MODERNISASI

MODERNISASI

Tidak sedikit wanita zaman sekarang hidup dengan “instan”. Melakukan ini itu dengan sekali tunjuk dan sekali perintah. Mungkin hal ini didasari mereka memiliki harta yang cukup untuk bisa menyewa jasa seseorang dalam melakukan tugas-tugas tertentu. Tidak ada yang salah dalam hal seperti ini. Tidak selamanya yang meberikan jasa itu selalu ada dan siap untuk menerima perintah dari kita. Mereka juga memiliki keluarga dan butuh waktu untuk berkumpul.

Tetapi pembaca sebagai lelaki apakah akan menerima begitu saja pasangan hidup anda tidak bisa melakukan apa-apa. Seperti memasak, mancuci, beres-beres rumah, merapaihkan sesuatu, dan sebagianya. Jika teknologi yang modern sepertinya canggih dan keren tetapi jika wanita yang modern sepertinya bisa menjadi masalah yang akan mendatang.

Ada suatu kaimat yang cukup menarik, “belajar masak itu jika sudah berkeluarga”. Kalimat ini mengartikan wanita belum siap dalam menjalani hidup dengan orang lain. Padahal sebagai wanita harus bisa melayani keluarga dengan baik dan dengan penuh keistimewaan sebagai wanita sesungguhnya.

Saya berharap pembaca wanita dalam artikel ini jauh lebih mandiri dan siap untuk bisa menghadapi kehidupan yang akan datang. Semoga teman-teman penulis yang wanita tidak seperti yang penulis uraikan diatas.

Artikel ini tidak untuk memojokkan wanita yang belum bisa mandiri tetapi untuk menjadi bahan referensi kita semua baik wanita sendiri maupun pria dalam menghadapi zaman yang sudah modern.

PENYAKIT KULIT

PENYAKIT KULIT

Biasanya penyakit kulit itu disebabkan iritasi bahan kain yang kita gunakan, produk pembersih badan yang tidak cocok, kurang telitinya dalam pembersihan disela-sela kulit dan lain-lain.

Wanto kali ini akan membahas penyakit kulit yang mungkin saudara alami atau pernah dialami beberapa waktu yang lalu. Penyakit kulit pada selangkangan merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh terlalu ketatnya CD (celana dalam) dan kurang bersihnya sisa-sisa mandi sehingga jamur pada kulit dapat tumbuh lebih subur dan cepat menimbulkan iritasi pada kulit khususnya pada selangkangan.

Jamur?

Saudara pasti paham dan tahu dimana habitat yang sering ditumbuhi jamur. Ya, tempat-tempat yang lembab biasanya menjadi habitat favorit bagi jamut untuk membentuk “permukiman liar”. Apalagi bagi saudara yang sesudah mandi tidak begitu mengeringkan badan dan tidak memperhatikan kebersihan di tempat yang tersembunyi.

Apa solusinya?

Bagi saudara yang masih kesulitan dalam memberantas jamur pada kulit sebaiknya periksa ke dokter kulit yang profesional dalam bidangnya. Solusi dari penulis ini bisa menjadi referensi bagi saudara dalam mengatasi masalah kulit. Berikut solusinya:

  1. Pastinya mandi yang bersih J;
  2. Gunakan sabun yang halus (mengandung susu). Biasanya sabun yang ada di pasaran terlalu “keras” pada kulit sehingga setelah mandi akan meninggalkan bekas putih seperti bedak;
  3. Keringkan kulit secara menyeluruh;
  4. Gunakan obat merah pada selangkangan;
  5. Hindari pemakaian CD ketat (dalam keadaan beraktivitas);
  6. Untuk hasil yang optimal lakukan pengobatan ketika saudara hendak tidur dan dianjurkan untuk tidak menggunakan CD terlebih dahulu.

Perhatian: jangan sering digaruk walaupun terasa sangat gatal. Apabila sering digaruk akan menimbulkan iritasi lebih parah dan akan mengeluarkan cairan bening. Konon, cairan bening ini akan menambah parah dan menularkan ke area kulit lain yang tidak terkena jamur kulit tersebut.

Sekali lagi, berkonsultasilah ke dokter spesialis kulit yang terpercaya. Saran ini boleh saudara coba (tanpa ada paksaan) atau saudara dapat abaikan dan apabila penyakit kulit menambah parah segera hubungi dokter.

Semua penyakit itu ada obatnya selagi kita sendiri percaya akan kemampuan dan kemauan untuk sembuh. Segala yang menentukan adalah Alloh.

TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN METODE ILMIAH DAN SIKAP ILMIAH

TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN METODE ILMIAH DAN SIKAP ILMIAH

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah, misalnya dalam diskusi, seminar, loka karya, dan penulisan karyailmiah.

Teori dinyatakan pula sebagai alat dari ilmu [tool of science], sedangkan peranya meliputi :

  1. Mendifinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi terrhadap jenis-jenis data yang akan dibuat
  2. Teori memberikan rencana konseptual, dengan rencana fenomena-fenomena yang relevan disitematisasi, diklasifikasi dan dihubung-hubungkan.
  3. Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan system generalisasi
  4. Teori memberikan prediksi terhadap faktaTeori memperjelas celah-celah dalam pengetahuan kita

Hubungan fakta dan teori dapat divisualisasikan sebagai berikut :

Teori memprediksi fakta : Penyingkatan fakta-fakta yang dilakukan oleh teori akan menghasilkan uniformitas dari pengamatan-pengamatan. Dengan adanya uniformitas maka dapat dibuat prediksi (ramalan) terhadap fakta-fakta yang akan datang dengan kata lain bahwa sebuah fakta baru akan lahir berdasarkan pengamatan fenomena-fenomena sekarang atau saat ini.

Beberapa sikap ilmiah yang perlu dikembangkan ketika mengerjakan suatu karya ilmiah, yaitu:

  1. Sikap ingin tahu. Sikap ingin tahu dapat dilihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. Mengapa demikian? Bagaimana caranya? Apa saja unsur-unsurnya? Dan seterusnya.
  2. Sikap kritis dan bertanggung jawab atas suatu keputusan. Sikap ini dapat dilihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.
  3. Sikap terbuka. Sikap terbuka dapat dilihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain. Walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.
  4. Sikap objektif. Sikap objektif dapat dilihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya(jujur), tanpa diikuti perasaan pribadi.
  5. Sikap pengevaluasian diri, yaitu sikap di mana kita bisa mengakui kekuatan dan kelemahan data hasil penelitian atau percobaan yang telah dilakukan sehingga dapat digunakan untuk melakuakn perbaikan.
  6. Sikap rela menghargai karya orang lain. Sikap menghargai karya orang lain ini dapat dilihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
  7. Sikap berani mempertahankan kebenaran. Sikap keberanian ini dapat diketahui ketika ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada.
  8. Sikap menjangkau ke depan. Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.
  9. Sikap teliti. Teliti dalam pengambilan data, terutama data kuantitatif, dan tekun dalam melakukan penelitian artinya tidak mudah putus asa.
  10. Sikap peduli. Kepedulian terhadap lingkungan alam, sosial, dan budaya. Yaitu, dengan cara berusaha untuk memberikan pemikiran tentang pelestarian dan keindahan lingkungan alam, serta kebersihan lingkungan.
  11. Sikap mampu mengenali fakta dan opini sehingga dapat membedakan data dan informasi secara benar dan tepat.

Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa: Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain  kecendrungan individu  untuk bertindak atau berprilaku  dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antaralain :

  1. Sikap ingin tahu: apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka ia beruasaha mengetahuinya, senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiea, kebiasaan menggunakan alat indera  sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
  2. Sikap kritis :  Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti-bukti pada waktu menarik kesimpulan, tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain, bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
  3. Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
  4. Sikap ingin menemukan :  Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
  5. Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
  6. Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan-kegiatan apabila belum selesai, terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
  7. Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.

Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah. Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimental. Tekun. Suka pada sesuatu yang baru. Mudah mengubah pendapat atau opini. Loyal etrhadap kebenaran. Objektif Enggan mempercayai takhyul. Menyukai penjelasan ilmiah. Selalu berusaha melengkapi penegathuan yang dimilikinya. Tidak tergesa-gesa engambil keputusan. Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi. Menyadari perlunya asumsi. Pendapatnya bersifat fundamental. Menghargai struktur teoritis Menghargai kuantifikasi dapat menerima penegrtian kebolehjadian dan, dapat menerima pengertian generalisasi.

