya, proses, atau tindakan untukmengubah perilaku, (2) aplikasi prinsip-prinsip belajar yg teruji secara sistematis untukmengubah perilaku tidak adaptif menjadi perilaku adaptif, (3) penggunaan secara empiristeknik-teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku melalui penguatanpositif, penguatan negatif, dan hukuman, atau (4) usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia.

Modifikasi perilaku juga menekankan pengaruh belajar dan lingkungan, artinya bahwa prosedur dan teknik tritmen menekankan pada modifikasi lingkungan tempatdimana individu tersebut berada, sehingga membantunya dalam berfungsi secara lebihbaik dalam masyarakat. Lingkungan tersebut dapat berupa orang, objek, peristiwa, atausituasi yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap kehidupanseseorang. Mengikuti pendekatan ilmiah artinya bahwa penerapan modifikasi perilakumemakai prinsip-prinsip dalam psikologi belajar, dengan penempatan orang, objek,situasi, atau peristiwa sebagai stimulus, serta dapat dipertanggungjawabkan secarailmiah. Sedangkan menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubahperilaku maksudnya bahwa dalam modifikasi perilaku lebih mengutamakan aplikasi darimetode atau teknik-teknik yang telah dikembangkan dan mudah untuk diterapkan.

Adapun teknik modifikasi perilaku adalah sebagai berikut :

  • Dorongan (Prompting). Permintaan untuk melakukan suatu tindakan kepada seseorang.Barangkali setiap orang yang pernah memesan makanan di restoran fast-food pernah menjumpai dorongan.
  • Teknik Banyak Permintaan BANYAK (Many asking). Mengajukan beberapa permintaan kepada konsumen dengan mengawalinya dari permintaan yang kecil lalu ke permintaan yang lebih besar. Atau sebaliknya, diawali dari permintaan besar kemudian diikuti oleh permintaan lebih kecil.Contoh: Menawarkan produk yang lebih mahal terlebih dahulu, kemudian menawarkan produk yang lebih murah.
  • Prinsip Resiprositas (Reprosity). Teknik meningkatkan kepatuhan konsumen atas permintaan pemasar dengan lebih dahulu menawarkan orang bersangkutan sejumlah hadiah atau sample produk.
  • Peran Komitmen (Committement). Komitmen yang dipegang secara konsisten akan meningkatkan jumlah pembelian. Komitmen yang tertulis akan dapat meningkatkan konsistensi dalam bertransaksi.Perusahaan penjualan door to door telah menemukan keajaiban komitmen tertulis. Mereka dapat mengurangitingkat pembatalan hanya dengan meminta pelanggan mengisi formulir perjanjian penjualan (sebagai tanda jadi.
  • Pelabelaan (Labeling). Melibatkan pelekatan semacam gambaran pada seseorang, seperti “Anda Baik Hati”. Label diduga menyebabkan orang memandang diri mereka dengan cara yang disiratkan oleh labelnya. Pelabelan dapat digunakan oleh pemasar untuk menarikhati calon konsumen, sehingga pembelian terjadi.Pemasar pakaian dapat mengatakan, “Anda orang tua yang penuh perhatian.” di saat menawarkan pakaian untuk anak orang tersebut.
  • Intensif (Insentif). Insentif mencakup jajaran luas alat-alat promosi, seperti korting harga, undian, rabat, kontes dan kupon. Insentif biasanya mewakili komponen penting dari keseluruhan strategi promosi produk.

Referensi:

http://nonaninda.blogspot.com/2012/11/mempengaruhi-sikap-dan-perilaku_13.html

KEPRIBADIAN, NILAI DAN GAYA HIDUP

KEPRIBADIAN, NILAI DAN GAYA HIDUP

Kepribadian

Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.

Nilai-Nilai Individu

Nilai (value) merupakan kata sifat yang selalu terkait dengan benda, barang, orang atau hal-hal tertentu yang menyertai kata tersebut. Nilai adalah sebuah konsep yang abstrak yang hanya bisa dipahami jika dikaitkan dengan benda, barang, orang atau hal-hal tertentu. Pengkaitan nilai dengan hal-hal tertentu itulah yang menjadikan benda, barang atau hal-hal tertentu dianggap memiliki makna atau manfaat. Benda purbakala dianggap bernilai karena berguna bagi generasi penerus untuk mengetahui sejarah masa lampau kita. Video tape recorder, meski secara teknis kondisinya masih baik, dianggap manfaatnya sudah hilang karena sudah susah mengoperasikannya mengingat kaset yang seharusnya menjadi komplemen video tape tersebut tetidak bisa lagi diperoleh di pasaran, semuanya tergantikan oleh VCD. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan nilai adalah prinsip, tujuan, atau standar sosial yang dipertahankan oleh seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) karena secara intrinsik mengandung makna.

Konsep Gaya Kehidupan Dan Pengukurannya

Konsep dari sebuah gaya hidup adalah menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opini). Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Psikografi adalah variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur gaya hidup. Bahkan sering kali istilah psikografi dan gaya hidup digunakan secara bergantian. Beberapa variabel psikografi adalah sikap, nilai, aktivitas, minat, opini, dan demografi.

Teori sosio-psikologis melihat dari variabel sosial yang merupakan determinan yang paling penting dalam pembentukan kepribadian. Teori faktor ciri, yang mengemukakan bahwa kepribadian individu terdiri dari atribut predisposisi yang pasti yang disebut ciri (trait).

Konsep gaya hidup konsumen sedikit berbeda dari kepribadian. Gaya hidup terkait dengan bagaimana seseorang hidup, bagaimana menggunakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu mereka. Kepribadian menggambarkan konsumen lebih kepada perspektif internal, yang memperlihatkan karakteristik pola berpikir, perasaan dan persepsi mereka terhadap sesuatu.

Ada 3 Faktor yang mempengaruhi Gaya Hidup Konsumen :

  • Kegiatan yaitu bagaimana konsumen menghabiskan waktunya.
  • Minat yaitu tingkat keinginan atau perhatian atas pilihan yang dimiliki konsumen.
  • Pendapat atau pemikiran yaitu jawaban sebagai respon dari stimulus dimana semacam pertanyaan yang diajukan.

Pengukuran ganda perilaku individu

Pengukuran ganda perilaku individu digunakan di dalam analisis perilaku konsumen.Kepribadian mempunyai efek atas pembelian, namun gaya hidup memiliki efek yang lebih besar.Tentu saja sumber daya seperti pendapatan dan waktu juga memberikan efek yang penting. Ancangan elektrik terhadap gaya hidup adalah yang paling praktis untuk mengembangkan strategi pemasaran.Tujuannya adalah mengerti konsumen sebaik mungkin.

Referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian

http://tonymisye.blogspot.com/2011/04/nilai-nilai-individu-dan-sikap-kerja.html

http://chipachupz.blogspot.com/2012/10/konsep-gaya-kehidupan-dan-pengukurannya.html

http://indrigustiantari.blogspot.com/2012/12/kepribadian-nilai-dan-gaya-hidup.html