REFERENSI:

http://blogbahrul.wordpress.com/2007/11/28/sikap-ilmiah/

http://rismaeka.wordpress.com/2012/11/18/metode-ilmiah/

http://mec2n1ky.wordpress.com/2011/03/18/metode-ilmiah/

http://ansidkiller.blogspot.com/2013/02/hubungan-teori-dan-fakta-dalam-metode.html

http://herlinsnovianti.blogspot.com/2012/11/sikap-ilmiah-pengertian.html

TEORI-TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENALARAN

MENCARI TEORI-TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENALARAN

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Unsur dan Struktur Penalaran

Penalaran dibangun berdasarkan atas tiga unsur penting, yaitu asersi, keyakinan, dan argumen, sedangkan struktur dari penalaran akan menggambarkan ketiga unsur tersebut dalam menghasilkan suatu daya dukung atau bukti rasional terhadap suatu keyakinan mengenai suatu pernyataan.

Asersi merupakan suatu penegasan yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan atau kalimat mengenai kebenaran suatu hal. Terdapat tiga jenis asersi jika berkaitan dengan fakta pendukung, yaitu asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta.

Keyakinan merupakan suatu tingkat ketersediaan untuk menerima bahwa suatu pernyataan atau penjelasan mengenai suatu hal adalah benar. Ada beberapa sifat dalam keyakinan yang bisa menjadi hal penting untuk mencapai suatu keberhasilan, yaitu: keadaberadaan, bukan pendapat, bertingkat, berbias, bermuatan nilai, berkekuatan, veridikal, berketertempaan.

Argumen merupakan suatu rangkaian asersi beserta keterkaitan dan inferensi atau penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Karena merupkan suatu rangkaian asersi, asersi yang satu harus dapat mendukung asersi yang lain yang menjadi suatu kesimpulan. Argumen diklasifikasikan menjadi dua, yaitu argumen deduktif dan argumen induktif.

Argumen deduktif merupakan proses penyimpulan yang berawal dari suatu pernyataan umum ke pernyataan khusus sebagai kesimpulan. Argumen deduktif juga sering disebut sebagai argumen logis. Terdapat tiga tahapan di dalam penalaran deduktif, yaitu: penentuan pernyataan umum, penerapan konsep umum ke konsep khusus, dan penarikan simpulan yang logis.

Argumen induktif merupakan salah satu jenis penalaran nondeduktif. Penalaran jenis ini adalah suatu penalaran yang berawal dari suatu pernyataan khusus dan berakhir pada pernyataan umum yang merupakan generalisasi dari keadaan khusus tersebut. bentuk-bentuk argumen lain yang merupkan jenis dari penalaran nondeduktif adalah argumen dengan analogi dan argumen sebab akibat. Argumen dengan analogi memiliki pengertian suatu penalaran yang menurunkan kesimpulan atas dasar kemiripan atau kesamaan, sedangkan argumen sebab-akibat adalah suatu penalaran yang menyatakan suatu kesimpulan sebagai akibat dari asersi tertentu.

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari dua cara penalaran, yaitu:

  1. Deduksi / logika deduktif.

Penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, yaitu faham bahwa rasio atau pemikiran adalah sumber kebenaran. Deduksi adalah cara berfikir dengan menarik kesimpulan khusus dari pernyataan-pernyaatan yang besifat umum; atau dari umum ke khusus. Pernyataan umum tersebut merupakan alasan atau premis yang dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan khusus. Alasan atau premis tersebut merupakan ilmu atau teori sebelumnya yang sudah diakui kebenarannya. Dalam metode ilmiah. Berfikir deduktif ini digunakan pada saat penyusunan hipotesis. Hipotesis disusun secara deduktif dari teori-teori yang disusun secara jelas, logis, dan sistematis sehingga menjadi kerangka pemikiran. Salah satu cara berfikir deduktif adalah silogism.

  1. Induksi/logika induktif.

Induksi merupakan cara berfikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual; atau dari khusus ke umum. Memang tidak ada keterkaitan erat antara alasan dan kesimpulan yang kuat seperti dalam deduksi. Penalaran induktif terkait dengan empirisme, yaitu faham bahwa pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran. Dalam metode ilmiah berfikir induktif ini  Berdasarkan satu atau lebih fakta atau kejadian yang ditemukan, kita menarik kesimpulan bahwa fakta atau kejadian tersebut juga berlaku umum. Sebagai ilustrasi, jika kita menemukan satu atau beberapa barang yang dijual sebuah toko ternyata rusak maka kita menyimpulkan bahwa seluruh barang di toko tersebut yang diproduksi sebuah perusahaan sudah kadaluarsa. Proses penarikan secara induktif ini dalam prakteknya menggunakan analisis statitik melalui berbagai teknik analisis yang termasuk statistika inferensial.

Dalam penalaran ilmiah, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesimpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat individual atau khusus.

REFERENSI:

http://ardimaswahyu.blogspot.com/2011/03/penalaran.html

http://tatafisika.blogspot.com/2013/01/metode-ilmiah.html

http://gilangjaelani.blogspot.com/2012/03/penalaran.html

http://dwiermayanti.wordpress.com/2009/03/14/penalaran/

http://cekiber69.blogspot.com/2012/03/definisi-penalaran.html

PEMAKAIAN METODE ILMIAH UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN PERTANYAAN ILMIAH

PEMAKAIAN METODE ILMIAH UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN PERTANYAAN ILMIAH

Kriteria Metode Ilmiah

  1. Berdasarkan Fakta. Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta – fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasarkan pada daya khayal, kira-kira, legenda atau kegiatan sejenis.
  2. Bebas dari Prasangka. Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dn jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alas an dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.
  3. Menggunakan Prinsip Analisa. Dalam memahami serta member arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis. Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.
  4. Menggunakan Hipotesa. Dalam metode ilmiah, penelitian harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.
  5. Menggunakan Ukuran Objektif. Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa – rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang waras.
  6. Menggunakan teknik Kuantifikasi. Dalam memperlakukan data ukuran yang lazim harus digunakan, kecuali untuk atribut-atribut yang tidak dapat di kuantifikasikan.

Langkah-langkah:

  1. Memilih dan mendefinisikan masalah
  2. Survei terhadap data yang tersedia
  3. Memformulasikan hipotesa
  4. Membangun kerangka analisa serta alat-alat dalam menguji hipotesa
  5. Mengumpulkan data primair
  6. Mengolah, menganalisa serla membuat interpretasi
  7. Membual generalisasi dan kesimpulan
  8. Membuat Laporan.

Langkah dalam metode ilmiah
Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Marilah lebih dahulu ditinjau langkah-langkah yang diambil oleh beberapa ahli dalam mereka melaksanakan penelitian.
Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian
  2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan
  3. Membangun sebuah bibliografi
  4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.
  5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan
  6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung
  7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah
  8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak
  9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak
  10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan
  11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa
  12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi
  13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan
  14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki)
  15. Menulis laporan penelitian.

Dalam melaksanakan penelitian secara ilmiah. Abclson (1933) memberikan langkah-langkah berikut:

  1. Tentukan judul
  2. Pemilihan masalah
  3. Pemecahan masalah
  4. Kesimpulan
  5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah

Langkah-langkah metode ilmiah

  1. Karakterisasi (Observasi dan Pengukuran). Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan observasi; observasi yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.
  2. Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan sementara tentang penyelesaian masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah. Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau observasi suatu fenomena di alam.
  3. Melakukan Eksperimen. Eksperimen dirancang dan dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis, melainkan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis tersebut.
    Hasil eksperimen secara mutlak bisa menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi dari hipotesis. Bergantung pada prediksi yang dibuat, berupa-rupa eksperimen dapat dilakukan.
  4. Ada tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan pada eksperimen: variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol. Varibel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel terikat adalah variabel yang diteliti, yang perubahannya bergantung pada variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen dipertahankan tetap.
  5. Menyimpulkan hasil eksperimen. Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif, yaitu berulang. Pada langkah yang manapun, seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena pertimbangan tertentu.

Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari. Ketidakberhasilan suatu hipotesis dalam menghasilkan prediksi yang menarik dan teruji dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan kembali hipotesis tersebut atau definisi subjek penelitian.
Ketidakberhasilan eksperimen dalam menghasilkan sesuatu yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang metode eksperimen tersebut, hipotesis yang mendasarinya, atau bahkan definisi subjek penelitian itu. Dapat pula ilmuwan lain memulai penelitian mereka sendiri dan memasuki proses tersebut pada tahap yang manapun.
Mereka dapat mengadopsi karakterisasi yang telah dilakukan dan membentuk hipotesis mereka sendiri, atau mengadopsi hipotesis yang telah dibuat dan mendeduksikan prediksi mereka sendiri. Sering kali eksperimen dalam proses ilmiah tidak dilakukan oleh orang yang membuat prediksi, dan karakterisasi didasarkan pada eksperimen yang dilakukan oleh orang lain.

Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis :

  1. Jangan ubah hipotesis
  2. Jangan abaikan hasil eksperimen
  3. Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai
  4. Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan penyebab ketidaksesuaian
  5. Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi atau susun ulang eksperimen

Sumber:

http://baimsangadji.blogspot.com/2010/11/makalah-metode-ilmiah_14.html

http://www.aguschandra.com/2010/10/metode-ilmiah/

http://makalahcenter.blogspot.com/2010/03/metode-ilmiah.html

http://aditz19.wordpress.com/2011/10/01/makalah-metode-ilmiah/

http://pratiwi-19.blogspot.com/2012/04/metode-ilmiah.html

 

 

KONSEP PENALARAN ILMIAH DALAM KAITANNYA DENGAN PENULISAN ILMIAH

KONSEP PENALARAN ILMIAH DALAM KAITANNYA DENGAN PENULISAN ILMIAH

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengaamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.

Macam-macam penalaran

Penalaran Induktif adalah penalaran yang memberlakukan atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum (Smart,1972:64). Dengan kata lain penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum.(Suriasumantri, 1985:46). Inilah alasan eratnya kaitan antara logika induktif dengan istilah generalisasi.

Jenis-jenis penalaran induktif adalah :
1. Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulanumum.
2. Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogidapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkankesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.
3. Kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang salingberhubungan. Hal ini terlihat ketika tombol ditekan yang akibatnya bel berbunyi. Dalamkehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalanbecek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam proses penalaran
Penggunaan bahasa Indonesia dalam proses penalaran dimaksudkan dalam Penulisan Ilmiah yang akan disajikan pada penjelasan dibawah ini. dalam pembahasan kali ini akan di bahas proses penalaran digunakan untuk menyusun Penulisan Ilmiah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kamisa, 1997) menjelaskan bahwa Ilmiah adalah sesuatu yang didasarkan atas ilmu pengetahuan.

Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Dalam Penyajian sebuah Konsep Ilmiah, Bahasa Indonesia mempunyai peranan penting dengan dibakukannya Ejaan sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Dengan Ejaan sesuai EYD ini, Bahasa Indonesia memiliki susunan struktur bahasa yang Obyektif, Metodis, Sistematis dan Universal.

Konsep dan simbol penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.

Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat. Setelah kita mengetahui arti dari penalaran tersebut, selanjutnya kita akan membahas penggunaan penalaran dalam proses berbahasa itu sendiri.

Ada 4 Persyaratan Ilmiah, yakni:
1. Obyektif, Ilmu harus memiliki obyek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Obyeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya.
2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran.
3. Sistematis, Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu obyek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya.
4. Universal, Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu).

Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Peranan tersebut, mencakup penggunaan Bahasa Indonesia dalam publikasi artikel maupun tulisan-tulisan ilmiah.
1. Pertama, unsur serapan yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
2. Kedua, unsur serapan yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Bahasa merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa karena bahasa merupakan sarana untuk membuka wawasan bangsa (khususnya pelajar dan mahasiswa) terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang.

Terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam karya tulis ilmiah berupa penelitian yaitu:
1. Bermakna isinya
2. Jelas uraiannya
3. Berkesatuan yang bulat
4. Singkat dan padat
5. Memenuhi kaidah kebahasaan
6. Memenuhi kaidah penulisan dan format karya ilmiah
7. Komunikatif secara ilmiah

Aspek komunikatif (keefektifan) hendaknya dicapai pada tingkat kecanggihan yang diharapkan dalam komunikasi ilmiah. Oleh karena itu, karya ilmiah tidak selayaknya membatasi diri untuk menggunakan bahasa (struktur kalimat dan istilah) popular khususnya untuk komunikasi antarilmuwan. Karena makna simbol bahasa harus diartikan atas dasar kaidah baku, karya ilmiah tidak harus mengikuti apa yang nyatanya digunakan atau popular dengan mengorbankan makna yang seharusnya. Bahasa keilmuan tidak selayaknya mengikuti kesalahkaprahan.

Pemenuhan kaidah kebahasaan merupakan ciri utama dari bahasa keilmuan. Oleh karena itu, aspek kebahasaan dalam karya ilmiah sebenarnya adalah memanfaatkan kaidah kebahasaan untuk mengungkapkan gagasan secara cermat. Kaidah ini menyangkut struktur kalimat, diksi, perangkat peristilahan, ejaan, dan tanda baca.
Dalam Penyajian sebuah Konsep Ilmiah, Bahasa Indonesia mempunyai peranan penting dengan dibakukannya Ejaan sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Dengan Ejaan sesuai EYD ini. Bahasa Indonesia memiliki susunan struktur bahasa yang Obyektif, Metodis, Sistematis dan Universal. Peranan tersebut, mencakup penggunaan Bahasa Indonesia dalam publikasi artikel maupun tulisan-tulisan ilmiah, baik berupa karya tulis, penulisan ilmiah, maupun skripsi dimana penerapannya harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Beberapa hal sederhana misalnya tentang kaidah penggunaan huruf kapital: bahwa pada setiap awal kalimat harus diawali dengan huruf kapital, dan huruf kapital juga dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, peristiwa sejarah.

Kaidah-kaidah tersebut tertuang dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Dengan adanya kaidah / aturan ini, maka tulisan ilmiah yang dibuat menjadi lebih Obyektif, Metodis, Sistematik, Terstruktur dan Universal khususnya dalam penggunaan bahasa sesuai dengan makna konsep Ilmiah itu sendiri.
Tulisan adalah produk pemikiran. Sebuah tulisan harus dibangun atas konstruksi pemikiran yang terdiri atas tiga komponen penting, yakni klaim, argumen, dan data.
Inti dari setiap tulisan adalah klaim tentang suatu hal. Sebuah klaim harus didasari dengan argumen. Selanjutnya, argumen yang kuat tentu membutuhkan bukti berupa data. Tanpa data, argumen tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Tulisan yang baik bisa dinilai dari logis atau tidaknya ketiga komponen yang berkaitan tersebut. Argumen mengenai suatu klaim haruslah logis. Jangan sampai memberikan argumen yang tidak ada hubungannya dengan sebuah klaim itu sendiri. Pun dengan bukti, data yang disajikan untuk memeperkuat argumen juga harus logis.

REFERENSI:

http://fajarirawati.blogspot.com/2010/03/peranan-berpikir-logis-dalam-penulisan_05.html

http://ivanialab.blogspot.com/2013/03/bagaimana-penalaran-digunakan-dalam.html

http://obyramadhani.wordpress.com/2009/10/21/10/

http://adieynugroho.blogspot.com/2013/03/tugas-softskill-bahasa-indonesia-1.html

http://melisanti91.blogspot.com/2013/03/pengunaan-penalaran-dalam-proses.html

KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN

KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMECAHAN MASALAH

Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan (KBBI), suatu situasi menghambat organisasi untuk mencapai satu atau lebih tujuan (James Stoner)

Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik.

Fase Pengambilan Keputusan

  1. Aktivitas intelegensia ; Proses kreatif untuk menemukan kondisi yang mengharuskan keputusan dipilih atau tidak.
  2. Aktifitas desain ; Kegiatan yang mengemukakan konsep berdasar aktifitas intelegensia untuk mencapai tujuan. Aktifitas desain meliputi :
  • Menemukan cara-cara/metode
  • Mengembangkan metode
  • Menganalisa tindakan yang dilakukan
  1. Aktifitas pemilihan ; Memilih satu dari sekian banyak alternatif dalam pengambilan keputusan yang ada. Pemilihan ini berdasar atas kriteria yang telah ditetapkan.

Dari empat aktifutas tersebut diatas, dapat disimpulkan tahap pengambilan keputusan adalah :

  • Mengidentifikasi masalah utama
  • Menyusun alternatif
  • Menganalisis alternatif
  • Mengambil keputusan yang terbaik

Teknik Pengambilan Keputusan

  1. Operational Research/Riset Operasi ; Penggunaan metode saintifik dalam analisa dan pemecahan persoalan.
  2. Linier Programming ; Riset dengan rumus matematis.
  3. Gaming War Game ; Teori penentuan strategi.
  4. Probability ; Teori kemungkinan yang diterapkan pada kalkulasi rasional atas hal-hal tidak normal.

Proses Pengambilan Keputusan

Menurut G. R. Terry :

  1. Merumuskan problem yang dihadapi
  2. Menganalisa problem tersebut
  3. Menetapkan sejumlah alternatif
  4. Mengevaluasi alternatif
  5. 5.      Memilih alternatif keputusan yang akan dilaksanakan

ELEMEN PEMECAHAN MASALAH

Elemen-elemen dari proses pemecahan masalah:

  1. Masalah
  2. Desired state (keadaan yang diharapkan)
  3. Current state (keadaan saat ini)
  4. Pemecah masalah/manajer
  5. Adanya solusi alternatif dalam memecahkan masalah
  6. Solusi.

PROSES PEMECAHAN MASALAH DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN

Proses pengambilan keputusan pembelian

Sebelum dan sesudah melakukan pembelian, seorang konsumen akan melakukan sejumlah proses yang mendasari pengambilan keputusan, yakni:

  1. Pengenalan masalah (problem recognition). Konsumen akan membeli suatu produk sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, konsumen tidak dapat menentukan produk yang akan dibeli.
  2. Pencarian informasi (information source). Setelah memahami masalah yang ada, konsumen akan termotivasi untuk mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pencarian informasi. Proses pencarian informasi dapat berasal dari dalam memori (internal) dan berdasarkan pengalaman orang lain (eksternal).
  3. Mengevaluasi alternatif (alternative evaluation). Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
  4. Keputusan pembelian (purchase decision). Setelah konsumen mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen akan membuat keputusan pembelian.Terkadang waktuyang dibutuhkan antara membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual tidak sama dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Evaluasi pasca-pembelian (post-purchase evaluation) merupakan proses evaluasi yang dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan pembelian Setelah membeli produk tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk tersebut sesuai dengan harapannya.Dalam hal ini, terjadi kepuasan dan ketidakpuasan konsumenKonsumen akan puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan akan merek produk tersebut pada masa depan.Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas jika produk tersebut tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan konsumen pada masa depan.

Faktor-faktor yang memengaruhi

Terdapat empat faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:

  1. Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
  2. Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.
  3. Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
  4. Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.

IMPLIKASI PADA STRATEGI PEMASARAN

Prilaku konsumen akhir dan implikasi strategi pemasaran
Penetapan strategi akan tergantung pada bagaimana proses keputusan di lakukan oleh pembeli. Implikasi strategi perilaku konsumen akhir akan dapat di lihat apakah konsumen mengambil keputusan pembelian dalam situasi yang komplek, atas dasar kebiasaan ,atau karena tidak banyak membutuhkan pertimbangan khusus untuk melakukan pembelian.

Proses pengambilan dalam situasi yang komplek pada umumnya akan menganut pola yang di sajikan seperti contohdi bawah ini:
• Kebutuhani
• Pemrosesan informasi oleh konsumen
• Kebutuhan
• Pemrosesan informasi oleh konsumen
Semua ini saling berhubungan sebagai pengambilan keputusan

Munculnya kebutuhan akan suatu produk dapat di sebabkan faktor demografis, psikografis, atau factor lingkungan ekternal lainnya.

Adanya kebutuhan yang belum terpenuhi akan mendorong seseorang untuk mencari informasi dan lebih tanggap terhadap rangsangan atau stimuli yang berkaitan dengan pemenuhan keutuhan itu. Hal itu dapat bersumber dari iklan, teman, salesman, dan sebagainya. Informasi baru yang di peroleh calon konsumen mungkin saja merubah sikap terhadap merek produk tertentu atau mungkin juga menjadikan konsumen tersebut sadar terhadap adanya berbagai pilihan produk.

Konsumen akan melakukan evaluasi terhadap berbagai merek produk yang di peroleh selama proses pencarian informasi. Merek produk di evaluasi atas dasar berbagai kriteria dalam upaya pemenuhan kebutuhan.

Perilaku pasca pembelian adalah merupahkan proses evaluasi setelah seorang konsumen mempelajari dan mengetahui lebih dalam tentang produk yang di beli. Tiga kemungkinan hasil evaluasi pasca pembelian: kepuasan, ketidak puasan, dan pertentangan (dissonance). Indicator adanya kepuasan atau ketidakpuasan konsumen dapat di lihat dari tingkat pembelian ulang terhadap produk perusahaan. Konsumen cenderung melakukan pembelian ulang apabila ia mendapat kepuasan atas produk yang dibeli dan sebaliknya. Sedang dissonance adalah penerimaan informasi yang negative atau terhadap bertentangan terhadap merek produk yang sudah di beli. Sering informasi tersebut berakibat timbulnya keraguan terhadap produk setelah pembelian. Misalkan seorang konsumen baru saja membeli sebuah laser disc merek tertentu. Sesaat setelah pembelian, ia menerimah informasi dari seorang teman yang mengatakan bahwa merek laser disc yang di beli sering mengalami kerusakan teknis seperti halnya yang di miliki teman tersebut. Dalam kondisi semacam itu, secara alami konsumen yang baru saja membeli laser disc akan merasa mengambil keputusan yang salah. Banyak konsumen mencoba mengurangi dissonance dengan cara melupakan informasi yang di peroleh atau secara selektif menginterpretasikan sehingga tidak menimbulkan konflik dengan keputusan pembelian yang telah di lakukan. Fungsi strategi pemasaran dalam hal ini adalah mengurangi perasaan bertentangan atau dissonance dengan cara memperkuat kembali alasan pembelian produk yang telah dilakukan sebelumnya. Kalau demikian halnya, maka apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemasar untuk mengurangi dissonance:

  1. Memberikan garansi yang memadai dan meyakinkan terhadap pelayanan purna jual yang baik
  2. Mengiklankan kualitas produk yang dapat di percaya untuk menambah keyakinan pembelian sebelumnya.
  3. Menindak lanjuti pembelian dengan cara melakukan kontak langsung untuk memastikan bahwa konsumen memahami tentang penggunaan produk.

Segmentasi pasar
Studi tentang proses keputusan pembelian di lakukan dapat dipergunakan untuk menetukan segmen pasar dan pada akhirnya target pasar yang akan di layani dengan produk dengan produk perusahaan. Sebagai contoh, dalam pembelian kamera, informasi yang di peroleh mungkin dapat di pergunakan untuk membagi pasar kamera berkualitas ke dalam dua segmen: feature-oriented segment, dan self confidence, quality-oriented segment.

  1. Pengembangan produk
    Pemahaman terhadap kebutuhan konsumen akan berpengaruh terhadap proses pengembangan produk.
  2. Penempatan posisi produk dalam persaingan
    Pemahaman terhadap proses keputusan pembelian yang kompleks juga akan menentukan ketepatan pemasar untuk memilih dan menempatkan posisi produk dalam persaingan.

DAFTAR PUSTAKA

http://dedicasyudidianaputra.blogspot.com/2010/11/prilaku-konsumen-akhir-dan-implikasi.html

http://auliaamrullah.wordpress.com/2013/10/13/proses-pengambilan-keputusan-oleh-konsumen/

http://nuraditama.blogspot.com/2012/03/pemecahan-masalah-dan-pengambilan.html

http://okghiqowiy.blogspot.com/2012/04/pemecahan-masalah-dan-pengambilan.html

http://a69670.wordpress.com/2010/01/01/pemecahan-masalah/

PENYEBARAN INOVASI

PENYEBARAN INOVASI

ELEMEN DASAR DALAM PROSES PENYEBARAN

Dalam proses penyebaran inovasi timbul masalah yakni bagaimana caranya untuk mempercepat diterimanya suatu inovasi o;eh masyarakat (sasaran penyebaran inovasi). Untuk mengatasi hal tersebut maka para ahli mengumusulkan suatu proses yang disebut difusi (difusi inovasi). Difusi ialah proses komunikasi inovasi antar warga masyarakat dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu. Jadi, difusi dapat dikatakan salah satu tipe dari komunikasi yang memiliki ciri pokok yaitu pesan yang dikomunikasikan adalah hal yang baru (inovatif). Untuk lebih mempercepat proses penyebaran inovasi diperlukan suatu diseminasi. Diseminasi adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola.

PENGAPLIKASIAN DEFINISI DARI INOVASI

Inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi.

LIMA KARAKTERISTIK YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PRODUK BARU

  1. Kesadaran (awareness), yaitu konsumen mengetahui tentang adanya produk baru, tetapi tidak mempunyai informasi mengenai produk tersebut.
  2. Perhatian (interest), yaitu konsumen terdorong untuk mencari informasi mengenai produk baru tersebut.
  3. Penilaian (evaluation), yaitu konsumen mempertimbangk an dan menilai untung ruginya mencoba produk baru tersebut.
  4. Pencobaan (trial), yaitu konsumen mencoba produk baru secara kecil-kecilan, untuk memperkirakan kegunaannya.
  5. Adopsi, yaitu konsumen memutuskan untuk menggunakan produk baru tersebut secara teratur.

PENTINGNYA ARTI SEBUAH PROSES PENYEBARAN

Proses penyebaran sangat penting karena dengan penyebaran suatu informasi akan dapat diterima oleh masyarakat yang membutuhkan dengan cepat.

ADOPSI DAN SALURAN KOMUNIKASI DALAM PROSES DIFUSI

Teori adopsi kemudian memberikan pengertian yang lebih jauh tentang PLC dengan penjelasannya tentang proses difusi, yaitu penyebaran ide baru sejak pengenalannya sampai penerimaan secara umum. Rogers mengklasifikasikan pengadopsi inovasi menjadi lima kategori yaitu Innovator, Early Adopter, Early Majority, Late Majority, dan Laggard. Teori Adopsi ini memberikan implikasi yang jelas pada konsep PLC. Bila produk baru mulai diluncurkan, perusahaan harus berusaha mempengaruhi konsumen agar berminat, tertarik, mencoba, dan akhirnya membeli. Proses ini memerlukan waktu yang panjang. Pada tahap perkenalan biasanya hanya beberapa orang saja yang membeli. Bila ternyata produk tersebut memuaskan kebutuhan, sejumlah pembeli lainnya akan membeli juga (Early adopter). Masuknya pesaing semakin mempercepat proses adopsi Pada tahap berikutnya, lebih banyak pembeli lagi masuk ke pasar (Early majority). Kemudian laju pertumbuhan mulai menurun pada saat jumlah pembeli baru yang potensial menyusut. Penjualan menjadi mantap disebabkan oleh stabilnya tingkat pembelian ulang. Namun akhirnya akan tiba waktunya penjualan menjadi menurun karena munculnya kelompok produk baru, bentuk produk baru, atau merek baru yang mulai menyita perhatian konsumen dari produk yang sedang beredar. Dengan penjelasan ini kiranya jelas pengertian daur hidup produk bila dihubungkan dengan proses normal dari proses difusi dan adopsi produk baru.

Difusi Inovasi

Salah satu aplikasi komunikasi massa terpenting adalah berkaitan dengan proses adopsi inovasi.  Hal ini relevan untuk masyarakat yang sedang berkembang maupun masyarakat maju, Karena terdapat kebutuhan terus menerus dalam perubahan social dan teknologi untuk mengganti cara-cara lama dengan teknik-teknik baru.  Teori ini berkaitan dengan komunikasi massa karen adalam berbagai situasi di mana efektivitas potensi perubahan yang berawal dari penelitian ilmiah dan kebijakan publik, harus diterapkan oleh masyarakat yang pada dasarnya berada di luar jangkauan langsung pusat-pusat inovasi atau kebijakan publik.  Teori ini pada prinsipnya adalah komunikasi dua tahap.  Jadi di dalamnya juga dikenal pula adanya pemuka pendapat atau yang disebut juga dengan instilah agen perubahan (agent of change).  Oleh karena itu teori ini sangat menekankan pada sumber-sumber non media (sumber personal, misalnya tetangga, teman, ahli dsb) mengenai gagasan-gagasan baru yang dikampanyekan untuk mengubah perilaku melalui penyebaran informasi dan upaya mempengaruhi motivai dan sikap.

Unsur-unsur Difusi Inovasi     :

Dari definisi yang diberikan oleh Everett M. Rogers tersebut, ada empat unsur utama yang terjadi dalam proses difusi inovasi sebagai berikut:

  1. Inovasi

Inovasi merupakan sebuah ide, praktek, atau objek yang dianggap sebagai suatu yang baru oleh seorang individu atau satu unit adopsi lain. Semua inovasi memiliki komponen ide tetapi tak banyak yang memiliki wujud fisik, ideologi misalnya. Inovasi yang tidak memliliki wujud fisik diadopsi berupakeputusan simbolis. Sedangkan yang memiliki wujud fisik pengadopsiannya diikuti dengan keputusan tindakan.

  1. Saluran komunikasi

Tujuan komunikasi adalah tercapainya suatu pemahaman bersama atau yang biasa disebut mutual understanding antara dua atau lebih partisipan komunikasi terhadap suatu pesan (dalam hal ini adalah ide baru) melalui saluran komunikasi tertentu. Dengan demikian diadopsinya suatu ide baru (inovasi) dipengaruhi oleh partisipan komunikasi dan saluran komunikasi. Saluran komunikasi dapatr dikatakan memegang peranan penting dalam proses penyebaran inovasi, karena melalui itulah inovasi dapat tersebar kepada anggota sistem sosial.

Hasil penelitian berkaitan dengan saluran komunikasi menunjukan beberapa prinsip sebagai berikut:

  1. Saluran komunikasi masa relatif lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran antar pribadi (interpersonal) relatif lebih penting pada tahap persuasi. Hal ini disebabkan saluran komunikasi massa dapat membentuk awareness secara serempak dalam waktu yang dikatakan cukup singkat dibandingkan dengen efek komunikasi antarpribadi.
  2. Saluran kosmopolit lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran lokal relatif lebih penting pada tahap persuasi.
  3. Saluran media masa relatif lebih penting dibandingkan dengan saluran antar pribadi bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter). Sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, golongan adopter awal menyukai ide-ide baru tanpa perlu persuasi yang berlebihan sehingga media massa saja sudah cukup membuat mereka mau mengadopsi sebuah inovasi berbeda dengan orang-orang dari golongan adopter akhir, karakteristik mereka yang kurang menyukai risiko menyebabkan komunikasi antarpribadi yang paling bekerja dengan baik. Mereka cenderung melihat atau berkaca pada orang-orang disekitar mereka yang sudah menggunakan inovasi tersebut dan apabila berhasil mereka baru mau mengikutinya.
  4. Saluran kosmopolit relatif lebih penting dibandingkan denan saluran lokal bagi bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter).
  5. Metode komunikasi massa seperti penggunaan iklan memang dapat menyebarkan informasi tentang inovasi baru dengan cepat tetapi hal tersebut tidak lantas dapat begitu saja membuat inovasi baru tersebut diadopsi oleh khalayak. Hal itu dikarenakan diadopsi tidaknya inovasi baru  terkait dengan masalah resiko dan ketidakpastian. Disinilah letak pentingnya komunikasi antarpribadi. Orang akan lebih percaya kepada orang yang sudah dikenalnya dan dipercayai lebih awal atau orang yang mungkin sudah berhasil mengadopsi inovasi baru itu sendiri, dan juga orang yang memiliki kredibilitas untuk memberi saran mengenai inovasi tersebut. Hal tersebut digambarkan oleh ilustrasi kurva dibawah ini yang menggambarkan bahwa komunikasi interpersonal menjadi begitu sangat berpengaruh dari waktu ke waktu dibandingkan dengan komunikasi massa.

MEMBANGUN PROFIT KONSUMEN YANG MENYUKAI PRODUK BARU

  • Jangan memilih barang yang tidak layak jual.
  • Jangan mudah tergoda dengan produk yang lagi tren.
  • Hindari Produk yang memberikan sedikit keuntungan.
  • Hindari produk yang Anda sendiri tidak paham.
  • Hindari produk yang produksinya butuh waktu lama.
  • Hindari produk yang belum dikenal masyarakat.
  • Jangan menjual produk ilegal.

PERTANYAAN KAJIAN DAN DISKUSI

 

http://strategikomunikasi.blogspot.com/2011/12/difusi-inovasi.html

http://infodantutorial.blogspot.com/2012/04/pengertiandefinisiarti-inovasi-menurut.html

http://www.smakristencilacap.com/id/arti-pemasaran-dan-manajemen-pemasaran/siklus-hidup-produk-product-life-cycle/

 http://physicsmaster.orgfree.com/Artikel%20Ilmiah%2013.html

http://asmatrch.wordpress.com/2013/06/08/yang-memilih-produk-bukan-anda-tapi-pembeli/

PENGARUH BUDYA DALAM PERILAKU KONSUMEN

PENGARUH BUDYA DALAM PERILAKU KONSUMEN

[Terlepas dari kepercayaan agama, suku, dan ras manapun. Ini merupakan artikel ilmu pengetahuan tentang binatang babi. Baik buruknya pembaca yang menilai dan ambilah ilmu positif dari artikel ini. Pro dan kontra itu hal biasa dalam kehidupan]

DEFINISI

Budaya adalah suatu kebiasaan individu atau kelompok masa lampau yang  sampai sekarang masih dilakukan. Budaya yang kuat biasanya akan terus bertahan sampai beberapa keturunan selanjutnya. Banyak faktor yang membuat budaya tersebut terus bertahan dan masih dilakukan oleh masyarakat. Di zaman modern seperti ini sangatlah sulit untuk mempertahankan budaya asli yang akan diterusakan oleh generasi muda selanjutnya.

MITOS DAN RITUAL KEBUDAYAAN

Mitos merupakan kepercayaan seseorang atau kelompok tentang hal-hal yang belum terbukti kebenarannya. Mitos ini sangat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat seseorang dalam bergaul yang luas. Bisa dikatakan mitos ini dapat membatasi kegiatan-kegiatan yang menurut mereka tabu dan dilarang oleh adat budayanya. Tidak sedikit dari mereka yang sudah tidak mempercayai mitos-mitos yang ada dikebudayaannya. Mereka berdalil mitos tersebut hanya sugesti dari orang-orang yang terdahulu. Era semakin modern, banyak orang-orang yang lebih berpendidikan dalam melihat sesuatu dikehidupan ini.

Adakah sisi positif dari mitos?

Tidak semua mitos memiliki sisi negatif. Mitos zaman dahulu bertujuan untuk mendidik anak-anak supaya tidak melakukan hal-hal yang “kurang baik” atau bisa mengancam keselamatan mereka. Hidup teratur dan memegang teguh sopan santun yang ada merupakan salah satu tujuan adanya mitos di masyarakay yang masih memegang teguh kebudayaannya.

Ritual kebudayaan merupakan upacara-upacara yang dilakukan masyarakat yang masih berkaitan dengan kebudayaan tersebut. Ritual ini biasaya dilakukan pada hari-hari besar bagi mereka yang mempercayainya. Ritual dilakukan bisa seminggu sekali/sebulan sekali/setahun sekali dan sebagainya. Contohya ritual kebudayaan memanggil hujan pada musim kemarau yang panjang.

BUDAYA DAN KONSUMSI

Budaya dan konsumsi tidak bisa dipisahkan. Dimana budaya itu sendiri pasti membutuhkan konsumsi yang tidak sedikit. Contoh yang sangat ril adalah pada saat hari raya umat islam (Idul Fitri) banyak masyarakat yang membutuhkan daging sapi dari pada daging ayam. Budaya memasak daging sapi ini sangat mempengaruhi pemikiran masyarakat luas. Memasak daging sapi bisa dikatakan sebagai status sosial yang ada di masyarakat yang menyebabkan impor daging sapi sangat tinggi permintaanya.

STRATEGI PEMASARAN DENGAN MEMPERHATIKAN BUDAYA

Strategi pemasaran dalam memperoleh pasar yang luas salah satunya dengan memperhaatikan budaya masyarakat sekitar. Dengan memperhatikan budaya maka sasaran pasar akan terbuka peluang untuk dapat menguasainya. Contoh strategi pasar dibidamg pakaian, budaya orang Afrika dan Timur Tengah adalah sangat menyukai pakaian besar seperti jubah dan lebih memilih warna yang gelap seperti ungu, coklat, hitam, dan sebagainya. Lain halnya dengan Asia Timur yang lebih menyukai pakaian dengan warna yang lebih lembut dan cerah. Jadi, budaya sangat berpengaruh bagi pelaku ekonomi karena dapat menimbulkan permintaan dari berbagai segi untuk memenuhi kehidupannya.

TINJAUAN SUB-BUDAYA DAN DEMOGRAFI

Adanya sub-budaya disebabkan salah satunya oleh demografi. Demografi meliputi usia, jenis kelamin dan agama. Misalkan seseorang sebelum meyakini agama A masih melakukan ritual-ritual budaya yang ada. Setelah meyakini agama A dengan kata lain maka orang tersebut akan mengurangi ritual-ritual budaya yang ada dengan catatan tidak bertentangan dengan agama yang dia yakini. Bahkan bisa saja seseorang meninggalka adat budaya yang ada.

LINTAS BUDAYA

Di era globalisasi ini budaya tidaklah dikenal dan dipelajari oleh suatu golongan tertentu melainkan dapat dilihat dan dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Berkat adanya teknologi tanpa batas mengakibatkan budaya dapat dipelajari dengan mudahnya. Banyak faktor yang melatarbelakangi  adanya lintas budaya, seperti teknologi, dan zaman penjajahan.

BAURAN PEMASARAN DALAM LINTAS BUDAYA

Era teknologi yang canggih dan dunia tanpa batas dalam menggali informasi yang ada melahirkan bauran pemasaran yang luas mencangkup seluruh budaya yang ada. Zaman sekarang kita bisa merasakan budaya dari seluruh penjuru dunia baik dari segi sandang, pangan, papan, bahasa, dan sebagainya.

PERTANYAAN KAJIAN DAN DISKUSI

Bagaimana konsumsi masyarakat menurut budaya yang ada di sekitar Anda ?

KELAS SOSIAL DAN KELOMPOK STATUS

KELAS SOSIAL DAN KELOMPOK STATUS

PERBEDAAN ANTARA KELAS SOSIAL DAN STATUS SOSIAL

Kelas sosial adalah statifikasi sosial menurut ekonomi (menurut Barger). Ekonomi dalam hal ini cukup luas yaitu meliputi juga sisi pendidikan dan pekerjaan karena pendidikan dan pekerjaan seseorang pada zaman sekarang sangat mempengaruhi kekayaan atau perekonomian individu.

Status sosial adalah sekmpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya (menurut Ralp Linton). Orang yang memiliki status sosial tinggi akan ditempaatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.

PEMILIKAN

Kepemilikan status sosial di masyarakat sangat di harapkan bagi sebagian besar masyarakat untuk bisa menaikan tingkat kelas sosial yang ada. Tidak dipungkiri bahwa status sosial sangatlah diperlukan individu untuk dapat bergaul di masyarakat luas tanpa merasa rendah kelas sosialnya.

DINAMIKA KELAS SOSIAL

Berbagai bentuk kelompok sosial menjadi bukti betapa urgent manusia berkelompok untuk saling memenuhi kebutuhan hidup. Ada macam-macam latar belakang manusia membentuk kelompok sosialnya. Latar belakang ini juga menentukan bentuk kelompok sosial serta pola dinamika didalamnya. Diantara bentuk kelompok sosial itu seperti Ghemeinschaft dan Gesellschaft. Dua bentuk kelompok sosial yang digagas oleh Ferdinand Tonnies.

Ghemeinschaft adalah bentuk kelompok sosial yang dilandasi kekeluargaan antar anggota yang erat serta hubungan yang intim. Ghemeinschaft sendiri memiliki variabel. Diantara variabel itu seperti ghemeinschaft by blood, by place, by mind. Jika kita observasi, masyarakat disekitar kita adalah contoh real dari tipologi ini. Skalanya bermacam-macam. Tidak hanya yang memiliki lingkup luas, namun juga sempit.

Diawali dengan interaksi antar individu, sebuah kompleks perumahan dimana terdapat banyak kepala keluarga tinggal akan sendirinya membentuk kelompok sosial yang semakin kuat dan intens. Sangat mungkin dari kelompok sosial yang sudah terbentuk tersebut akan membentuk sub-sub kelompok sosial lain atau organisasi yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat.

Dinamika yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat khususnya di dalam kelompok sosial, tergantung bagaimana nilai dan norma sosial serta kontrol sosial di dalam kelompok mampu dipertahankan dan dikendalikan. Setiap kelompok sosial pasti memiliki nilai dan norma yang berlaku. Karena adanya nilai dan norma tersebut maka dibutuhkan kontrol terhadap pelaksanaannya.

Meski individu anggota dikendalikan oleh kelompok beserta nilai dan norma didalamnya, namun kelompok sosial pada dasarnya juga merupakan bagian dari kelompok sosial lain yang lebih besar yaitu Negara. Negara, kaitannya dengan pengendalian konflik dan hak berserikat, menjadi pihak paling berpengaruh dalam melakukan kontrol dan pencegahan terjadinya konflik yang tidak diinginkan. Pengendalian konflik harus didasari landasan hukum atau regulasi yang disepakati oleh setiap masyarakat. Dengan adanya landasan yang kuat dan disepakati, Negara memiliki pedoman serta kekuasaan yang menjadi senjata baik dalam melakukan tindakan preventif maupun represif.

Selain perjuangan kepentingan untuk mempertahankan eksistensi kelompok kepentingan, delegasi yang menjadi utusan juga mendapat keuntungan besar untuk menjual dirinya kepada siapa saja yang suaranya ingin didengar di rapat – rapat penyusunan kebijakan dan membuatnya mampu bertahan sebagai pejabat pemerintahan dalam waktu yang lama. Transaksi politik seperti ini tidak selamanya merupakan sesuatu yang dianggap kotor. Semua proses ini merupakan proses penyusunan kebijakan yang harus dilakukan dengan cermat. Tidak sembarang orang mampu mengakomodir berbagai perbedaan kelompok yang dibawa di meja sidang. Perdebatan dalam proses penyusunan merupakan keharusan. Konsekuensi suatu negara yang plural dan demokratis adalah adanya keadilan sosial dan kesamaan hak yang merata.

Pertikaian tidak akan pernah habis selama perbedaan dan stratifikasi sosial masih ada. Menurut Karl Marx, masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang tak lagi memiliki kelas-kelas yang menjadi penyebab terjadinya pertentangan sosial sehingga memungkinakan untuk tidak ada lagi pertentangan antar kelas. Secara pribadi saya katakan bahwa hal tersebut tidak mungkin dapat terjadi. Kelas – kelas sosial merupakan bagian dari keniscayaan yang ada dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan memiliki perbedaan didalamnya. Mengharapkan keadaan ideal yang utopis bukanlah idealisme yang salah, namun kita harus sadari dinamika dalam realita yang ada. Perubahan adalah hal yang pasti, perubahan menuju kesempurnaan tidak akan pernah berhenti.

SOCIAL MOBILITY DAN KONSEKUENSINYA TERHADAP MARKET

Mobilitas social adalah suatu gerakan dalm struktur social yaitu pola-pola tertentu yang mengaur organisasi suatu kelompok social.

Tipe gerak social yaitu:

  1. Gerak social vertika. Gerak social vertikak merupakan suatu perpindahan individu atau objek dari suatu kedudukan social ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat.

Gerak social vertical sesuai dengan aranhnya dibedakan menjadi dua lagi:

  1. Gerak social vertical naik. Terdapat dua bentuk utama yaitu:
  • Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi.
  • Pembentukan suatu kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok tersebut.
  1. Gerak social vertical turun. Terdapat dua bentuk utama diantaranya:
  • Turunya kedudukan individu  ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya.
  • Turunya derajat kelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai suatu kesatuan.
  1. Gerak social horizontal. Gerak social merupakan suatu perpindaha individu atau objek social dari suatu kedudukan social ke kedudukan lainya yang sederajat.

KLASIFIKASI GEODEMOGRAFI DAN MANFAATNYA BAGI PEMASAR

Terdapat tiga karakteristik konsumen yang secara independen atau bersama-sama mempengaruhi konsumsi seseorang dan bagaimana mereka merespon komunikasi pemasaran, yaitu: karakteristik demografi, psikografi, dan geodemografi.

Geodemografi merupakan sebuah kombinasi dari karakteristik demografi dan gaya hidup konsumen dalam kelompok (cluster) geografis. Penetapan sasaran berdasarkan geodemografis: dasar pemikiran yang menjadi landasan geodemographic targeting adalah bahwa orang-orang yang menetap di daerah atau tempat yang sama, misalkan bertetangga atau dalam satu kawasan kode area, memiliki persamaan dalam demografi dan gaya hidup. Sehingga dengan mengetahui dimana orang-orang menetap, pemasar dapat memperoleh informasi mengenai marketplace behavior mereka secara umum.

PEMASARAN UNTUK PANGSA KELAS SOASIAL

  1. Penentuan pangsa pasar

Kelas sosial kerap diterapkan pada masalah penentuan pangsa pasar, proses mendefinisikan kelompok pelanggan yang homogeny dan membuat tawaran uang kuat secara khusus untuk mereka. Prosedur untuk pemangsaan pasar mencakupi langkah-langkah berikut:

  • Identifikasi pemakaian kelas sosial dari produk
  • Perbandingan variable kelas sosial untuk pemangsaan dengan variable lain (pendapatan, siklus hidup, dsb.)
  • Deskripsi karakteristik kelas sosial yang diidentifikasi didalam target pasar.
  • Perkembangan program pemasaran untuk memaksimumkan efektifitas bauran pemasaran yang didasarkan pada konsistensi dengan sifat kelas sosial.
  1. Pengenalan kebutuhan dan kriteria evaluasi. Sebagai seorang pamasar, sebelum melakukan proses promosi harus menyiapkan berbagai macam persiapan, didalam kasus ini persiapan yang harus kita lakukan adalah menggali informasi tentang kebutuhan dari pangsa pasar kelas sosial dengan melakukan setidaknya observasi tehadap pangsa pasar kelas sosial.
  1. Proses pencarian. Perbedaan kelas sosial membedakan pula pola informasi tentang suatu produk yang didapat oleh masing-masing individu, kelas bawah yang berada didaerah lebih terpencil akan susah mendapatkan informasi tentang suatu barang yang beredar dipasaran sedangkan orang kelas menengah keatas lebih mudah mendapatkan informasi tersebut.

PENGENALAN KEBUTUHAN DAN KRITERIA EVALUASI

Gambarkanlah proses pengenalan kebutuhan yang terjadi sebelum anda membeli minuman kaleng ringan anda yang terakhir. Bagaimana perbedaannya dengan proses yang mendahului pembelian sepasang sepatu karet yang baru? Jika ada, peran apa yang dimainkan iklan dalam pengenalan kebutuhan anda?

Pengenalan kebutuhan yang terjadi pada kasus ini adalah ketika saya sebagai konsumen penikmat minuman kaleng tersebut. Minuman kaleng sangat praktis dibawa kemana saja dan terdapat dimana saja. Misalnya Fanta dengan bermacam – macam rasa sering dikonsumsi oleh para konsumen karena mudah dibawa. Rasa yang disediakan adalah rasa yang memberikan kesegaran jika diminum dingin. Misalnya rasa strawberry, apel, dan anggur. Pengenalan kebutuhan minuman kaleng fanta terjadi pada saat orang-orang mulai malas membawa minuman sendiri dari rumahnya. Selain itu, minuman kaleng tidak tumpah dan dapat tahan dingin lebih lama dibanding minuman botol plastik. Fanta sudah banyak dikenal konsumen lewat media televisi dengan memberikan visual gambar yang menarik. Saya mulai melihat dan mencoba minuman kaleng tersebut ketika iklan beredar di televisi.

Menurut Hasan (1988) evaluasi program semula merupakan evaluasi kurikulum. Karena itu cenderung tidak membedakan evaluasi program dengan evaluasi kurikulum. Sehubungan dengan pendapat tersebut, akan diuraikan hal-hal yang berhubungan dengan kriteria dalam mengadakan evaluasi.

Evaluasi harus berhubungan dengan kriteria. Dasar pemikiran tersebut, dengan criteria evaluator dapat memberikan pertimbangan nilai, harga, dan komponen-komponen program yang perlu penyempurnaan serta yang telah memenuhi persyaratan. Evaluator tanpa kriteria sama dengan bekerja dalam kegelapan. Tnpa adanya kriteria pertimbangan yang diberikan adalah tanpa dasar.

Kriteria evaluasi dikembangkan melalui model-model evaluasi yang digunakan. Empat kelompok pengembangan yang dapat dilakukan, yakni: “Pre-ordinate, fiedelity, Matual-adaptive, dan process”.

Pendekatan “Pre-ordinate” memiliki dua karakteristik; pertama kriteria ditetaokan sebelum pelaksanaan evaluasi. kriteria ini bersifat mengikat karena ditetapkan sebelum evaluator turun turun ke lapangan. Karekteristik kedua, kriteria yang dikembangkan bersumber pada standar tertentu. Seperti yang bersumber pada pandangan teoritik atau kumpulan tradisi yang sudah dianggap baik.

Pendekatan “Fidelity” pada dasarnya ada kesamaan prinsip dengan kedekatan “Pre-ordinate” yakni kriteria yang dikembangkan sebelum evaluator turun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Perbedaaan prinsipil pada keduanya yaitu pada hakekat evalusi yang digunakan. Pendekatan Fidently tidak menggunakan criteria yang bersifat umum ( universal ) sebagaimana tuntutan pendekatan Pre-Ordinate.

Pendekatan ke tiga dikenal dengan istilah pendekatan gabungan mutual-adaptive. Pendekatan ini merupakan perpaduan antara pendekatan “Pre-Ordinate, Fidently, Process “ kriteria yang di gunakan dikembangkan dari karakteristis program dari luar, seperti berdasarkan pandangan secara teori, dari para pelaksana, dan dari pemakai program.

Kriteria dalam evaluasi ini mengacu pada :

  • Pedoman – pedoman tentang program pendidikan jasmani yang berlaku.
  • Persepsi para pengembang program yang teruji secara teoritis.
  • Pertimbangan evaluator.

PROSES PENCARIAN

Proses pencarian. Perbedaan kelas sosial membedakan pula pola informasi tentang suatu produk yang didapat oleh masing-masing individu, kelas bawah yang berada didaerah lebih terpencil akan susah mendapatkan informasi tentang suatu barang yang beredar dipasaran sedangkan orang kelas menengah keatas lebih mudah mendapatkan informasi tersebut.

BAHASA SOSIAL

“Bahasa” yang dapat diterima ke semua kalangan sosial baik kelas sosal atau pun status sosial yang ada di masyarakat.

Menurut saya, bahasa disini adalah tata cara komunikasi dengan elemen-elemen yang ada di kelas dan status sosial tersebut.

PROSES PEMBELIAN

Dalam proses pembelian, konsumen akan melalui sebuah proses, yaitu :

  1. Menganalisa keinginan dan kebutuhan
  2. Menilai beberapa sumber
  3. Menetapkan tujuan pembelian
  4. Mengidentifikasi alternative pembelian
  5. Mengambil keputusan untuk membeli
  6. Perilaku sesudah pembelian

Berikut adalah tahapan-tahapan pembelian sebagai berikut :

  • Tahap pertama adalah Kesadaran akan kebutuhan suatu dan ketersediaannya. Seorang konsumen harus tahu bahwa ada kebutuhan atau ada kesempatan yang dapat dilakukan bila dia membeli barang tertentu dan barang tertentu tersebut tersedia di pasar.
  • Tahap kedua, seorang Konsumen akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang produk yang akan dibelinya. Konsumen akan mencari informasi suatu produk tentang fitur-fiturnya, harganya, penjualannya, dan juga jaminan dari perusahaan.
  • Tahap ketiga, maka seorang Konsumen akan merasa suka dan butuh terhadap produk itu secara umum.
  • Tahap keempat adalah preferensi. “Kenapa saya harus membeli produk merk A, bukan merk B. Kenapa saya harus membeli tipe yang seharga ini bukan seharga itu.” Ini adalah preferensi. Konsumen akan mencocokkan produknya disesuaikan dengan kesukaannya, seleranya, budgetnya dan lainnya. Di tahapan ini konsumen sudah mulai mengerucutkan pada apa yang lebih disukai dibandingkan yang lain.
  • Tahap kelima adalah membuat keyakinan atau konfirmasi. Setelah konsumen mengerucutkan pada beberapa pilihan, dia akan tambah mantap setelah mendengar penjelasan yang baik dari penjual / salesman dan memutuskan untuk membeli
  • Tahapan yang terakhir, keenam, akhirnya konsumen tersebut akan merasa puas atas hasil pembelian yang telah dilakukannya, dan setiap konsumen akan berbeda.

METODE PENELITIAN PEMASARAN UNTUK MENGUKUR KELAS SOSIAL

Metode penelitian kelas social terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Metode teoritis dan keabsahan. Metode reputasi melibatkan pengajuan kepada orang-orang untuk menentukan peringkat posisi atau presitse orang lain.

Metode reputasi dikembangkan oleh Lloyd warner, salah satu pelopor didalam studi kelas social di Amerika Serikat. Selanjutnya diperluas Burleigh Gardner dan rekan-rekannya di Deep South dan di Midwest oleh Hollingshead, studi-studi ini juga mencakupi sosiasi atau ukuran sosiometrik yang menghitung jumlah dari sifat kontrak pribadi dari orang didalam hubungan mereka yang informal.

Penelitian toeritis memberikan suatu arus data empiris dan konsep yang pokok bagi upaya kita yang sekarnag menghubungkan kelas social dengan konsumsi.

Metode penelitian pemasaran. Para peneliti pemasaran mengukur kelas social dengan variable bebas untuk menentukan hubungannya denga variable terkait dariminat akan pemasaran. Metode objektifmemberikan status berdasarkan responden yang memiliki semacam nilai dari variable yang distratifikasikan. Variable yang paling sering digunakan adalah pekerjaan, pendapatan, pendidikan, ukuran dan jenis tempat tinggal, pemilik barang,  dan afiliasi organisasi. Metode objektif dapat dibagi ke dalam metode yang berindeks tunggal dengan mengutamakan pekerjaan sebagi indikator tunggal terhadap pemilihan kelas sosial dan metode yuang berindeks ganda dimana dalam memntukan kedudukan sosial seseorang didasarkan dari berbagai macam variable yang sudah disebut diatas.

  1. Metode subjektif atau pelaporan diri meminta responden untuk menilai diri sendiri berdasarkan kelas sosial. Metode seperti ini, walaupun digunakan sekali-sekali, memiliki nilai terbatas bagi para nalis konsumen karena dua alasan:
    1. Responden cenderung menilai terlalu tinggi kedudukan sosialnya sendiri
    2. Responden menjauhi istilah konotatid dari kelas atas dan bawah dan selanjutnya membesar-besarkan ukuran kelas menengah.

PERTANYAAN KAJIAN DAN DISKUSI

Pandangan Anda tentang status sosial yang ada di masyarakat Indonesia ?

SUMBER:

http://alfathoriq.blogspot.com/2012/10/perilaku-konsumen.html

http://sepriblog.blogspot.com/2011/05/kriteria-evaluasi.html

http://princessgarani.blogspot.com/2010/11/gambarkanlah-proses-pengenalan.html

http://alfathoriq.blogspot.com/2012/10/perilaku-konsumen.html

http://koreanandbieberlovers.blogspot.com/2012/03/dinamika-kelompok-dan-kelas-sosial.html

http://israyuda.wordpress.com/2013/07/20/dinamika-kelompok-sosial/

http://odyrogents.wordpress.com/arti-definisipengertian-status-sosial-kelas-sosial-stratifikasidiferensiasi-dalam-masyarakat/

http://bimantoro-niknok.blogspot.com/2009/12/klasifikasi-geodemografis-dan.html

http://babymonkey-khayratul.blogspot.com/2013/11/proses-pembelian.html